-->

Filsafat Plotinus

BAB II
PEMBAHASAN
A.     Biografi Plotinus
Thales digelari filosof pertama karena ia mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar tentang air. Kira-kira 800 tahun kemudian Plotinus yang mula-mula menyusun pertanyaan tersebut, yang disebut Teori Emanasi. Teori emanasi merupakan teori yang menyatakan bahwa Yang Maha Esa adalah Yang paling awal. Teori Emanasi sangat penting untuk dipelajari karena teori penciptaannya yang juga berpengaruh pada filsafat Islam.
Secara umum ajaran Plotinus  disebut Plotinisme atau neo-Platinisme. Jadi ajaran Plotinus  berkaitan erat dengan ajaran Plato. Platinisme adalah suatu sistem yang teosentris, yaitu Teosentris adalah sebuah pemikiran dimana semua proses dalam kehidupan di muka bumi ini akan kembali kepada Tuhan.
Plotinus  lahir pada tahun 204 M di Mesir, daerah Lycopolis. Pada tahun 232 M, ia pergi ke Alexandria untuk belajar filsafat pada guru Animonius Saccas selama 11 tahun. Pada umur 40 tahun ia pergi ke Roma. Disana ia menjadi pemikir terkenal pada zaman itu. Tahun 270 M ia meninggal di Minturnae, Campania, Italia. Muridnya yang bernama Porphyry mengumpulkan tulisannya yang berjumlah 54 karangan. Karangan dikelompokkan menjadi 6 set (ennead), tiap set berisi 9 karangan. Masing-masing set itu disebut ennead,diantaranya:
1.Ennead pertama berisi tentang masalah etika, kebajikan, kebahagiaan, bentuk-bentuk    kebaikan, kejahatan, dan masalah pencabutan dari kehidupan.
2.Ennead kedua berisi tentang fisik alam semesta, bintang-bintang, potensialitas dan aktualitas, sirkulasi gerakan, kualitas dan bentuk, dan kritik terhadap gnostisisme.
3.Ennead ketiga berisi tentang implikasi filsafat tentang dunia, seperti masalah iman, kuasa Tuhan, kekekalan, waktu, dan tatanan alam.
4.Ennead keempat berisi tentang sifat dan fungsi jiwa.
5.Ennead kelima berisi tentang roh Ketuhanan (alam idea).
6.Ennead keenam berisi tentang free will dan ada yang menjadi realitas.
1.Ajaran Plotinus
2.Metafisika Plotinus
                                  








B.     Pemikiran Filsafat Plotunus
Dalam berbagai hal, Plotinus  memang bersandar pada doktrin-doktrin Plato. Plato menganut realitas idea yang idea tersebut merupakan idea yang umum. Sedangkan pada Plotinus, idea itu partikular. Perbedaan mereka yang pokok ialah pada titik tekan ajaran mereka masing-masing.
1.Sistem metafisika
System metafisika Plotinus  ditandai oleh konsep transendens. Menurut pendapatnya, didalam pikiran terdapat tiga realitas yaitu: The One, The Mind, dan The Soul.
1.The One (Yang Esa) adalah Tuhan yaitu suatu realitas yang tidak mungkin dapat dipahami melalui metode sains dan logika. The Onejuga tidak dapat didekati melalui pengindraan dan tidak dapat dipahami lewat pemikiran logis.
2.Realitas yang kedua yaitu Nous disebut juga mind. Mind adalah gambaran tentang Yang Esa dan didalamnya mengandung idea-idea Plato. Idea-idea itu merupakan bentuk asli objek-objek. Kandungan Nous adalah benar-benar kesatuan. Untuk menghayatinya kita mesti melalui permenungan.
3.The Soul yaitu realitas ketiga dalam filsafat Plotinus . Soul itu mengandung satu jiwa dunia dan banyak dunia kecil. Jiwa dunia dapat dilihat dalam dua aspek, yaitu energi dibelakang dunia dan pada waktu yang sama ia adalah bentuk-bentuk alam semesta. Jiwa manusia juga mempunyai dua aspek, yaitu intelek yang tunduk pada reinkarnasi dan irrasional.
Teori tentang tiga realitas ini mengingatkan kita pada teologi Tritinas yang dianut oleh Kristen, tampak sekali banyak persamaannya. Teologi Tritinas itu pada masa Plotinus  memang sedang dalam perumusannya.
Pusat doktrin tentang tuhan dalam agama Kristen adalah Tuhan berada didalam Tiga Pribadi, yaitu Bapak, Anak dan Roh Kudus. Akan tetapi, pada waktu yang sama Gereja Kristen menyatakan bahwa Tuhan itu Esa dalam substansinya (zat). Hal itu merupakan misteri yang berada diatas pemahaman akal logis manusia. Orang Kristen mengaggap Esa dalam Tiga Pribadi itu bukanlah suatu konsep yang berlawanan dengan akal logis, melainkan suatu konsep yang tidak dapat dipahami dengan akal logis.
Dalam ajaran Plotinus , jiwa tidak bergantung pada materi, atau dengan kata lain jiwa aktif dan materi bersifat pasif. Oleh karena itu jiwa merupakan esensi tubuh material. Tubuh dengan segala keterbatasannya ini berisi prinsip-prinsip ketiadaan dan penuh kejahatan. Ia mempunyai jarak yang jauh dari yang Maha Esa. Meskipun Plotinus  berpendapat demikian bukan lantas mengabaikan jasad seperti orang-orang gnostik. Tentang penciptaan, Plotinus  berpendapat bahwa Yang Paling Awal merupakan Sebab yang Pertama. Disini mulailah Plotinus  memulai teori emanasinya yang belum pernah diajukan oleh filosof lainnya. Tujuan dari teori ini untuk meniadakan anggapan keberadaan Tuhan sebanyak makhlukNya.
Alam ini diciptakan melalui proses emanasi yang berlangsung tidak dalam waktu. Sebab ruang dan waktu terletak pada tingkat terbawah dari emanasi, ruang dan waktu adalah pengertian dalam dunia yang lahir. Dalam emanasi The One (Yang Esa) tidak mengalami perubahan. Yang Esa adalah semuanya, tetapi tidak mengandung di dalamnya satu pun dari barang yang banyak (makhluk). Dasar makhluk tidak mungkin kalau makhluk itu sendiri, akan tetapi Yang Esalah yang menjadi dasar semua makhluk. Di dalam filsafat klasik Yang Esa itu dikatakan sebagai penggerak yang pertama (al-muharrik al-awwal), yang berakibat Yang Esa didiskripsikan berada di luar alam nyata. Dalam emanasi Plotinus  alam ini terjadi dari Yang Melimpah, yang mengalir itu tetap menjadi bagian Yang Melimpah. Sehingga dapat disimpulkan dari teori Plotinus  bahwa alam berada dalam Tuhan. Hubungannya sama dengan hubungan suatu benda dengan bayangannya. Makin jauh yang mengalir dari Yang Asal, maka makin tidak sempurna ia. Alam ini merupakan bayangan yang asal akan tetapi tidak sempurna seperti halnya Yang Asal.
Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa corak filsafat Plotinus  berkisar pada konsep Yang Satu. Artinya, semua yang ada bersumber dan akan kembali kepada Yang Satu. Oleh karenanya dalam realitas seluruhnya terdapat dua gerakan, yaitu:
1.      Dari atas ke bawah.
Teori yang pertama ini dapat digambarkan sebagaimana dalam emanasi. Pancaran dari Yang Satu memancar menjadi budi (nus). Akal Budi ini sama dengan ide-ide Plato yang dianggap Plotinus  sebagai intelek yang memikirkan dirinya. Jadi akal budi sudah tidak satu lagi. Hal ini karena dalam akal budi terdapat dualisme (pemikiran dan yang difikirkan). Dari akal budi itu muncullah Jiwa Dunia (psykhe). Akhirnya dari jiwa dunia ini mengeluarkan materi (hyle) yang bersama dengan jiwa dunia merupakan jagat raya. Karena materi memiliki tingkatan paling rendah, maka ia berupa makhluk yang paling kurang sempurna dan sumber-sumber kejahatan.
2.      Dari bawah ke atas
Teori kedua ini dapat pula dikatakan dengan kebersatuan dengan Yang Satu. Inilah yang menjadi tujuan dari filsafat yang dikonsep oleh Plotinus. Pada bagian kedua ini jiwa manusia harus memusatkan diri kepada diri sendiri terlebih dahulu, meninggalkan kesenangan obyek-obyek panca indera serta menaikkan alam pemikirannya kepada alam pemikiran ke-Tuhan-nan. Dengan demikian jiwa bisa mencapai alam jiwa-akal Mutlak (spirit-Nous). Fase terakhir dari perjalanan menuju ketuhanan hanya bisa dicapai dengan mistik atau semedi (estatic-mystical experience) yang oleh Plotinus  disebut dengan istilah terbang dari pribadi ke Pribadi (the flight of the alone to Alone) artinya menuju kepada Tuhan. Demikian corak mistik dan agama pemikiran Plotinus . Pemikiran tersebut kemudian oleh St. Agustinus dan Dyonisius ke dalam ajaran agama Masehi, dan dengan demikian Plotinus  dianggap sebagai bapak mistik barat.

2.Tentang ilmu
Idea keilmuan tidak begitu maju pada Plotinus, ia menganggap sains lebih rendah dari pada metafisika, metafisika lebih rendah dari pada keimanan. Surga lebih berarti dari pada bumi sebab surga itu tempat peristirahatan jiwa yang mulia. Bintang-bintang adalah tempat tinggal dewa-dewa. Ia juga mengakui adanya hantu-hantu yang bertempat diantara bumi dan bintang-bintang. Semuanya ini memperlihatkan rendahnya mutu sains Plotinus
Plotinus dapat disebut sebagai musuh naturalisme. Ia membedakan dengan tegas antara tubuh dan jiwa. Jiwa menurutnya tidak bisa diterjemahkan kedalam ukuran badaniah.
3.                  Tentang jiwa
Menurutnya jiwa adalah suatu kekuatan ilahiyah dan merupakan sumber kekekalan. Alam semesta berada dalam satu jiwa dunia. Jiwa tidak dapat dibagi secara kuantitatif karena jiwa adalah sesuatu yang satu. Satu disini dapat diartikan dalam setiap individu terdapat jiwa, sehingga jiwa berjumlah sangat banyak. Dari jiwa dengan jumlah yang sangat banyak tadi, antara jiwa yang satu dan lainnya memiliki kesatuan.
Dalam filsafat Plotinus dikemukakan pula adanya reinkarnasi sebagaimana dalam teori filsafat Plato. Selain itu jiwa telah ada sebelum keberadaan jasmani, sehingga jiwa bersifat kekal. Reinkarnasi ditentukan oleh perilaku manusia pada saat hidupnya dan hanya jiwa yang kotor sajalah yang mengalami reinkarnasi. hal ini dikarenakan jiwa yang bersih dan tidak ada ikatan dengan dunia ia akan bersatu dengan Tuhan. Menurutnya jiwa yang tinggi adalah jiwa yang tidak mengingat apa-apa kecuali Yang Tinggi.jararan Plotinus tentang jiwa adalah dasar teorinya tentang hidup yang praktis dan moral menurut pendapatnya, bendada itu karena tidak terpengaruh oleh yang satu, yang baik, adalah pangakal dari yang jahat.
Juga dalilnya ini menimbukan kesulitan terhadap ajaran pokok Plotinus. Apabila benda dihasilkan oleh jiwa, maka dengan sendirinya timbul pertanyaan: apakah jiwa itu tidak bersalah dalam hal kejahatan benda itu?
Menurut Plotinus jiwa itu tidak lansunngbersalah. Seperti telah diterangkan tadi, jiwa itu mempunyai dua macam hubungan. Keatas dank e bawah. Ke atas ia berhubungan dengan akal, dank arena itu ia adalah “makhluk” yamg berpikir dan menerima dari akal itu idea yang kekal. Kebawah ia berhubungan dengan dunia benda yang diibentuknya menurut idea yang dating dari atas. Oleh karena jiwa melahirka dnia benda yang rendah itu menutut contoh daripada akal, dari atas, ia menjadi sebab bahwa kosmos, alam besaar itu menjadi keseluruhan yang besar sekali dan hidup. Jiwa adalah hubungan dari semuanya , dari segala tigkatan hidup, dari yang paling atas sampai yang paling bawah seperti kosmos, bintang-bintang, syetan, manusia, binatang, tanaman. Semua makhluk tu serupa. Jiwa masing-masing itu ada dalam jiwa dunia. Semua itu sebenarnya tidak lain daripada idea waktu lahir dari akal.
Lahinya  susunan yang bertingkat-tingkatdalam alam, yang naik dari benda yang tidak orgonis sampai kepada manusia dan diatas itu kepada manusia dan diatas itu kepada setan, bintang-bintang, disebabkan jiwa itu menumpahkan tenaganya kepada materi, setelah ternyata benda itu sanngup menerima tenaga hidup dan berapa banyaknya . oleh karena itu di dalam aam ini terdapat alam ala mini berbagai macam makhluk yang mengandung dalamnya banyak atau sedikit daripada tenaga hidup itu. Sebab itu terdapat dunia berbagai macam makhlukyang bertanaga jiwa, disini banyak disana sedikit. Jiwa dunia sendiri utuh tidak terbagi-bagi. Oleh karena tidak tdak terbagi-bagi, jiwa dunia itu ada selama-lamanya. Denagnmelenyapnya jiwa dunia itu kedalam kosmos,seluruh kosmos itu berjiwa dan hidup.oelh karena itu semuanya merasakan pertalian jiwa, terkait satu sama lain.kosmos seluruhnya itu tidak jahat karena karena pengaruh materi yang menjadi baginya.hanya materi, benda itu bisa menjadi dasardaripada kejahatan karena pengaruhnya terhadap penghiuopan manusia.
Sekarang dikemukakan pertanyaan plotunus suatu pertanyaan pokok: apa sebab jiwa-jiwa itu yang pada dasarnya dating dari Tuhan, jadinya “makhluk” yang ideal,melupakan Tuhan dan lupa pula pada diri sendiri ?
Plotinus mejawab: mula kejahatan timbul pada mereka yang menjadi sombong dan dan ingin mencapai tanda kebesaran untuk diri sendiri. Karena jiwa-jiwa itu merasa bangga atas keadaannya berdiri sendiri dan suka memperguakan kesempatan untuk keluar dari jalan hidupnya, menempuh jalan yang sebaliknya, mereka terpisah jauh sekal dari alam asalnya. Tabiat jiwa yang kesasar itu seruoa dengan sikap kanak-kanak , yang dari kecil terpisah dari bapaknya dan hidup serta dibesarkan di Negara lain. Dia itu tiak lagi kenal dengan bapaknya dan dirinya sendiri . karena jiwa-jiwa itu mengagumi dunia dan dan mengtamakan benda, mereka merendahkan harga diri sendiri  dari barang-barang dunia ini. Itulah sebab mereka tidak kenal lagi kepada dunia asal dan tidak sanggup lagi menerima dalam dirinya sifat dan tenaga Tuhan.
Jiwa satu-satunya itu adalah bagian daripada jiwa dunia yang mempunyai ppembawaan untuk bebas bertindak.masuknya jiwa kedalam badan adalah satu kemestian yang tidak dapat dihindarkan, tetapi menjiwai badan itu adalah suatu tindakan bebas daripada jiwa dunia.huum alam umum terasa olehnya suatu dorongan alamiah. Dorongan alamiah inilah yang disebut oleh manusia “kemerdekaan”. Kemerdekaan dan kemestian bukanlah dua hal yang bertentangan dalam pendapat Plotinus. Di sini kelihatan pengaruh pandangan kaum Stoa, tetapi disesuaikan ke dalam rangka mistik Plotinus. Kemerdekaan dan kemestian adalah dua segi dari badan ang satu.
Karena hubungannya dengan benda dan menjiwai badan manusia, jiwa masing-masing manusia itu lupa akan kebesaran nilai dan ketinggian asalnya. Ia terikat kepada benda dan ingatannya kepada yang Satu, Yaang Baik, kepada Tuhan hilang. Sekalipun jiwa manusia tidak dapat melepaskan diri sama sekali dari ikatannya kepada Tuhan, tetapi kerena ia lupa kepada yang baik, ia menjahkan diri kepada Tuhan. Daripada mencari Tuhan ia mencari barang-barang yang diingininya, barang-barang jauh sekali sekali dibaeah derajatnaya. Oleh karena ia terikat kepada barang, ia tidak. Lagi merdeka menurut dorongan alamiah.
Hubungan jiwa dan benda diterangkan oleh Plotinus sebagai berikut. Jiwa yang pada hakikatnya “makhluk” ruhaniah tidak dapa dikurung oleh benda meliputi yang lebih rendah. Yang lebih rendah itu adalah suatu limpahan dari yang lebih tinggi. Hubungan seperti itu terdapat pula pada hubungan jiwa dan badan. Karena itu dalam badan manusia terdapat dua bagian yang berbeda samaa sekali. Pertama,materi yang dilahirkan oeh jiwa dunia menurut kepastian emanasi. kedua cahaya jiwa dunia dalam benda yang sudah ilahirkan jiwa ini yang bercahaya masuk ke dalam badan tidak lain daripada gambaran cahaya daripada baying jiwa dunia yang sebenarnya. keininan, kesedihan, kesenangan dan pemendangan tak lain daripada pengeleman dan pemandangan daripada bayanagn jiwa tadi. Jiwa yang sebenarnya, yang masih rohaniah, tidak menderita sedkit juga denagn “aku”nya yang bersih mausia dapat mencapai yang jauh lebih tinggi daripada materi, mencapai alam rohaniah. Tetapi pada”aku” rohaniyah yang sucu tadi bergantung pula “aku” yang buas, yang menarik,yang tinggi tadi kebawah. Sbaliknya, “aku” rohaniyah yang lebih tinggi tadi menarik yang rendah itu keatas. Pada”aku” rohaniyah yang suci tidak terdapat kesenangan dan beban yang ada pada “aku” yang lebih rendah yang buas.
Denagn jalan begitu Plotinus mengajarkan bahwa dosa dan keburukan, kejahatan dan kebengisan hanya ada pada keadaan dan perbuatan “aku” yang rendah. Tidak ada pada jiwa yang murni.
Bagian jiwa yang murni yang atas terdiri daripada logos dan nus, iran dan akal, yang satu sama lain berhubungan sebagai benda dan bentuk. Logos kerjanya mencari ia senantiasa berpikir, kalau ia meerima cahaya dari nus, dari akal.dari akal diterimanya ide-ide yang kekal.denagn perantaraan logos itu jiwa hanya dapat melakukan tugasnya yang mulia, kembali pada tuhan apabila ia data melenyapkan dirinya dari hidup keduniaan dan mencoba hidup daam alam rohaniah denag jalan begitu ia akan menempu jalan ke atassetingkat demi setingkat dan akhirnya sampai kepada yang SATU, yang baik.
Selama jiwa itu terikat kepada badan, kepada benda, sukar sekali ia mencapai tujuan yang cuci yaitu sama dengan tuhan mengalir kembali keasal yang SATU.
Sesudah mati, apabila jiwa itu leas dari badan, jala keatas itu lebih mudah. Tetapi, apabila jiwa itu benar-benar akan merebut kembali kesenangan hidup dalam alam asal itu, dalam dunia sekarang inilah ia harus melatih diri dengan hidup sederhana dan terus meerus menjauhkan diri dari hidup keduaniaan karena alu jiwa dalam dunia ini terlalu terikat kepada benda, sesudah mati ia belum sanggup lagi melepaskan diri dari kebendaan dan haruslah ia masuk lagi kedalam badan lain. Ia akan hidup kembali sebagai tanaman, sebagai binatang atau manusia menurut tinggi-rendah derajat kedurhakaannya.
4.                  Etika dan Estetika
Etika Plotinus  dimulai dengan pandangannya tentang politik. Yaitu setiap warga Negara dalam dunia politik harus menjalankan tugas-tugasnya sekalipun tidak tidak tertarik di dalamnya. Plotinus  tidak menganggap tinggi kehidupan bertapa, tetapi perenunganlah yang lebih penting. Dan ini bertentangan dengan pengikutnya yaitu Augustinus.
Dalam persoalan ini ia membahas masalah kebebasan berkehendak. Manusia mempunyai kebebasan tetapi tidak dapat dipahami secara lahiriah. Dalam memilih antara yang baik dan yang jahat, kita bebas untuk memilihnya. Dengan demikian, plotinus brpendapat bahwa jiwa itu bebas karena jiwa manusia sebagian dari jiwa ilahi. Artinya, segala perbuatan harus disertai dengan tanggung jawab sebagai konsekuensi kebebasan tersebut. Untuk memperoleh kemampuan memilih yang baik, kita harus digerakkan oleh cinta. Yaitu dalam memilih pilihan yang baik harus disertai rasa suka terhadap pilihan tersebut.
Begitu juga dengan keindahan, ia memiliki pengertian spiritual. Karena itu, estetika dekat dengan kehidupan moral.keindahan menunjukkan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Sempurna. Sesuatu dianggap indah karena ada prinsip yang bekerja di dalamnya, yaitu prinsip kesadaran yang bersatu dengan jiwa.
Konsep keindahan pada Plotinus  berhubungan juga dengan pandangannya tentang kejahatan. Menurut Plotinus , kejahatan tidak mempunyai realitas metafisis. Plotinus berpendapaat bahwa antara keindahan di bumi dan langit terdapat hubungan. Sesuatu akan indah jika mengikuti bentuk ideal. Penciptaan keindahan harus melalui komunikasi pikiran yang mengalir dari Tuhan. Maka, keindahan tertinggi serta sumber keindahan adalah Tuhan. Konsep keindahan Plotinus berhubungan dengan pandangan tentang kejahatan. Menurut Plotinus, kejahatan tidak mempunyai realitas metafisis. Yaitu, kejahatan adalah sekedar syarat kesempurnaan alam.
5.                  Bersatu dengan Tuhan
Tujuan filsafat Plotinus  ialah tercapainya kebersatuan dengan Tuhan. Caranya dengan mengenal alam melalui alat indera kemudian dengan ini kita mengenal keagungan Tuhan, yang menghantarkan kita menuju jiwa dunia, setelah itu menuju jiwa ilahiah. Jadi perenungan dimulai dari perenungan tentang alam menuju jiwa ilahi. Obyeknya dari yang jamak lalu kepada yang satu. Dalam perenungan terakhir terjadi keintiman. Sehingga tidak terpisah lagi antara yang merenung dan yang direnungkan yaitu antara diri manusia dan Tuhan.
Yang hendak dicapai adalah prinsip realitas; itu ada di dalam yang satu. Kita dapat mengenal itu dengan kemampuan yang ada pada kita; itu merupakan kebijaksanaan yang ada padi diri kita dari DIA. Di dalam kita ada sesuatu seperti DIA. Dimanapun engkau bereda engkau berhadapan dengan ke-ada-an-Nya. Engkau mrasakan DIA ada di dalm engkau.dengan cara ini jiwa akan sampai pada prinsip relitas ; demikian Plotinus pada tingakat terakhi ini tida ada lagi keterpisahan, tidak ada lagi jarak, tidak ada kesadaran tentang ruang dan waktu, tidak ada lagi kesadaran tentang kejamakan; keadaan itu mengatasi semua karegori. Itu suatu keadaan yang jarang terjadi bahka Plotinus pun hanya mengalami beberapa kali. Caranya mudah saja menyucikan roh. Benda di sekitar kita diabaikan sama sekali.jiwa semata idup di alam pikiran dan alam roh. Hanya itu car bersatu dengan tuhan itu hanya dapat dilakukan dengan mengembangkan perasaan, keluar dari diri sendiri; inilah yang dimaksud dengan extace. Filsafat tidak dapat menjelaskan hal itu sebaiknya kita menerimanya dengan diam dan merealisasikannya dalam kehidupan. Pengalaman mistik itu berada di atas akal.


C.hubungan filsafat Plotinus dengan pemikiran filsof mslim
Teori neo-Platonisme memiliki pengaruh yagn besar dalam dunia fisafat. Kosmologi Plotinus termasuk tinggi, terutama dlam hal kedalaman spekulasinya dan daya imajinasinya. Pandangan mistis merupkan ciri filsafatnya, usahanya untuk mmahami realitas spiritual cukup gigih. Dlam perbandingannya dengan Teori Augustinus, akan ada persamaan dan perbedaan di dalamanya dan dari keduanya akan sulit untuk menetapkan argumen. Teori ini sangat besar pengaruhnya pada filosof muslim. yang paling kuat. Misalnya, teori tentang penciptaan pertama yaitu Emanasi adalah teori yang berani. Tidak ada filosof yang mengemukakan teori itu sebelum ia mengemukakannya Sampai hari ini belum ada teori yang memuaskan tentang asal-usul semesta selain teori emanasi secara filosofis. Ajaran kebersatuan dengan tuhan mengingatkan kita pada teori yang dikembangkan oleh para sufi muslim, seperti Al-Hallaj, Abu Yazid Al Bisthomi, Ibn Al-Arabi, dll.

DAFTAR PUSTAKA
Hatta, Muhammad, 1920-1980, Alam Pemikiran Yunani, Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Pers)
Prof. dr. Ahmad Tafsir, 1990, Filsafat Umum, Bandung: PT.Remaja Rosdakarya



0 Response to "Filsafat Plotinus"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel