-->

Sejarah Perkembangan Ilmu Akhlak


1.      Akhlak pada Bangsa Yunani
Pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Akhlak pada bangsa Yunani baru terjadi setelah munculnya apa yang disebut Phisticians, yaitu orang-orang yang bijaksana. Sedangkan sebelum itu dikalangan bangsa Yunani tidak di jumpai pembicaraan mengenai akhlak, karena pada masa itu perhatian meraka tercurah pada penyelidikan nya mengenai alam.
Dasar yang digunakan para pemikir Yunani dalam membangun ilmu akhlak adalah pemikiran filsafat tentang manusia sehingga hasil yang di dapatnya adalah ilmu akhlak yang berdasar pada logika murni. Hal ini tidak sepenuhnya salah, karena manusia secara fitrah telah dibekali potensi bertuhan, beragama dan cenderung kepada kebaikan, disamping juga memiliki kecendrungan kepada keburukan, dan ingkar kepada Tuhan.
Filosof Yunani yang pertama kali mengemukakan pemikiran di bidang akhlak adalah Socrates dia berpendapat bahwa akhlak dan bentuk pola hubungan itu tidak akan menjadi benar, kecuali bila didasarkan pada ilmu pengetahuan, sehingga ia berpandapat bahwa  keutamaan adalah ilmu.
Selanjutnya datanglah Plato. Ia seorang ahli filsafat Athena dan murid dari Socrates padangannya dalam bidang akhlak berdasarkan pada teori contoh. Menurutnya bahwa apa yang terdapat pada yang lahiriah ini sebenarnya telah ada contohnya terlebih dahulu, sehingga yang tampak ini hanya merupakan bayangan atau fotocopy dari contoh yang tidak tampak (alam rohani atau alam idea). Teori ini selanjutnya digunakan Plato dalam menjelaskan masalah akhlak.
Setelah Plato, datang pula Aristoteles. Sebagai seorang murid Plato, Aristoteles berupaya membangun suatu yang khas, dan para pengikutnya disebut sebagai kaum Peripatisc. Ia berpendapat bahwa tujuan akhir yang di kehendaki oleh manusia dari apa yang dilakukannya adalah bahagia atau kebahagiaan. Jalan untuk menapai kebahagiaan ini adalah dengan mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya. Dan masih banyak lagi pemikir akhlak di zaman Yunani.
Keseluruhan pelajaran akhlak yang dikemukakan para pemikir Yunani tersebut tampak bersifat rasionalistik. Penentuan baik dan buruk didasarkan pada pendapat akal pikiran yang sehat dari manusia. Karenanya disebutkan bahwa ajaran akhlak yang dikemukakan para pemikir yunani bersifat anthropocentris (memusat pada manusia). Penadapat yang demikian itu dapat saja diikuti sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan al-Sunnah

2.      Akhlak pada Agama Nasrani
Pada akhir abad ketiga Masehi Agama Nasrani berhasil mempengaruhi pemikiran manusia dan membawa pokok-pokok ajaran akhlak dalam Kitab Taurat dan Injil. Menurut agama ini bahwa Tuhan adalah sumber akhlak. Tuhanlah yang menentukan dan membentuk patokan-patokan akhlak yang harus dipelihara dan dilaksanakan dalam kehidupa masyarakat. Dengan demikian ajaran akhlak pada Agama Nasrani ini tampak bersifat teo-centri (memusat pada tuhan) dan sufistik (bercorak batin).
Menurut ahli-ahli filsafat Yunani bahwa pendorong untuk melakukan perbuatan baik ialah pengetahuan dan kebijaksanaan, sedangkan menurut Agama Nasrani bahwa pendorong berbuat kebaikan ialah cinta dan imam kepada Tuhan berdasarkan petunjuk Kitab Taurat. Selain itu Agama Nasrani menghendaki agar manusia berusaha sungguh-sungguh mensucikan roh yang terdapat pada dirinya dari perbuatan dosa, baik dalam bentuk pemikiran maupun perbuatan. Akibat dari paham akhlak yang demikian itu, kebanyakan para pengikut pertama dari agama ini suka menyiksa dirinya, menjauhi dunia yang fana, beribadah, zuhud dan hidup menyendiri.

3.      Akhlak pada Bangsa romawi (Abad Pertengahan)
Kehidupan bangsa Eropa pada abad pertengahan dikuasai oleh gereja. Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan “hakikat” telah diterima dari wahyu. Apa yang diperintahkan oleh wahyu tentu benar adanya. Oleh karena itu tidak ada artinya lagi penggunaan akal pemikiran untuk penelitian. Mempergunakan filsafat boleh saja asalkan tidak bertentangan dengan doktrin yang dikeluarkan oleh gereja. Namun demikian sebagian dari kalangan gereja ada yang mempergunakan pemikiran Plato, Aristoteles, Stoics untuk memperkuat ajaran gereja.
Dengan demikian ajaran akhlak yang lahir di Eropa pada abad pertengahan itu adalah ajaran akhlak yang dibangun dengan perpaduan antara ajaran Yunani dan ajaran Nasrani. Corak ajaran yang sifatnya perpaduan antara pemikiran filsafat Yunani dan ajaran agama itu, nantinya akan dapat pula dijumpai dalam ajaran akhlak yang terdapat dalam Islam.

4.      Akhlak pada Bangsa Arab
Bangsa Arab pada masa Jahiliyah tidak memiliki ahli-ahli filsafat yang mengajak pada paham tertentu seperti bangsa Yunani dan Romawi. Pada masa itu bangsa Arab hanya mempunyai ahli hikmah dan ahli syair. Di dalam kata-kata hikmah dan syair tersebut dapat dijumpai ajaran yang memerintahkan agar berbuat baik dan menjauhi keburukan, mendorong pada perbuatan yang utama dan menjauhi dari perbuatan yang tercela dan hina. Hal yang demikian misalnya terlihat pada kata-kata hikmah yang dikemukakan Luqmanul Hakim, Aktsam bin Shaifi, dan pada syair-syair yang dikarang oleh Zuhair bin Abi Sulman dan Hakim al-Thai.

Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia. Agama Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah pencipta, pemelihara, pemberi rahmat, pelindung terhadap apa yang ada di dunia ini. 
Selain itu, agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Hukum-hukum Islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang akidah, pokok-pokok akhlak dan perbuatan yang baik.

بَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَإِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS . An-Nahl, 16:90)
Ayat tersebut diatas memberikan petunjuk yang jelas bahwa Al-Quran sangat memperhatikan masalah pembinaan akhlak, dan menunjukan perbuatan-perbuatan yang merupakan akhlak mulia seperti berbuat kebajikan, memberi makan kaum kerabat dan lain-lain yang disebutkan di ayat lain baik yang berhubungan dengan ibadah, diri sendiri, hubungan sosial, dan lain-lain. Apa yang diperintahkan Allah tersebut kemudian dilaksanakan oleh manusia yang akibatnya tentu untuk manusia itu sendiri. Orang yang melakukan perbuatan baik tentu akan mendapat keuntungan yang lebih baik di dunia dan di akhirat.
Selain berisi perintah, Al-Quran juga mengandung larangan seperti larangan syirik, berjudi, minum khamr, berzina, menggunjing, sumpah palsu dll. Misalnya dalam ayat berikut:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya" ( QS. Al-Baqarah, 2:219)
Ayat diatas menunjukan dari sebagian perbuatan yang dilarang Allah yai tu meminum minuman keras, berjudi. Perbuatan tersebut diakui mengandung kenikmatan, kelezatan tetapi bahaya yang ditimbulkan jauh lebih besar dari manfaatnya.
Sangatlah jelas bahwa dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang mengandung pokok-pokok akidah kegamaan, keutamaan akhlak dan prinsip-prinsip dan tata nilai perbuatan manusia. Ayat-ayat diatas juga menunjukan dengan jelas bahwa ajaran akhlak dalam Islam dengan sumbernya Al-Quran sangat lengkap, jelas, dan mendalam.
Mengenai pembinaan akhlak dapat dijelaskan pendapat Ath-Thabatabi sebagai berikut;
Pertama, menurut petunjuk al-Qur’an dalam hidupnya manusia hanya menuju kepada kebahagiaan, ketenangan dan pencapaian cita-citanya.
Kedua, perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia senantiasa berada dalam suatu kerangka peraturan dan hukum tertentu. Hal ini merupakan kebenaran yang tidak dapat diingkari. Hal itu disebabkan karena manusia yang mempunyai akal hanya melakukan sesuatu setelah ia menghendakinya. Perbuatan itu sesuai kehendak jiwa yang diketahuinya secara jelas.
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan.” (QS Al-Baqarah, 2:148)
Ketiga, jalan hidup terbaik dan terkuat manusia adalah jalan hidup berdasarkan fitrah, bukan berdasarkan emosi dan dorongan hawa nafsu.
Sejalan dengan lahirnya para pemikir dan filosof Islam yang berkembang dengan pengaruh filsafat Yunani di zaman daulat Bani Abbasiyah,akhlak dalam Islam diwarnai dengan corak yang bersifat falsafi dan rasionalistik. Seperti yang terdapat dalam ajaran Muktazilah.
Dengan demikian akhlak dalam Islam memiliki dua corak. Pertama, akhlak yang bercorak normatif, yang bersumber dari al-Quran dan al-Sunnah.akhlak model ini bersifat universal, mutlak dan absolut. Kedua, akhlak yang bercorak rasional dan kultural yang didasarkan pada pemikiran akal sehat seta adat istiadat dan kebudayaan yang berkembang. Akhlak model ini bersifat relatif, nisbi, dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Pada abad pertengahan ke-15 mulailah ahli-ahli pengetahuan menghidup suburkan filsafat Yunani kuno. Itali juga kemudian berkembang di seluruh Eropa. Kehidupan mereka yang semula terikat pada dogma kristiani, khayal dan mitos mulai digeser dengan memberikan peran yang lebih besar kepada kemampuan akal pikiran.
Di antara masalah yang mereka kritik dan dilakukan pembaharuan adalah masalah akhlak.  Akhlak yang mereka bangun didasarkan pada penyelidikan menurut kenyataan empiris dan tidak mengikuti gambaran-gambaran khayalan, dan hendak melahirkan kekuatan yang ada pada manusia, dihubungkan dengan praktek hidup di dunia ini. Pandangan baru ini menghasilkan perubahan dalam menilai keutamaan-keutamaan kedermawanan umpamanya tidak mempunyai lagi nilai yang tinggi sebagaimana pada abad-abad pertengahan, dan keadilan sosial menjadi di perolehnya pada masa yang lampau. Selanjutnya pandangan akhlak mereka diarahkan pada perbaikan yang bertujuan agar mereka menjadi anggota masyarakat yang mandiri.
Ahli filsafat Perancis yaitu Desrates (1596-1650 M), termasuk pendiri filsafat baru dalam Ilmu Pengetahuan dan Filsafat. Ia telah menciptakan dasar-dasar baru, diantaranya:
1.        Tidak menerima sesuatu yang belum diperiksa oleh akal dan nyata adanya. Dan apa yang didasarkan kepada sangkaan dan apa yang tumbuhnya dari adat kebiasaan saja, wajib di tolak.
2.        Di dalam penyelidikan harus kita mulai dari yang sekecil-kecilnya yang semudah-mudahnya, lalu meningkat kearah yang lebih banyak susunannya dan lebih dekat pengertiannya, sehingga tercapai tujuan kita.
3.        Wajib bagi kita jangan menetapkan sesuatu hokum akan kebenaran sesuatu soal, sehingga menyatakannya dengan ujian. Descartes dan pengikut-pengikutnya suka kepada paham Stoics, dan selalu mempertinggi mutu pelajarannya sedang Gassendi dan Hobbes dan pengikutnya suka kepada paham Epicurus dan giat menyiarkan aliran pahamnya.

Kemudian lahir pula Bentham (1748-1832) dan John Stoart Mill (1806-1873). Keduanya berpindah paham dari faham Epicurus ke faham Utilitarianim.
Pemikir akhlak yang selanjutnya dapat dijumpai pada Immanuel Kant. Pemikiran akhlak yang dikemukakan Immanuel Kant juga bersifat anthropocentris (memusat pada kemampuan dan potensi manusia). Ia berpendapat bahwa kriteria perbuatan akhlak adalah perasaan kewajiban intuitif.
Pokok bahasan mengenai intuisi diklasifikasikan menjadi empat:
1.        Intuisi mencari hakikat atau mencari ilmu pengetahuan. Dengan intuisi ini banyak manusia yang menghabiskan umurnya untuk mengabdikan diri kepada pengembangan ilm pengetahuan.
2.        Intuisi etika dan akhlak, yakni cenderung kepada kebaikan sebagaimana telah diuraikan diatas.
3.        Intuisi estetika, yakni cenderung kepada segala sesuatu yang mendatangkan keindahan.
4.        Intuisi agama, yaitu perasaan meyakini adanya yang menguasai alam dan segala isinya, yakni Tuhan.

Pemikir barat dibidang akhlak selanjutnya adalah Bertrand Russel. Berbeda dengan Kant, Russel menolak adanya intuisi akhlaki dan keindahan esensial suatu perbuatan. Menurut Russel manusia tidak mampu memahami keindahan dan keburukan pada perbuatan. Dia juga menolak keindahan dan keburukan roh. Menurutnya manusia sama sekali tidak mempunyai akal atau roh murni.




Nata, Abudin, Akhlaq Tasawuf, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2012)
Asmaran,As, Pengantar Study Akhlak/ Asmaran As.(Jakarta: PT Raja Grafndo Perda,1994)

Amzah Jl. Sawo Raya No. !8 Jakarta 13220 Imprit Bumi Aksara

0 Response to "Sejarah Perkembangan Ilmu Akhlak"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel