-->

Melawan lupa untuk STAIN


Salinan Peraturan Presiden itu sejenak mengiringi langkah segenap civitas akademika kampus hijau pekan ini. Postingan di berbagai media berisi status sambutan hangat perubahan bentuk STAIN menjadi IAIN kian nampak. Janji tahunan dulunya dianggap mimpi belaka akhirnya bisa dibuktikan. Bukan lagi cerita fiktif sinetron yang memiliki kesamaan tanpa disengaja, melainkan ini adalah hasil perjuangan keras penuh tantangan dilalui baik pihak pimpinan dan juga mahasiswa.

Kenaikan kelas tersebut merupakan tuntunan kewajiban mutlak untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi setiap penghuninya, tentu tanggung jawab bersama kita. Kehidupan kampus telah memasuki tahap persiapan peresmian entah apakah tahun ini atau kapan, setidaknya ada titik terang menjawab pertanyaan kita selama ini.

Tulisan ini hanya secuil untaian kata tersirat dari hati seorang mahasiswa asal pedesaan yang hobinya ke gunung dan suka makan Barongko. Pertanyaan aneh tapi nyata mungkin saja sebatas omong kosong belaka bahkan tidak diperdulikan. Tentu perbedaan sangat nampak jika pejuang yang bertanya ketimbang orang sukses bertanya. Orang sukses bertanya pasti akan dijawab antusias segenap pendengar, beda halnya dengan pejuang yang bisa saja bertanya seratus kali tetapi enggan dijawab oleh siapapun.

Pertanyaannya ialah, apakah kata STAIN akan tetap dirindukan?

Rasa bahagia dan khawatir kadang bertengkar tanpa rencana tanpa perantara dinalar. Bahagianya karena perubahan bentuk dan khawatirnya ialah sudah siapkah mahasiswanya menjadi mahasiswa IAIN. Kedepan tantangan dan tanggung jawab sebagai mahasiswa tak semudah memposting status di sosial media yang hanya sekali klik di gadget.  

Kata tanya “bagaimana” memiliki pasangan membludak seketika. Bagaimana pimpinan kampus? Bagaimana mahasiswanya? Bagaimana tujuan? Bagaimana kualitasnya? Bagaimana Organisasinya? Bagaimana peradabannya? Bagaimana akhlaknya?dan masih banyak lagi bagaimana-bagaimana lainnya.

Jawaban mustahil didapatkan pada rumput bergoyang, tidak pula pada suara-suara mereka yang terdiam. Keindahan retorika bukanlah senjata ampuh. Apalagi jika ikut tren supaya keren. Hanya aksi nyata bisa menepis tantangan berliku menohok tajam.

Sinergitas birokrasi dengan mahasiswa laksana fatamorgana akar dan air tak terpisahkan satu sama lain. Ibarat mata uang beda sisi tetap menyatu selamanya. Mahasiswa membutuhkan birokrasi, begitu pula sebaliknya.

Egosentris mesti retas bersama-sama. Gengsi tinggi sok jual mahal bisa saja menghancurkan peradaban. Formalitas terlalu dijunjung tinggi memberi jarak diantara kita seakan-akan hanya sebatas kenalan tanpa hubungan timbal balik.

 Suatu saat kita merindukan kata “STAIN” bagai sepasang kekasih lelah disiksa rindu. Melupakannya sesulit mengingat orang yang tidak pernah kita kenal. Kenangan peradaban status Sekolah tinggi bukan masa lalu kelam, melainkan terowongan menuju cahaya menggapai kata Institute.

Selamat datang IAIN Parepare!
Petualangan baru saja dimulai!
Ucapkan Bismillah!


10 Responses to "Melawan lupa untuk STAIN"

Unknown said...

Waaaaaaah kereeen kak πŸ™πŸ™πŸ™

Unknown said...

Waaaaaaah kereeen kak πŸ™πŸ™πŸ™

Kak Ardi said...

wah makasih dek

Unknown said...

Mantap sodara

Nur Asia said...

Lanjutkan bakatx, brother.

Nur Asia said...

Lanjutkan bakatx, brother.

Kak Ardi said...

Terimah kasih banyak sodara

Kak Ardi said...

InsyaAllah Brother, Akrab bersahabat Allahu AkbarπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

Kak Ardi said...

InsyaAllah Brother, Akrab bersahabat Allahu AkbarπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

Kak Ardi said...

Terimah kasih banyak sodara

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel