-->

Kembalikan identitas mahasiswa dari politik pragmatis



Memasuki tahun politik tentunya tidak lepas dari peran mahasiswa yang memiliki pengaruh dalam penentuan suara pesta demokrasi di Indonesia. Berbicara mahasiswa era kekinian tidak bisa dilepaskan dengan dunia politik. Aktivitas politik dikalangan mahasiswa dan elit gerakannya pun mempunyai penafsiran yang sangat beragam.  Bagaimanapun juga mahasiswa adalah kelompok sosial yang istimewa ditengah masyarakat. Secara signifikan dalam sejarah bangsa ini mahasiswa memiliki peran historis terutama sebagai penyambung lidah. Mengingat mahasiswa hanyalah status yang bersifat sementara waktu, namun kecerdasan dalam memahami konteks realitas kekinian, semisal dalam menghadapi pemilu.

Saat ini idealisme seorang mahasiswa sedang diuji menjelang pemilu serentak tahun 2018. Mahasiswa sejatinya selalu hadir dikala momentum ketidakadilan dan kesewenangan penguasa, setelah perubahan dicapai mahasiswa harus kembali ke kampus dan tidak menjadi gerakan politik yang secara langsung ikut ambil bagian kekuasaan, karena gerakan mahasiswa harus murni dan netral terhadap kepentingan politik agar ketajaman nalar kritisnya tetap terjaga

Pemilu adalah moment dimana setiap orang dalam mengeruk keuntungan, entah itu jabatan, uang dan sebagainya.
Akibatnya sudah jarang mahasiswa yang benar-benar  idealis dan memegang teguh komitmennya untuk memperjuangkan nasib rakyat kecil. Sangat disayangkan jika idealisme itu jika dilacurkan hanya dengan mengharapkan materialistik semata. Sebagai mahasiswa seharusnya kita dapat memposisikan diri kita dalam menghadapi situasi seperti ini secara demokrasi. Pola pikir yang baik harus dikedepankan agar tidak mengarah kepada pragmatis.

Menurut Wona, pragmatis adalah lawan dari idealis yaitu konsep yang lebih mengutamakan untuk menempuh cara atau jalur yang bersifat jangka pendek yaitu melakukan hal-hal yang bersifat praktis dan mengesampingkan sisi ketidakbergunaan. Dalam kamus politik, pragmatisme politik adalah sikap dari politisi yang bersifat pragmatis yaitu menjadikan politik sebagai sarana untuk mencapai keuntungan dan kepentingan pribadi. Pragmatisme politik menganggap bahwa berpolitik merupakan cara mudah untuk meraih status sosial terhormat, kedudukan dan jabatan tinggi serta kemampuan ekonomi. Politik bukan sebagai idealisme untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Berpolitik hanya sebagai mata pencaharian bukan untuk memperjuangkan nilai-nilai aspirasi rakyat.

 Di dunia aktivis, terutama aktivis  mahasiswa, kata “pragmatis” sudah tidak asing lagi. Kata ini digunakan untuk memberikan label terhadap tindakan seseorang yang hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri. Seakan-akan, semua hal didunia ini hanya bermanfaat jika memberi keuntungan bagi dirinya. Pragmatisme ini pun muncul didunia aktivis gerakan mahasiswa yang sering sekali dinegasikan dengan kata “idealis”. Kedua kata itulah yang menjadi popular bila dihubungkan dengan nalar politik mahasiswa saat ini. Tampaknya gerakan mahasiswa dan orang-orang didalamnya harus pandai-pandai menempatkan diri secara proporsional. Terkadang secara tidak sadar perilaku politiknya mencederai identitas mahasiswa itu sendiri. Merasa menjunjung tinggi idealism, padahal dalam praktiknya malah terkesan sangat pragmatis. Inilah sebuah paradoks. Selagi masih bisa dimengerti akan arti idealisme, seyogyanya harus bisa menyuburkan nilai-nilainya. Bukan malah terjebak dan larut dalam kultur pragmatisme tunanurani.

Bangkitlah Mahasiswa
Ada banyak kredo suci yang begitu melekat sebagai identitas mahasiswa sekaligus menjadi tanggung jawab bagi mahasiswa Indonesia. Dalam istilah agent of change, agen sosial of control, and iron stok dengan gamblang menunjukkan tugas historis mahasiswa  sebagai agen yang mewakili masyarakat untuk mengontrol dan mengawasi pelbagi kebijakan pemerintah, pelopor terwujudnya perubahan sosial yang lebih baik, serta sebagai calon penerus generasi kepemimpinan bangsa dimasa mendatang.

Mahasiswa yang notabene sebagai agent of control benar-benar harus menjaga idealisnya sebagai mahasiswa. Mengontrol suata kebijakan pemerintah yang tidak pro kepada rakyat. Pesta demokrasi yang sebentar lagi dilaksanakan akan menyedot perhatian banyak mahasiswa sebagai  suatu kesempatan emas dalam mendekati para calon kepala daerah. Idealisme akan ikut dipertaruhkan jika mengikutsertakan dirinya sebagai tim sukses maupun relawan para calon kepala daerah tersebut. Ini hal yang sangat  memprihatinkan karena mahasiswa sebagai masyarakat yang harusnya bersikap netral dan harus menempatkan dirinya diluar sistem. Apabila mahasiswa idealis lagi, lalu siapa lagi yang mau mengkontrol elit dalam menentukan kebijakan?

Sudah saatnya kita kembali ke identitas kita sebagai mahasiswa.  Begitu banyak permasalahan di negeri yang harus kita diskusikan dan berikan solusi dalam menuju Indonesia emas ditahun 2045 mendatang. Ribuan teori sama sekali tidak ada artinya jika tanpa disertai dengan pengaplikasian yang nyata. Selama ini kita terlalu terjebak dengan retotika masa lalu yang mengurung pikiran kita. Ide-ide kreatf dan inovatif sejatinya mucul sedikit demi sedikit. Orang-orang diluar sana sudah berkarya dinegaranya yang maju, lantas  kita di Indonesia masih sering memperdebatkan benar salah dan pantas tidak pantasnya sesuatu.

Selain itu, kesadaran dari masing-masing pribadi juga sangat diharapkan. Sebaiknya mahasiswa focus pada tujuan tanpa melupakan tanggung jawab sosialnya. Alangkah indahnya negeri ini ketika dipenuhi dengan kaum intelektul yang memiliki integritas dibidangnya membangun Indonesia.
Hidup Mahasiswa
Jayalah Indonesiaku



0 Response to "Kembalikan identitas mahasiswa dari politik pragmatis"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel