-->

Nasikh Mansukh


A.    PENGERTIAN NASIKH DAN MANSUKH BESERTA SYARATNYA
Secara etimologis An-Nasikh berasal dari kata kerja “nasakh” ( نَسَخ ) yang mengandung banyak makna diantaranya:
1        Al-Izaalah Wal I’daam  (menghapus atau menghilangkan)
2        At-Tahwiilu Ma’a Baqaa fi Nafsihi (memindahkan sesuatu yang tetap sama)
3        An-Naqlu Min Kitaabin Illa Kitaabin (menyalin atau mengutip)
4        At-Taghyir wal Iqaamatisy Sya’I Maqaamahu (mengubah dan membatalkan sesuatu yang lain sebagai gantinya).
Secara terminology nasakh adalah menghapus hukum syara’ dengan dalil hukum syara’ yang lain.
Sedangkan secara etimologi Al-Mansukh (اَلْمَنْسُوْخُ) berarti sesuatu yang dihapus, dihilangkan, dipindahkan atau disalin. Sedangkan secara terminology mansukh adalah hukum syara’ yang diambil dari dalil syara’ yang pertama yang belum diubah kemudian dihapuskan dan diganti dengan hukum dari dalil syara’ baru yang datang kemudian.
Adapun syarat-syaratnya adalah:
1)      Hukum yang dimansukh adalah hukum syara’
2)      Dalil penghapusan hukum tersebut adalah khitab syar’i yang datang lebih kemudian hari khitab yang hukumnya di mansukh
3)      Khitab yang dihapuskan atau diangkat hukumnya tidak terikat (dibatasi) dengan waktu tertentu. Sebab jika tidak demikian maka hukum akan berakhir dengan berakhiranya waktu tersebut. Dan yang demikian tidak dinamakan nasakh.


B.     MACAM-MACAM NASIKH DAN PEMBAGIANNYA
Macam-macam Naskh
1        Ayat yang dinasakhkan tilawah dan hukumnya, seperti riwayat dari Aisyah yang mengatakan: "Diantara ayat yang pernah diturunkan ialah: "Sepuluh susuan yang dikenal" kemudian dihapuskan dengan "lima susuan", ketika Rasulullah saw. nash tersebut (sepuluh susuan) termasuk apa yang dibaca dari al-Qur'an." (H.R. Bukhari dan Muslim).
2        Ayat yang dinasakhkan hukumnya tetapi tilawahnya  tetap. Seperti naskh hukum ayat idah selama satu tahun,sedangkan tilawahnya tetap. Bentuk nasakh inilah yang banyak dibahas oleh para ulama di dalam berbagai kitabnya. Tetapi nasakh ini pun pada hakikatnya sangat sedikit adanya.
Jika ditanyakan: apa hikmah penghapusan hukumnya dan membiarkan bacaannya? Pertanyaan ini dapat dijawab dari 2 segi. Pertama, bahwa al-Qur'an di samping dibaca untuk diketahui hukumnya dan diamalkan, juga dibaca karena ia kalam Allah yang dengan membacanya akan mendapatkan pahala, maka dibiarkannya tilawah tersebut karena hikmah ini. Kedua, bahwa nasakh pada galibnya adalah untuk meringankan, maka dibiarkannya tilawah tersebut untuk mengingatkan ni'mat yang diberikannya itu.
3        Ayat yang dinasakhkan tilawahnya tetapi hukumnya tidak. lalu apa hikmahnya? mengapa tidak dibiarkan juga tilawahnya agar dengan demikian akan didapat pahala pelaksanaan dan pembacaannya ? Jawabannya ialah untuk membuktikan sejauh mana keta'atan umat ini dalam berkorban tanpa banyak bertanya sebagaimana Ibrahim a.s. segera melaksanakan penyembelihan anaknya hanya melalui mimpi.




Pembagian Naskh
1.      Al-kitab dinasakh oleh Al-kitab
Firman Allah yang berbunyi :
"jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir," (QS. Al-Anfal : 65)
ayat tersebut dinasakh oleh ayat yang berbunyi :
 Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang.(QS. Al-Anfal : 66)

2.      Al-kitab dinasakh oleh As-sunnah
Firman Allah yang berbunyi :
Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf ( QS. Al-baqarah : 180)
Ayat tersebut di atas, di nasakh oleh hadis nabi yang berbunyi :
ketahuilah tidak ada wasiat untuk ahli waris.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

3.      As-sunnah dinasakh oleh al-kitab
Sebagai contoh, ialah perbuatan Nabi (sunah fi’liah) yang disebutkan dalam satu riwayat bahwa :

sesungguhnya Nabi SAW, berdiri menghadap Baitul Maqdis dalam shalat 16 bulan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sunnah Nabi tersebut di nasakh oleh ayat Al-Qur’an yang berbunyi :  
“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram…”(QS. Al-Baqarah: 144)

4.      As-sunnah dinasakh oleh as-sunnah
Sebagai contoh ialah sabda Nabi yang berbunyi :
“dahulu aku melarang kamu menziarahi kubur, maka sekarang berziarahlah”. (HR. Muslim)

C.     KONTROPERSI SEPUTAR NASIKH DAN MANSUKH
a         Orang Yahudi. Mereka tidak mangakui adanya Naskh, karena menurutnya, Naskh mengandung konsep al-bada’, yakni Nampak jelas setelah kabur (tidak jelas). Yang dimaksud mereka ialah, Naskh itu adakalanya tanpa hikmah, dan ini mustahil bagi Allah. Dan adakalanya Karena sesuatu hikmah yang sebelumnya tidak nampak. Ini berarti terdapat suatu kejelasan yang didahului oleh ketidakjelasan. Dan ini pun mustahil bagi-Nya. Cara berdalil mereka ini tidak dapat dibenarkan, sebab masing-masing hikmah Nasikh dan Mansukh telah diketahui Allah lebih dahulu. Jadi pengetahuannya tentang hikmah tersebut bukan hal yang baru muncul. Ia membawa hamba-hamba-Nya dari satu hukum ke hukum yang lain adalah karena suatu maslahat yang telah diketahui-Nya jauh sebelum itu, sesuai dengan hikmah dan kekuasaan-Nya yang absolut terhadap segala milik-Nya.
b        Orang Syi’ah Rafidah, mereka sangat berlebihan dalam menetapkan Naskh dan meluaskannya. Mereka memandang konsep al-bada’ sebagai suatu hal yang mungkin terjadi bagi Allah. Dengan demikian, maka posisi mereka sangat kontradiksi dengan orang Yahudi. Untuk mendukung pendapatnya itu mereka mengajukan argumentasi dengan ucapan-ucapan yang mereka nisbahkan kepada Ali r.a.secara dusta dan palsu. Juga dengan firman Allah:
Artinya: “Allah menghapuskan apa yang ia kehendaki dan menetapkan (apa yang ia kehendaki).” (ar-Ra’d [13]:39) dengan pengertian bahwa Allah siap untuk menghapuskan dan menetapkan. Paham demikian merupakan kesesatan yang dalam dan penyelewengan terhadap Qur’an. Sebab makna ayat tersebut adalah: Allah menghapuskan segala sesuatu yang dipandang perlu dihapuskan dan menetapkan penggantinya jika penetapannya mengandung maslahat. Disamping itu penghapusan dan penetapan terjadi dalam banyak hal, misalnya menghapuskan keburukan dengan kebaikan.
c         Abu Muslim al-Asfahani. Menurutnya, secara logika Naskh dapat saja terjadi, tetapi tidak mungkin terjadi menurut syara’. Dikatakan pula bahwa ia menolak sepenuhnya terjadi Naskh dalam Al-Qur’an berdasarkan firman-Nya dalan Alquran Surah Fussilat ayat 42.
Pendapat Abu Muslim ini tidak dapat diterima, karena makna ayat tersebut ialah, bahwa Qur’an tidak didahului oleh kitab-kitab yang membatalkannya dan tidak datang pula sesudahnya sesuatu yang membatalkannya.
d        Jumhur Ulama. Mereka berpendapat Naskh adalah suatu hal yang dapat diterima akal dan telah pula terjadi dalam hukum-hukum syara’, berdasarkan dalil-dalil:
1)      Perbuatan-perbuatan Allah tidak tergantung padahal alasan dan tujuan. Ia boleh saja memerintahkan sesuatu pada suatu waktu dan melarangnya pada waktu yang lain. Karena hanya Dialah yang lebih mengetahui kepentingan hamba-hamba-Nya.
2)      Nas-nas kitab dan Sunah menunjukkan kebolehan Naskh dan terjadinya. Antara lain:
a)      Firman Allah:
“Dan apabila Kami mengganti suatu ayat di tempa ayat yang lain…” (QS.An-Nahl [16]:101)
b)      Dalam sebuah hadist shahih, dari Ibn Abbas r.a., umar r.a.berkata : ”Yang paling paham dan paling menguasai Qur’an diantara kami adalah Ubai. Namun demikian kami pun meninggalkan sebagian perkataannya, karena ia mengatakan: “Aku tidak akan meninggalkan sedikit pun segala apa yang pernah aku dengar dari Rasulullah SAW, padahal Allah telah berfirman: Apa saja ayat yang Kami Naskhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya…” (Al-Baqarah [2]:106)

D.    CARA MENGETAHUI NASIKH DAN MANSUKH
1.      Melalui keterangan yang jelas dari nabi dan para sahabat,
seperti hadis: “Kuntu naihaitukum ‘an ziyarat Al- qubur ala fa zuruha” (Aku (dulu) melarang kalian ziarah kubur, sekarang berziarahlah.
2.      Melalui kesepakatan umat bahwa ayat ini nasikh dan ayat itu mansukh.
3.      Melalui studi sejarah, mana ayat yang lebih belakang turun, sehingga disebut nasikh, dan mana yang duluan turun disebut mansukh
                                                                   
E.     HIKMAH ADANYA NASIKH DAN MANSUKH
1)      Menjaga kemaslahatan hamba.
2)      Pengembangan pensyariatan hukum sampai kepada tingkat kesempurnaan seiring dengan perkembangan dakwah dan kondisi manusia itu sendiri.
3)      Menguji kualitas keimanan mukallaf dengan cara adanya perintah yang kemudian dihapus.
4)      Merupakan kebaikan dan kemudahan bagi umat. Sebab apabila ketentuan nasikh lebih berat daripada ketentuan mansukh, berarti mengandung konsekuensi pertambahan pahala. Sebaliknya, jika ketentuan dalam nasikh lebih mudah daripada ketentuan mansukh,itu berarti kemudahan bagi umat.


DAFTAR PUSTAKA
Supiana, Karman. Ulumul Quran. Bandung: Pustaka Islamika, 2002, cet. 1.
Amin Suma, Muhammad. Ulumul Qur’an. Jakarta: Grajagrafindo Persada, 2014, cet. 2.
Djunaedi Soffandi, Wawan. Nasikh Mansukh (Ayat-ayat Al Qur’an yang Dihapus). Jakarta: Pustaka Azzam, 2002.
Khalil Al-Qattan, Manna’. Studi Ilmu-ilmu Qur’an. Bogor: Pustaka Litera Antarnusa, 2004.


0 Response to "Nasikh Mansukh"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel