-->

Filsafat Sofisme

A.     SEJARAH LAHIRNYA SOFISME
Pada pertengahan abad ke 5 sebelum masehi timbullah aliran baru dalam filosofi Yunani, yang berlainan sekali sifatnya dari pada yang dikenal sampai ketika Aliran itu dinamai orang sofisme atau juga sofistik.
Sofistik asalnya dari kata “sophos” yang artinya cerdik pandai. Bermula gelaran sofis ditunjukan kepada segala orang pandai sebagai ahli bahasa, ahli filsafat, ahli politik, dan lain lainnya. Orang yang tersebut karena pengetahuannya dan kebijaksanaannya dinamai sofis. Tapi lama kelamaan kata itu berubah artinya. Sofis menjadi gelar bagi tiap-tiap orang yang pandai memutar lidah, pandai bermain dan bersilat dengan kata-kata dari nama pujian “sofis” menjadi ejekan.
Antara abad ke 5 sampai ke 4 dunia pendidikan dan pengajaran Yunani dijalankan oleh para sofis. Mereka (Para sofis) adalah para filsuf yang sangat mahir berpidato, berdebat, dan sekaligus juga mendidik. Mereka mendidik anak-anak muda dan berpidato serta berdabat di pasar-pasar atau pusat-pusat keramaian (dinamakan “agora”) di satiap negara kota (dinamakan “polis” ). Pendidikan dan pengajaran di yunani saat itu dijalankan oleh para sofis ini.
Ajaran para sofis sangat berbeda dari para filsuf sebelumnya. Mereka tidak tertarik pada filsafat alam, ilmu pasti, atau metafisika. Mereka menilai filsafat- filsafat sebelumnya terlalu berawang awang. Mereka lebih tertrarik pada hal-hal yang lebih konkret seperti makna hidup manusia, moral, norma dan politik. Hal-hal inilah yang dianggap perlu diajarkan pada generasi muda dan dikembangkan untuk kelangsungan negara.
Namun, sayangnya, seringkali kepandaian dan keterampilan mereka berdebat di salah gunakan untuk membalikkan kebenaran-kebenaran dan moralitas-moralitas. Kebenaran dan moralitas oleh mereka dibuat relatif dan universal. Mereka meragukan segala sesuatu dan kemudian mereka bangun sendiri untuk kebenaran yang mereka bangun sendiri melalui argumentasi-argumentasi subjektif (Bertens,1975). Akibatnya, semua orang dianggap memiliki kebenaran sendiri, sejauh memiliki kemampuan dalam beragumentasi dalam perdebatan.
Fokus pemikiran mereka yang terarah pada manusia an sich membawa mereka pada keyakinan bahwa manusia adalah ukuran segala-galanya. Tidak ada nilai-nilai baik,benar,atau indah dalam dirinya sendiri. Semuanya dianggap baik,benar,indah jika dihubungkan dengan persepsi individu. Akibatnya adalah bahwa tidak ada keniscayaan, tidak ada kebenaran yang objekti dan universal. Semuanya adalah relative. Para sofis memberi tekanan pada relativisme nilai. Akibatnya, sendi-sendi kepastian moral dan hukum dalam masyarakat yunani menjadi terancam.
Meski nama-nama para sofis diasosiasikan dengan hal-hal negatif karena pandangan-pandangannya yang relativistik, namun harus diakui bahwa tidak semua sofis memiliki pandangan demikian. Tokoh-tokoh yang relatif berwibawa dan terkemuka pada saat itu dan memiliki reputasi yang positif. Di samping itu, ajaran para sofis pun sangat berharga bagi perkembangan filsafat yunani, sehingga tidak dapat diabaikan sumbangannya bagi sejarah filsafat yunani. Tiga serangkai filsuf paling paling terkemuka yunani seperti socrates (470-399 SM), Plato (428/427-348/347 SM) lahir pada zaman para sofis hidup dan dibesarkan di antara mereka.

B.      PROTAGORAS
1.      Riwayat hidup.
Protagoras lahir kira-kira pada 485 di kota Abdera di daerah Thrake. Demokritos adalah sewarga kotanya yang lebih muda. Sering kali ia datang ke Athena dan disana ia terhitung pada kalangan sekitar Perikles.Atas permintaan Perikles ia mengambil bagian dalam mendirikan kota perantauan Thurioi di Italia selatan pada tahun 444. Pendirian kota itu dimaksudkan Perikles sebagai usaha pan-Hellen, berarti seluruh hellas diharapkan mengambil bagian di dalamnya. Ada tokoh-tokoh terkemuka yang ikut dalam usaha itu, seperti misalnya Herodotos, Hippodamos, dan Lysias. Protagoras diminta untuk mengarang undang-undang dasar bagi polis baru itu. Menurut Diogenis Laertios, pada akhir hidupnya Protagoras dituduh di Athena karena kedurhakaak (asebeia) dan bukunya tentang agama dibakar di hadapan umum. Diceritakan pula bahwa Protagoras melarikan diri ke Sisilia, tetapi pada perjalanan ini ia tewas, akibat perahu layar tenggelam. Tetapi karena kesaksian Deiogenis Laertios ini tidak dapat dicocokkan dengan data-data lain, kebanyakan sejarawan modern menyangsikan kebenarannya.
Yang orang tahu hanya bahwa ajarannya laku benar setahun  dua, pada tahun 444-443. Caranya bersoal menunjukkan, bahwa ia dahulu ada berguru kepada Herakleitos. Semboyan Herakleitos ’’panta rei’’, semuanya berlalu, sering pula di pakainya, tetapi ditujukannya kepada manusia yang meninjau pengetahuan.
Zaman kekuasaan perikles dalam sejarah athena serupa dengan victorian dalam sejarah inggris. Athena makmur dan berkuasa, tak banyak diricuhi olehperang dan memiliki konstitusi demokrasi yang dipimpin oleh kaum bangsawan. Sebagai mana telah kita simak dalam pembicaraan tentang anaxagoras oposisi demokrasi terhadap perikles lambat laun kian menguat, dan melancarkan serangan pada para sahabat perikles satu demi satu. Perang poloponnesus pada tahun 431 SM; athene ( dan pelbagai daerah lain ) terlanda wabah; penduduknya, yang kira-kira berjumlah 230.000 jiwa, menjadi jauh merosot, dan tak pernah meningkat lagi seperti jumlah ( buri, histori of greece, 1, hal.444 ). Prisces sendiri pada tahun 430 dimakzulkan dari tampuk kepemimpinan dan didenda dengan tuduhan menyalahgunkan uan g rakyat oleh sebuah mahkamah yang terdiri dari 1501 hakim. Dua putranya meninggal karena wabah, dan ia sendiri wafat setahun kemudian (429 SM). Pheidias dan anaxagoras pun dipersalahkan; aspasia siadili dengan dakwaan mendurhakai agama dan merusak rumah tangga, namun lantas dibebaskan.
Dalam masyarakat demikian itu, sudah barang tentu jika orang ingin mengarahkan rasa permusuhan para politisi demokrat kepada orang lain haruslah memilki keterampilan dalam pengadilan. Sebab masyarakat Athena, meskipun sangat suka mengadili orang, dalam segi tertentu lebih bebas daripada amerika modern, karena meraka yang dituduh melanggar agama atau merusak generasi muda diperbolehkan mengemukakan dalih untuk membela dirinya sendiri.

2.      Ajaran
Ø  Ajaran tentang pengenalan
Dalam buku yang berjudul Aletheia (“kebenaran”) terdapaat tuturan protagoras yang terkenal, yang disimpan dalam kumpulan H. Diels sebagai fragmen 1:”Manusia adalah ukuran untuk segala-galanya: untuk hal-hal yang ada sehingga mereka ada dan untuk hal-hal yang tidak ada sehingga mereka tidak ada” *(18). Pendirian boleh disebut relativisme, artinya kebenaran dianggap tergantung pada manusia. Manusialah yang menentukan benar tidaknya, bahkan ada tidaknya. Disini dapat dipersoalkan bagaimana kita mesti mengerti kata “manusia” itu. Yang dimaksudkan protagoras, manusia perorangan ataukah manusia sebagai umat manusia? Apakah kebenaran tergantung pada anda dan pada saya, sehingga kita mempunyai kebenaran sendiri-sendiri? Ataukah kenaran tergantung pada kita bersama-sama, sehingga kenaran itu sama untuk semua manusia, biarpun tidak mempunyai arti terlepas dari manusia? Tidak dapat disangsikan bahwa Platomengartikan perkataan protagoras tadi mengenai manusia perorangan. Itu jelas karena contoh yang diberikannya untuk menerangkan pemdapat protagoras . contohnya sebagai berikut. Angin yang sama dirasai panas oleh satu orang (yaitu orang sehat) dan dirasai dingin oleh orang lain (yang dalam keadaan sakit/demam). Mereka kedua-duanya benar! Dan tidak ada alasan yang menuntut bahwa kita membatasi pendapat Protagoras ini atas pengenalan indrawi saja. Oleh karenanya, keberan seluruhnya harus dianggap relatif terhadap manusia bersangkutan, semua pendapat sama benar, biarpun sama sekali bertentangan satu sama lain. Tetapi, kalau demukian, pendapat Protagoras sendiri tidak merupakan kekecualian. Karena, sebagaimana disimpulkan oleh Plato,secara konsekuen pendapat protagoras hanya benar untuk dia sendiri saja dan mungkin sekal bagi orang lain kebaikannya yang benar.
Ø  Seni berdebat
Karangan lain berjudul Antilogiai (“Pendirian-pendirian yang bertentangan”). Dalam karya ini protagoras mengemukakan anggapan yang tentu ada hubungannya dengan relativismeyang diuraikan diatas. Dan anggapan ini sesuai dengan keaktifan khusus kaum sofis, sebab kita sudah melihat bahwamereka terutama giat dalam bidang kemahiran berbahasa. Suatu fragmen disimpan yang barang kali merupakan kalimat pertama dari karya tersebut: “tentang semua hal terdapat dua pendirian yang bertentangan”(fr. 6a). Boleh diandaikan bahwa perkataan ini menyatakan gagasan pokok karya ini. Kalau benar tidaknya sesutu tergantung pada manusia, harus disimpilkan bahwa satu pendirian tidak lebih benar dari pada kebalikannya. Ini mempunyai konsekuensi besar untuk seorang ahli berpidato. Tergantung pada kepandaianya apakah ia akan berhasil meyakinkan para pendengarnya mengenai kebenaran suatu pendirian yang sepintas lalu rupanya tidak begitu sah. Dari sebab itu perlu suatu latihan yabg memungkinkan orang ”membuat argumen yan paling lemah menjadi yang paling kuat”
Para musuh kaum sofis telah menafsirkan gagasan ini dalam arti moral. Mereka memeri kesan seakan-akan menurut protagoras perbuatan  yang sama serentak dapat dicela dan serentak juga dipuji, sehingga sesuatu yang baik dijadikan sesuatu yang buruk dan sebaliknya. Dengan demikian seni berdebat menjadi alat yang cocok sekali untuk penjahat-penjahat. Tetapi tidak ada alasan apa pun untuk menyangka bahwa maksud protagoras memang begitu. Oleh tradisi yunani  disampaikan kesaksian bahwa Protagoras mempunyai tabiat yang luhur dan dihomati oleh umum.
Kenyataan ini bisa menjelaskan kedekatan kaum sofis dengan kalangan tertentu dan ketidak dekatan mereka dengan kalangan lain. Namum dalam batinnya sendiri, apa yang mereka lakuakan bukanlah demi pamrih pribadi, dan jelas bahwa banyak diantara mereka yang betul-betul  peduli pada filsafat. Plato sendiri gemar memprolok dan menjelek-jelekkan mereka, namun mereka tak seyogyanya kita nilai berdasarkan polemik plato. Untuk mencontohkan tulisannya yang jenaka, bisa kita simak satu bagian dari buku euthydemus, dimana ada dua orang sofis, dionysodorus dan euthydemus, mempermain kan seorang lugu bernama clesippus. Dionysodorus memulainya :
Kamu bilang, kamu punya anjing?
Ya, deorang anjing keparat, kata celesippus.
Dan dia punya anak?
Ya, dan anak-anaknya sangat mirip dia.
Dan dia adalah ayah anak-anak anjing itu?
Ya, kata celipus, pernah ku lihat dia dan
Ibu dan anak-anak anjing itu bersama-sama
Dan dia bukan milikmu?
Tentu saja dia milikku.
Dia adalah ayah,dan dia adalah milikmu: jadi,
Dia ayahmu, dan anak-anak anjing itu adalah \
Saudara-saudaramu.

Untuk gaya yang lebih serius, bisa kita soimak dialog yang berjudul the sophist. Dialog ini berisi diskusi logika mengenai difinisi, yang memakai kaum sofis sebagai ilustrasinya. Untuk kali ini kita tak berkepentingan dengan soal logikanya; apa yang ingin saya tonjolkan saat ini dari dialog tersebut adalah kesimpulan akhirnya :
“maka, dialah yang melacak asal-usul keterampilannya (kaum sofis) sebagai berikut-dia, yang mengabdikan diri pada golongan seni yang dengan terang-terangan atua diam-diam menyebabkan kontradiksi, adalh peniru kenyataan semu, dan berbeda dengan golongan seni fantasi yang mencipta citra menjadi ciptaan lainnaya lagi, dia tadi adalah penyulap kata hasil kepandaian manusia, dan bukan karya tuhan-siapapunyang  mengakui bahwa kaum sofis adalah orang-orang yang memiliki darah dan silsilah demikian akan mengatakan kebenaran seperti ino pula. ”
Ada kisah tentang protagoras, yang tentunya hanya cerita isapan jempol, yang mengambarkan hubungan kaum spfis dengan  mahkama pengadilan menurut anggapan umum. Konon ini mengajar seorang pemuda denga syarat ia harus diuapah jika pemuda ini memenangkan gugatan hukumnya yang pertama, namaun tak perlu diupah jika kalah, dan bahwa gugatan pertam apemuda itu sebenarnya dibikin oleh protagoras sendiri agar ia mendapat bayarana.

Ø  Ajaran Tentang Negara
Dalam karya yang bernama tentang keadaan yang asli Protagoras memberi suatu teori tentang asal usul negara. Teori ini dipengaruhi disatu pihak oleh pengalaman yang sudah disebut di atas, yakni bahwa tiap-tiap negara mempunyai adat kebiasaan sendiri (hlm. 85-86)
Protagoras berpendapat bahwa negara tidak berdasarkan kodrat, tetapi di adakan oleh manusia sendiri. Ia melukiskan timbulnya neara sebagai berikut. Mula-mula manusia hidup sendiri. Tetapi dalam keadaan itu ia mengalami rupa-rupa kesuitan, separti gangguan dari pihak binatang buas, bencana alam dan lain sebagainya. Karena ia terdsendiri merasa lemah dan tidak berdaya, ia mulai berkumpul dengan teman-teman manusia lainnya dalam kota-kota. Tetapi cepat sekali mengalami bahwa hidup bersama tidak gampang pula. Dengan suatu mitos, Protagoras menerangkan bagaimana kesulitan baru ini diatasi. Seorang dewa berkunjung kepada manusia dan menyerahkan kepada mereka dua anugerah: keinsyafan akan keadilan (dike) dan hormat kepada orang lain (aidos).
Berkat kedua bakat ini manusia dapat hidup bersama. Ia sendiri dapat mengadakan undang-undang. Jadi, undang-undang tertentu tidak “lebih benar” dari pada undang-undang lain. Tetapi undang-undang ini lebih cocok dengan masyarakat ini dan undang-undang lebih ccok dengan masyarakat lain.rupanya dalam bidang sosial juga manusia adalah ukuran.

Ø  Ajaran tentang dewa-dewa
Masih disimpan satu fragmen dari karya Protagoras yan berjudul peri theon (“perihal dewa-dewa”): “mengenai dewa-dewa saya tidak merasa sanggup menetapkan apakah mereka ada atau tidak; dan saya juga tidak dapat menentukan hakikat mereka. Banyak hal yang merupakan halangan: baik kaburnya pokok bersangkutan maupun pendeknya hidup manusia” (fr. 4). Pendapat protagoras tentang dewa-dewa boleh disebut suatu skeptisisme, artinya disini tidak mungkin mencapai kebenaran. Itu cocok sekali denagan anggapan relativistis yang dianut protagoras dalam bidang pengenalan. Tetapi kita tidak mempunyai informasi bahwa ia juga menarik konsekuensi  praktis dari pendapat skeptis itu. Mungkin sekali ia menyimpulkan bahwa dalam hidup praktis manusia harus berpihak pada tradisi saja dan beribadah kepada dewa-dewa polis, sebagaimana wajib dilakukan oleh semua warga negara.
Bagi Protagoras ’’manusia itu adalah ukuran bagi segalanya, bagi yang ada karena adanya, bagi yang tidak ada karena tidaknya’’. Maksudnya bahwa semuanya itu harus ditinjau dari pendirian manusia sendiri-sendirinya. Kebenaran umum tidak ada. Pendapatku adalah hasil pandanganku sendiri. Apa ia juga benar bagi orang lain, sukar mengatakannya, boleh jad tidak. Apa yang kuktakan baik, boleh jadi jahat bagi orang lain; Apa yang kukatakan bagus, boleh jadi buruk dalam pandangannya. Alamku adalah bagiku sendiri. Orang lain mempunyai alamnya sendiri pula.
Pandangan berubah-ubah menurut yang dipandang yang benar sekarang, beresok barangkali tidak lagi. Bukan kejadian di dunia ini saja berlalu dan bergerak senantiasa, tetapi juga pandangan manusia. Dan bukan barang yang dipandang itu saja bergerak, juga pancaindra yang memandang. Sebab itu tiap-tiap pemandangan bergantung kepada dua macam gerakan. Mencari pengetahuan juga memandang, Sekalipun memandang dari dalam dengan jiwa, dengan pikiran. Sebagaimana pandangan mata berdasar kepada dua macam gerakan, demikian juga pandangan pikiran.
Kalau tiap-tiap pandangan itu berdasar kepada dua macam gerakan yang bertentangan jalannya, maka barang yang dipandang itu lain dari pada subyek (manusia) yang memandang dan lain pula dari pada obyek (barang) yang dirupakan oleh pandangan itu. Wajah yang terlukis dalam pandangan kita tidak sama dengan barang yang dipandang. Barang yang terpandang berlainan dengan barang yang dipandang! Sungguhpun hasil pemandangan itu ditentukan oleh kedua-duanya, oleh barang yang dipandang dan oleh orang yang memandang, wajah yang terpandang berlainan dari pada keduanya. Sebabnya karena gerakan yang bertentangan tadi. Sebab itu pula tiap-tiap pandangan bersifat subyektif. Pemandangan seseorang berlainan dari pada pandangan orang lain. Sebab itu pemandangannya itu benar bagi dia sendiri. Demikian juga pengetahuan tentang sesuatunya. Sifatnya subyektif.
Sebagai kelanjutan pemikirannya itu Protagoras mengatakan, bahwa pandangan itu betul memuat pengetahuan yang cukup tentang barang yang terpandang, tetapi bukan pengetahuan tentang barang itu sendiri. Oleh karena itu manusia tidak mengetahui keadaan barang itu sebagaimana keadaannya yang sebenarnya, melainkan sebagai rupa pandangannya saja. Dan rupa barang itu sebagai yang tampak dalam pandangannya itu adalah bagi dia sendiri. Bagi orang lain tidak begitu. Oleh Karena itu segala pemandangan bersifat relatif, sementara

3.      Karya Protagoras
Protagoras mengarang sejumlah buku, hanya beberapa fragmen pendek masih disimpan. Tetapi isi ajarannya dapat ditetapkan, karena gagasan-gagasan protagoras ramai dipersoalkan di kemudian hari. Plato merupakan sumber yang utama khususnya kedua dialognya yang berjudul: theaitetas dan protagoras.
Diantar karya-karyanya yang lain, adalah:
·         Aletheia (kebenaran)
·         Antilogial ( pendirian yang bertentangan )
·         Tentang keadaan yang asali, tentang asal usul negara.
·         Peri theon (perihal dewa-dewa)

C.      GORGIAS
1.      Riwayat hidup
Gorgias lahir di Leontinoi di Silsilia sekitar tahun 483. Rupanya mula-mula dia murid Empedokles, kemudian dipengaruhi oleh dialektika Zeno. Pada tahun 427 ia datang ke Athena sebagai duta kota asalnya untuk meminta pertolongan melawan kota Syrakusa. Sebagai sofis ia mengelilingi kota-kota Yunani, terutama Athen, dimana ia mengalami sukses besar, karena luar biasa fasih lidahnya. Ia dijunjung tinggi sebagai guru dan mempunyai banyak murid. Ia meninggal pada usia 108 tahun, kira-kira pada tahun 375.

2.      Ajaran
Pertama, tak ada sesuatunya. Sebab kalau ada sesuatunya, mestilah ia terjadi dan ada pula selama-lamanya. Terjadi itu tidak bisa timbul dari yang ada atau dari yang tidak ada. Ada selama-lamanya mustahil pula, sebab ada selama-lamanya itu sama dengan tidak berhingga. Yang tidak berhingga itu tak ada dimana-mana, sebab ia tak dapat ada didalam dirinya sendiri atau didalam yang lain. Dan mana yang tidak ada dimana-mana tidak ada.
Kedua, jika sekiranya ada sesuatunya, ia tak dapat diketahui. Sebab jika kiranya ada pengetahuan tentang yang ada itu, adalah ia buah fikiran, dan yang tidak ada sekali-kali tidak dapat masuk dalam pikiran, Oleh karena itu tidak ada kekhilafan. Dan kalau tidak ada kekhilafan, tidak salah pula orang berkata, bahwa di laut diadakan perlombaan kereta. Tetapi yang kemudian ini satu hal yang mustahil. Jadi sesuatunya tidak dapat di ketahui.
Ketiga, jika kiranya kita mengetahui sesuatunya, pengetahuan itu tidak dapat kita kabarkan kepada orang lain. Tiap-tiap gambaran berlainan dari pada barang yang digambar. Betapa orang akan mengabarkan dengan kata-kata rupa warna yang dilihatnya, karena telinga tidak mendengar warna tetapi mendengar bunyi? Bagaimana rupa yang terdengar itu boleh ada dalam dua buah badan, sedangkan kedua badan itu terpisah?
Perbedaan antara ajaran Gorgias dan Protagoras, tampak perbedaan yang aneh. Kedua-duanya meniadakan kebenaran umum. Tetapi, selagi Protagoras berkata, bahwa ’’tiap-tiap pendirian boleh benar’’. Gorgias mengatakan ’’tiap-tiap pendirian salah’’. Pertentangan akibat ini dari pada pokok dalil yang serupa adalah sebuah sofistik sendiri. Oleh karena kebenaran umum dikatakan tak ada, yang seorang berkata:’’tiap-tiap pendirian boleh benar’’. Kata yang seorang lagi: ’’kebenaran umum tak ada, sebab itu segala pendirian salah’’

3.      Karya Gorgias
Gorgias menulis suatu buku yang berjudul “ tentang yang tidak ada atau tenang alam “.
Dalam buku ini ia mempertahankan 3 pendirian :
1)      tidak ada sesuatupun,
2)      seandainya sesuatu itu ada, maka itu tidak dapat dikenal,
3)      seandainya sesuatu dapat dikenal, maka pengetahuan itu tidak bisa di sampaikan kepada orang lain.



B.    DAFTAR PUSTAKA
1.      Hatta Muhammad , Alam Pemikiran Yunani, UI Press, Jakarta, 1986

2.      Zainal Abidin, Pengantar filsafat Barat, Rajawali Pers, Jakarta, 2012

0 Response to "Filsafat Sofisme"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel