-->

Sepasang Jari Kelingking di Warung Pangsit


Udara yang begitu panas di kampus hijau waktu itu. Isi perutku mulai terasa tidak bersahabat dengan keadaan. bisikan pergi mencari makanan mengarungi pikiranku yang bodoh ini. Namun apalah daya lagi-lagi uang yang kubawa tidak memungkinkan

Tiba tiba hp di kantong jaket hitamku bergetar. ada chat masuk dari akun facebook ku dari seorang sahabat ( sebut saja namanya J ). senyum dan ucapan syukur dalam hatiku begitu spontan setelah melihat ajakan makan darinya, padahal aku tidak habis pikir tentang itu. sahabatku yang satu ini memang misteirus, kadang cuek sekali kadang juga langsung dekat ibarat sepasang kekasih dilanda LDR.

Setelah sepakat dengan ajakan makan itu, aku langsung keluar dari lorong pak RT ( istilah anak kampus hijau ) menunggu jemputan dari sahabatku. 5 menit kemudian dia datang. Dalam perjalanan seperti biasanya banyak cerita-cerita konyol keluar, begitu juga dengan rayuan-rayuanku yang tak bisa kupendam ( kebiasaan bercanda ).

Keasyikan bicara membuat waktu tak terasa untuk sampai di warung pangsit depan mesjid taqwa itu. aku memilih tempat duduk di bagian sudut dan berhadapan dengan sahabatku.

Suasana warung itu masih belum ramai. tepat diarah jam 12 aku melihat sepasang kekasih remaja yang menikmati pangsit sambil bicara. begitupun aku dengan sahabatku yang asyik bicara tentang kehidupan dunia kampus.

Entah apakah aku yang sok sibuk, atau memang hanya kebetulan mataku yang kajili-jili ini melihat sepasang Remaja itu seolah saling janji sehidup semati. Mungkin cuma aku yang melihat mereka, apalagi posisi sahabatku membelakanginya.

Puncaknya ketika aku memperhatikan saat jaring kelingking mereka menyatu ( seperti sinetron ) di iringi dengan senyuman dan mata yang berbinar seolah-olah tak akan dipisahkan oleh apapun. sambil tersenyum dalam hatiku berkata " Tawwa menn sosweet".

Aku mendoakan hubungan mereka bertahan dalam waktu lama meskipun tak kukenal. namun ke khawatiranku pasti selalu ada, karena ketika sudah saling percaya 100% lalu ada masalah, pasti akan ada sakit hati dan saling benci satu sama lain. Dan pada dasarnya orang terbaik dalam hidupmu adalah dia yang bersamamu duduk di Pelaminan.

Eh pangsit sudah habis, isi perut kembali normal dan bersahabat. Akhirnya aku dan sahabatku kembali ke kampus hijau untuk melaksanakan kesibukan masing-masing.

Sekian, terima kasih!



3 Responses to "Sepasang Jari Kelingking di Warung Pangsit"

Unknown said...

Terus tingkat kan tulisanx sma tata bahasax mas bro

Unknown said...

Terus tingkatkan tulisannya dan perhatikan selalu tata bahasa dgn cra penulisan jangan ada typo bertebaran mas bro. Good luck

Kak Ardi said...

hahaha oke siap

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel