-->

Apa yang dimaksud dengan Investasi



A.   PENGERTIAN INVESTASI
Investasi, yang lazim disebut juga dengan istilah penanaman modal atau pembentukan modal merupakan komponen kedua yang menentukan tingkat pengeluaran agregat. Dengan demikian istilah investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau pengeluaran penanam-penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlenhgkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian. Pertambahan jumlah barang modal ini memungkinkan perekonomian tersebut menghasilkan lebih banyak barang dan jasa di masa yang akan datang. Adakalanya penanaman modal dilakukan untuk menggantikan barang-barang modal yang lama hyang telah haus dan perlu didepresiasikan.
Dalam praktiknya, dalam usaha untuk mencacat nilai penanaman modal yang dilakukan dalam suatu tahun tertentu, yang digolongkan sebagai investasi (atau pembentukan modal atau penanaman modal) meliputi pengeluaran sebagai berikut:
              i.               Pembelian berbagai jenis barang modal, yaitu mesin-mesin dan peralatan produksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industri dan perusahaan.
            ii.               Pengeluaran untuk mendirikan rumah temnpat tinggal, bangunan, kantor, bangunan pabrik dan bangunan-bangunan lainnya.
          iii.               Pertambahan nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan mentah dan barang yang masih dalam proses produksi pada akhir tahun perhitungan pendapatan nasional.
Jumlah dari ketiga jenis komponen investasi tersebut dinamakan investasi bruto, yaitu meliputi investasi untuk menambah kemampuan memproduksi dalam perekonomian dan mengganti barang modal yang telah didepresiasiakan. Apabila investasi bruto dikurangi oleh nilai depresiasi maka akan didapat investasi neto.
Jumlah dari ketiga-tiga jenis komponen investasi tersebut dinamakan investasi bruto, yaitu ia meliputi investasi untuk menambah kemampuan memproduksi dalam perekonomian dan mengganti barang modal yang sudah didepresiasikan. Apabila investasi bruto dikurangi oleh nilai apresiasi maka akan didapat investasi neto.  Dalam teori ekonomi makro yang dibahas adalah investasi fisik. Dengan pembatasan tersebut maka definisi investasi dapat lebih dipertajam sebagai pengeluaran-pengeluaran yang meningkatkan stok barang modal. Stok barang modal adalah jumlah barang modal dalam suatu perekonomian pada saat tertentu.

B.   TEORI-TEORI INVESTASI
·         Teori investasi dari keynes
Di dalam bukunya The General Theory Of Employment, interest and Money (1936), John Maynard Keynes  mendasarkan teori tentang permintaan investasi atas konsep efesiensi marginal kapital (marginal efficiency of capital atau MEC). Sebagai suatu defenisi kerja, MEC dapat didefinisikan sebagai tingkat perolehan bersih yang diharapkan (expected net rate of return) atas pengeluaran kapital tambahan. Tepatanya, MEC adalah tingkat diskonto yang menyamakan aliran perolehan yang diharapkan di masa yang akan datang dengan biaya sekarang dari kapital tambahan.
Selaian teori investasi yang dikemukakan oleh John Maynard Keynes, juga dikenal beberpa teori investasi yang lain, seperti teoti akselerator (accelerator theory of invesment), teori dana internal (internal funds theory of invesment), teori neo klasik dan teori investasi dari tobin.
·         Teori akselerator
Teoti akselerator ini memusatkan perhatiannya pada hubungan antara permintaan akan barang modal (capital goods) dan permintaan akan produk akhir (fina product), dimana permintaan akan barang modal dilihat sebagai permintaan turunan (derived demand) dari permintaan akan barang atau produk akhir.
Dalam bentuknya yang paling sederhana,teori tersebut mulai dengan mengasumsikan adanya capital-output ratio ( COR) yang tertent, yang ditentukan oleh kondisis teknis produksi. Dalam model akselerator versi yang sederhana, stok kapital yang diinginkan adalah proporsional dengan tingkat output tunggal (singgel output level). Namun dalam versi yang lebih fleksibel, stok kapital yang diinginkan dispesifikasi sebagai fungsi dari output sekarang dan output dimasa yang lalu. Konsenkuensinya, didlam versi yang lebih fleksibel, stok kapital yang diinginlkan (desired) ditentukan oleh peritmbangan pertimbangan jangka panjang.  
Akhirnya, versi model akselerator yang sederhana mudah dimodifikasi sedemikian rupa  sehingga selain menjelaskan investasi netto juag dapat digunakan menjelaskan investasi bruto karena investasi netto adalah perubahan dalam stok kapital, dan untuk menentukan inestasi bruto, maka unumnya diasumsikan bahwa investasi penggantian adalah proporsional dengan stok kapital aktual.
·         Teori dana internal
Teori dana internal tentang investasi mengatakan bahwa stok kapital dan investasi yang diinginkan, bergantung pada tingkat keuntungan. Beberapa penjelasan tentang hal ini telah dikemukakan oleh sejumlah ahli diantarany adalah  Jan Timbergen yang mengatakan bahwa keuntungan yang terjadi secara akurat merefleksikan  keuntungan yang diharapkan. Karena investasi bergantung pada keuntungan yang diharapkan, maka investasi memiliki hubungan positif denag realizet profits.
Penjelsan lain mengatakan bahwa menejer dapat menetapkan sumber pembiayaaan investasi secara internal, dimana perusahaan dapat memeperoleh dana untuk keperluan investasi dari berbagai sumber, seperti:
1.      Pendapatan yang labah tidak dibagikan
2.      Pengeluaran depresiasi
3.      Berbagai macam pinjaman, termasuk penjualaln obligasi
4.      Penjualan saham.
Keuntungan atau labah yang tidak dibagikan dan pengeluaran depresiasi marupakan sumber dana internal bagi perusahaan, sedangkan sumber laiinya merupakan sumber dana eksternal bagi perushaan. Jadi singkatnya teori ini mengatakan stok kapital dan investasi yang diinginkan ditentukan oleh keuntungan. Bagi teori internal, penurunan didalam pajak pendpatan perusahaan, akan menyebabkan kenaikan yang signifikan dalam stok kapital dan investasi yang diinginkan.
·         Teori neo klasik
Teori neo klasik tentang investasi ini merupakan teori tentang akumulasi kapital optimal. Menurut teori ini, stok kapital yang didinginkan ditentukan oleh output dan harga dari jasa kapital relatif terhadap harga output. Harga jasa kapital pada gilirannya bergantung pada harga barang barang modal, tingkat bunga, dan perlakuan pajak atas pendapatan perusahaaan. Jadi, menurut teori ini perubahan didalam output atau harga dari jsa kapital realtif terhadap harga output akan mengubah atau mempengaruhi, baik stok kapital mapun investasi yang diinginka.
Teori neo kalsik mengatakan bahwa tingkat bunga merupakan faktor penentu dari stok kapital yang diinginkan. Jadi, kebijakan moneter, melalui efek atau pengaruhnya atas tingat bunga dapat mempengaruhi stok kapital dan investasi yang diinginkan.
·         Teori q dari tobin
Teori investasi dari tobin menyataakan bahwa stok kapital dan investasi yang diinginkan berhubungan positif dengan q, yaitu rasio antar nilai pasar dari modal terpsang perusahaan dengan biaya penggantian modal terpasang perusahaan tersebut. Secara sederhana, q adalah rasiao antar nilai pasar perusahaan denagn biaya penggantian modal.
Singkatnya, q tobin bergantung pada keuntungan sekarang dan keuntungan yang diperkirakan akan diperoleh dimasa yang akan datang dari modal yang terpasang. Jika produk marginal modal>biaya modal, maka perusahaan akan menghasilakn keuntungan atas modal terpasangnya, yng sekaligus menunjukkan niali q yang tinggi. Sebaliknya, apabila produk marginal modal<biaya modal, maka perushaan akan mengalami kerugin atas modal terpasangnya, dan menunjukkan nilai q yang rendah.
Karena harga psar saham cenderung bergerak berkebalikan dengan pergerakan didalam tingkat bunga pada umunya, maka perubahan didalam nilai q akan cenderung menunjukkan perubahan dengan arah yang berlawanan dengan perubahan didalam tingkat bunga tersebut. Karenaya, teori q tentang investasi adalah konsisten dengan modal dimana investasi secara fungsional adalah berhubungan tingkat bunga.

C.   FAKTOR PENENTU TINGKAT INVESTASI
Berbeda dengan yang dilakukan oleh para konsumen (rumah tangga) yang membelanjakan bagian terbesar dari pendapatan mereka untuk membeli barang dan jasa yang mereka butuhkan, penanam-penanam modal melakukan investasi bukan untuk memenuhi kebutuhan mereka tetapi untuk mencari keuntungan. Dengan demikian banyaknya keuntungan yang akan diperoleh besar sekali peranannya dalam menentukan tingkat investasi yang akan dilakukan oleh para pengusaha. Disamping ditentukan oleh harapan di masa depan untuk memperoleh untung, beberapa faktor ini juga penting peranannya dalam menentukan tingkat investasi yang akan dilakukan dalam perekonomian.
Faktor-faktor utama menentukan tingkat investasi adalah:
·         tingkat keuntungan yang diramalkan akan diperoleh (tingkat pengembalian modal)
·         efisiensi investasi marjinal
·         suku bunga dan tingkat investasi
Bagaimana  berbagai faktor di atas akan mempengaruhi kegiatan investasi dibicarakan dalam uraian-uraian berikut.
Terlebih dahulu akan diperhatikan hubungan di antara ramalan keuntungan yang akan diperoleh dengan suku bunga dan tingkat investasi. Sesudah itu akan diperhatikan faktor-faktor yang lain yang menentukan investasi.
Walaupun faktor-faktor penting yang menentukan jumlah investasi para pengusaha meliputi beberapa faktor, dua di antaranya mempunyai kesanggupan untuk menerangkan sebab-sebabnya perubahan tingkat investasi yang lebih penting dari faktor-faktor lainnya. Faktor tersebut adalah tingkat keuntungan yang diramalkan dan suku bunga.
Ramalan mengenai keuntungan masa depan (i) akan memberikan gambaran kepada para pengusaha mengenai jenis-jenis invetasi yang mempunyai prospek yang baik untuk dilaksanakan, dan (ii) besarnya investasi yang harus dilakukan untuk mewujudkan tambahan barang-barang modal yang diperlukan. Sedangkan, suku bunga menentukan jenis-jenis investasi yang akan memberi keuntungan kepada para pengusaha dan dapat dilaksanakan. Para pengusaha hanya akan melaksanakan keinginan untuk menanam modal apabila tingkat pengembalian modal dari investasi yang dilakukan, yaitu persentasi keuntungan yang akan diperoleh sebelum dikurangi bungan uang yang dibayar, lebih besar dari bunga. Oleh sebab itu dalam analisis makroekonomi, analisis mengenai investasi lebih ditekankan kepada menunjukkan peranan suku bunga dalam menentukan tingkat investasi dan akibat perubahan suku bunga ke atas investasi dan pendapatan nasional.
Walaupun seorang pengusaha memiliki tabungan yang cukup, dan oleh karenanya tidak perlu meminjam dari suatu lembaga keuangan untuk membiayai investasi yang ingin dilaksanakan, hal itu belumlah merupakan syarat yang cukup bagi terciptanya kegiatan investasi.
Pengusaha tersebut mempunyai dua pilihan dalam menggunakan tabungannya, yaitu : (i) meminjamkan/membungakan uang tersebut, atau (ii) menggunakannya untuk investasi. Di dalam keadaan dimana persentasi pengembalian modal yang akan diperolehnya adalah lebih kecil dari suku bunga, adalah lebih baik bagi pengusaha tersebut untuk membungakan uangnya dan membatalkan maksudnya untuk melakukan investasi. Kalau ia harus meminjam uang dari suatu lembga keuangan, pengusaha itu harus bertindak dengan lebih berthati-hati lagi.
Investasi yang direncanakannya, hanya akan dilaksanakan apabila tingkat keuntungan yang akan diperolehnya adalah lebih besar dari suku bunga yang harus dibayarnya. Hanya dalam keadaan seperti itu pengusaha tersebut akan memperoleh keuntungan dari usahanya.
a.     Tingkat Pengembalian Modal
Pendapatan yang diterima dari sesuatu kegiatan menanam modal biasanya akan diterima dalam beberapa tahun. Mungkin dalam dua tahun pertama keuntungan belum diperoleh, dan baru semenjak tahun ketiga hasil penjualan melebihi pengeluaran. Seterusnya, walaupun keuntungan dalam tahun ketiga adalah sama dengan tahun keenam (misalnya jumlahnya adalah seratus juta rupiah), dari segi pandangan perusahaan nilai keunttungan sebenarnya adalah berbeda. Keuntungan di tahun ketiga adalah lebih bernilai dari keuntungan di tahun keenam, oleh karena nilai sekarang dari keuntungan tersebut berbeda.
Menghitung nilai sekarang dari pendapatan yang diperoleh di masa depan atau menghitung tingkat pengembalian modal (keuntungan) merupakan cara yang digunakan perusahaan-perusahaan untuk menilai kesesuaian dari sesuatu investasi yang akan dilakukan.
Suatu kegiatan investasi dapat dikatakan memperoleh keuntungan apabila nilai sekarang pendapatan di masa depan adalah lebih besar daripada nilai sekarang modal yang diinvestasikan. Nilai sekarang pendapatan di masa depan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

                   NS =    +  +  +  +

Dalam persamaan di atas:
                                      i.            NS adalah nilai sekarang pendapatan yang diperoleh di antara tahun 1 sehingga tahun n, apabila dimisalkan investasi tersebut didepresiasikan pada tahun n.
                                    ii.            Y1, Y2...Yn, adalah pendapatan neto (keuntungan) yang diperoleh perusahaan antara tahun 1 hingga tahun n.
                                  iii.            R adalah suku bunga.
Dengan memisalkan nilai sekarang modal yang diinvestasikan adalah M, penanam modal tersebut dikatakan menguntungkan apabila NS besar dari M.
Menentukan tingkat pengembalian modal cara lain untuk menentukan apabila suatu investasi merupakan kegiatan yang menguntungkan atau merugikan dapat dikatakan dengan menghitung tingkat pengembalian modal dari investasi tersebut . Tingkat pengembalian modal dinyatakan dalam persen, dan ia menggambarkan tingkat keuntungan rata-rata per tahun dari modal yang diinvestasikan. Untuk menghitung tingkat pengembalian modal digunakan formula di bawah ini:
                   M  =  +  +  +  +
Dalam persamaan tersebut:
                                      i.            M adalah nilai modal yang diinvestasikan.
                                    ii.            Y1, Y2, Y3 hingga Yn adalah pendapatan neto (keuntungan)yang diperoleh dari tahun 1 hingga ke tahun n.
                                  iii.            R adalah tingkat pengembalian modal
Dalam persamaan di atas nilai yang akan dihitung adalah R karena M dan Y1hingga Ynsudah diketahui nilainya. Sesuatu investasi dipandang menguntungkan apabila nilai R lebih besar daripada suku bunga.
b.    Efesiensi Investasi Marginal
Di dalam suatu waktu tertentu, misalnya dalam tempo setahun, dalam perekonomian akan terdapat banyak individu dan perusahaan yang mempertimbangkan untuk melakukan investasi. Berbagai proyek investasi ini mempunyai tingkat pengembalian modal yang berbeda, yaitu sebagian dari proyek investasi itu akan menghasilkan keuntungan yang tinggi, dan ada proyek yang keuntungannya rendah. Berdasarkan kepada jumlah modal yang akan ditanam dan tingkat pengembalian modal yang diramalkan akan diperoleh, analisis makroekonomi membentuk suatu kurva yang dinamakan efesiensi investasi marginal. Berdasarkan kepada hal-hal yang dihubungkannya, efesiensi investasi marginal dapat didefinisikan sebagai suatu kurva yang menunjukkan hubungan di antara tingkat pengembalian modal dan jumlah modal yang akan diinvestasikan.
Untuk memperjelas arti konsep efesiensi investasi marjinal dalam gambar di atas ditunjukkan satu contoh dari kurva efisiensi investasi marjinal (MEI). Sumbu tegak menunjukkan tingkat pengembalian modal dan sumbu datar menunjukkan jumlah investasi yang akan dilakukan. Pada kurva MEI ditunjukkan tiga  buah titik: A, B dan C. titik A menggambarkan bahwa tingkat pengembalian modal adalah Ro dan Investasi adalah Io. Ini berarti titik A menggambarkan bahwa dalam perekonomian dapat dilakukan kegiatan investasi yang akan menghasilkan tingkat pengembalian modal sebanyak Ro atau lebih tinggi, dan untuk mewujudkan investasi tersebut modal yang diperlukan adalah sebanyak Io. Titik B dan C juga memberikan gambaran yang sama. Titik B menggambarkan wujud kesempatan untuk menginvestasi dengan tingkat pengembalian modal R1 atau lebih, dan modal yang diperlukan adalah I1. Dan titik C menggambarkan, untuk mewujudkan usaha yang menghasilkan tingkat pengembalian modal sebanyak R2 atau lebih, diperlukan modal sebanyak I2.
c.      Suku Bunga dan Tingkat Invetasi
Para penanam modal harus pula mempertimbangkan suku bunga. Apabila suku bunga tinggi dari tingkat pengembalian modal, investasi yang direncanakan tidak menguntungkan, oleh sebab itu rencana perusahaan untuk melakukan investasi akan dibatalkan. Kegiatan investasi hanya akan dilakasnakan apabila tingkat pengembalian modal lebih besar atau sama dengan suku bunga. Dengan demikian, untuk menentukan besarnya investasi yang harus dilakukan kita perlu menghubungkan kurva MEI dengan suku bunga, yaituseperti yang terdapat pada gambar di bawah. Pada suku bunga sebesar r0 terdapat investasi bernilai I0 yang mempunyai tingkat pengembalian modal sebanyak r0 atau lebih. Maka pada suku bunga sebanyak r0, investasi yang akan dilakukan perusahaan adalah I0. Apabila suku bunga adalah r1 diperlukan modal sebanyak I1 untuk mewujudkan investasi yang mempunyai tingkat pengembalian modal r1 atau lebih. Dengan demikian pada suku bunga sebanyak r1 investasi akan dilkukan adalah sebnyak I1.
Adapula “penentu-penentu investasi yang lain” dimana telah dinyatakan bahwa (i) penentu utama investasi adalah suku bungan dan tingkat pengembalian modal atau prospek keuntungan serta efisiensi investasi marjinal, dan (ii) disamping itu ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi investasi, yaitu : ramalan mengenai keadaan ekonomi di masa depan, kemajuan teknologi, tingkat pendapatan nasional, dan keuntungan perusahaan. Uraian dalam bagian ini akan menerangkan bagaimana faktor-faktor lain tersebut akan mempengaruhi investasi.
a.       Ramalan keadaan perekonomian di masa depan
Kegiatan perusahaan untuk mendirikan industri dan memasang peralatan pabrik yang baru adalah kegiatan yang memakan waktu. Di perusahaan-perusahaan yang sangat besar kegiatan investasi dapat memakan waktu beberapa tahun. Dan apabila investasi itu sudah selesai dilaksanakan, yaitu pada waktu industry atau perusahaan yang didirikan itu sudah mulai menghasilkan barang atau jasa, maka ia akan terus melakukan kegiatannya selama beberapa tahun. Di dalam investasi-investasi yang seperti itu biasanya modal baru diperoleh kembali apabila kegiatan memproduksi sudah berjalan selama beberapa tahun. Oleh sebab itu dalam menentukan apakah kegiatan-kegiatan yang akan dikembangkan itu akan memperoleh untung atau akan menimbulkan kerugian, para pengusaha haruslah membuat ramalan-ramalan mengenai keadaan masa depan.
Dalam membuat ramalam mengenai keadaan masa depan pada hakikatnya para pengusaha harus bertanya: Apakah keadaan masa depan menunjukkan bahwa keuntungan yang cukup besar akan diperoleh dari pengembangan kegiatan ekonomi yang sedang dibuat atau direncanakan? Ramalan yang menunjukkan bahwa keadaan perekonomian termasuk situasi politik dari keamanan akan menjadi lebih baik lagi pada masa depan, yaitu diramalkan bahwa harga-harga akan tetap stabil dan pertumbuhan ekonomi maupun pertambahan pendapatan masyarakat akan berkembang dengan cepat, merupakan keadaan yang akan mendorong pertumbuhan investasi. Makin baik keadaan masa depan, makin besar tingkat keuntungan yang akan diperoleh para pengusaha. Oleh sebab itu akan lebih terdorong untuk melaksanakan investasi yang telah atau sedang dirumuskan dan direncanakan.
b.      Perubahan dan perkembangan teknologi
Faktor keempat yang menentukan besarnya investasi yang akan dilakukan oleh para pengusaha adalah kegiatan para pengusaha untuk menggunakan penemuan-penemuan teknologi yang baru dalam proses produksi.kegiatan para pengusaha untuk menggunakan teknologi yang baru dikembangkan di dalam kegiatan produksi atau manajemen dinamakan mengadakan pembaruan atau inovasi. Pada umumnya makin banyak perkembangan teknologi yang dibuat, makin banyak pula kegiatan pembaruan yang akan dilakukan oleh para pengusaha. Untuk melaksanakan pembaruan-pembaruan para pengusaha harus membeli barang-barang modal yang baru, dan adakalanya juga harus mendirikan bengunan-bangunan pabrik/industry yang baru. Maka makin banyak pembaruan yang  akan dilakukan, makin tinggi tingkat investasi yang akan tercapai.
Adakalanya barang modal baru yang harus digunakan untuk melaksanakan pembaruan adalah sangat sederhana. Oleh karenanya investasi yang harus dilaksanakan untuk melakukan pembaruan itu tidak terlalu besar jumlahnya. Tetapi adakalanya, seperti misalnya pembaruan dalam kegiatan pengangkutan udara, ia memerlukan investasi yang sangat besar. Penggantian kapal terbang yang lama dengan yang baru yang lebih besar, lebih cepat, dan lebih modern oleh berbagai perusahaan penerbangan memerlukan biaya yang sangat besar.
Sejarah perkembangan ekonomi dunia menunjukkan bahwa di dalam dua abad belakangan ini penemuan dan pembaruan sangat besar peranannya dalam mempercepat proses pembangunan. Pembaruan-pembaruan dalam semua sektor ekonomi telah mempertinggi produktivitas di berbagai bidang kegiatan ekonomi. Produktivitas yang bertambah tinggi itu di satu pihak, telah memungkinkan pertambahan produksi yang sangat cepat dan memungkinkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Di lain pihak, produktivitas yang bertambah tinggi secara terus menerus telah menaikkan pendapatan para pekerja. Apabila pendapatan terus menerus bertambah, permintaan atas berbagai jenis barang akan terus menerus bertambah pula. Yang belakangan ini akan mendorong lebih banyak investasi dan mempercepat lagi lajunya pertumbuhan ekonomi.
c.       Efek pertumbuhan pendapatan nasional
Dalam kebanyakan analisis mengenai penentuan pendapatan nasional pada umunya di anggap investasi yang dilakukan para pengusaha adalah berbentuk investasi otonomi. Walau bagaimanapun, pengaruh pendapatan nasional kepada investasi tidak dapat diabaikan. Perlulah disadari bahwa tingkat pendapatan nasional yang tinggi akan memperbesar pendapatan masyarakat, dan selanjutnya pendapatan masyarakat yang tinggi tersebut akan memperbesar permintaan terhadap barang-barang dan jasa-jasa. Maka keuntungan perusahaan akan bertambah tinggi dan ini akan mendorong dilakukannya lebih banyak investasi. Dengan perkataan lain, dalam jangka panjang apabila pendapatan nasional bertambah tinggi, maka investasi akan bertambah tinggi pula.
d.      Keuntungan perusahaan
Dana investasi diperoleh perusahaan dari meminjam atau dari tabungannya sendiri. Tabungan perusahaan terutama diperoleh dari keuntungan, semakin besar untungnya semakin besar pula keuntungan yang tetap disimpan perusahaan. Keuntungan yang semakin besar ini memungkinkan perusahaan memperluas usahanya atau mengembangkan usaha baru. Langkah seperti ini akan menambah investasi dalam perekonomian.

D.   PENGELUARAN-PENGELUARAN DALAM INVESTASI
Secara statistic, investasi atau pengeluaran untuk membeli modal dan peralatan produksi, dibedakan kepada empat komponen, yaitu : investasi perusahaan-perusahaan swasta, pengeluaran untuk mendirikan tempat tinggal, perubahan dalam investaris (“inventory”) perusahaan dan investasi yang dilakukan oleh pemerintah.
Investasi perusahaan-perusahaan merupakan komponen yang terbesar dari investasi dalam suatu Negara pada suatu tahun tertentu. Pengeluaran investasi ini pulalah yang terutama diperhatikan oleh ahli-ahli ekonomi dalam membuat analisis mengenai investasi. Pengeluaran investasi tersebut terutama meliputi mendirikan bangunan industry, membeli mesin-mesin dan peralatan produksi lain dan pengeluaran untuk menyediakan bahan mentah (seperti menanam kelapa sawit dan pokok karet). Tujuan para pengusaha untuk mewujudkan alat-alat produksi tersebut adalah untuk memperoleh keuntungan dari kegiatan memproduksi yang akan dilakukannya dimasa depan. Ini berarti investasi yang dilakukakn di masa kini sangat erat hubungannya dengan prospek keuntungan yang lumayan di masa depan, semakin tinggi investasi yang akan dilakukan pada masa kini.
Pemerintah juga melakukan investasi. Berbeda dengan investasi perusahan yang mendasarkan investasi untuk tujuan mencari untung, investasi pemerintah didasarkan kepada pertimbangan lain, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu investasi pemerintah selalu dinamakan juga sebagai investasi social karena kebanyakan dari perbelanjaan investasinya digunakan untuk menciptakan modal tetap social atau social overhead capital. Investasi-investasi seperti itu meliputi membuat jalan raya, pelabuhan dan irigasi, mendirikan sekolah dan rumah sakit dan membangun bendungan-bendungan. Analisis keatas investasi seperti ini bukanlah merupakan aspek yang diliputi dan  dibahas secara mendalam dalam teori makroekonomi.
Pembangunan rumah-rumah tempat tinggal yang berbentuk unit terpisah atau bangunan bertingkat dan kondominium juga merupakan perbelanjaan yang digolongkan sebagai investasi. Sebabnya yang terpenting adalah karena rumah mempunyai sifat yang mendekati peralatan produksi perusahaan, yaitu : (i) memakan waktu yang lama sebelum nilainya susut sama sekali, dan (ii) bangunan tersebut secara terus menerus manghasilkan jasa yaitu menyediakan tempat tinggal untuk pemilik atau penyewanya. Nilai sewa dari rumah tempat tinggal dihitung dalam nilai pendapatan nasional.
Komponen yang paling kecil dari investasi adalah investasi ke atas investaris atau inventory yaitu stok barang simpanan perusahaan. Barang-barang yang digolongkan sebagai “inventory” meliputi bahan mentah yang belum di proses, barang setengah jadi yang sedang di proses dan barang yang sudah dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan itu tetapi masih dalam simpanan dan belum dijual ke pasaran. Menyediakan barang-barang seperti itu penting artinya dalam meciptakan efesiensi dan kelancaran kegiatan perusahaan.
E.   PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK MELAKUKAN INVESTASI
Setap pengusaha melakukan investasi untuk memperoleh kwuntungan. Tetapi keuntungan ini tidak dapat diperoleh seketika atau dalam waktu yang dekat. Pada umumnya hasil penjualan dan keuntungan akan diperoleh dalam suatu periode yaitu selama masa hidup barang modal yang digunakan, di masa yang akan dating. Dengan demikian kegiatan investasi yang akan dilakukan oleh para pengusaha pada masa kini sangat mempengaruhi oleh ramalan atau ekspektasi ke atas hasil penjualan dan keuntungan yang diharapkan akan diperoleh dalam mengembangkan suatu kegiatan ekonomi.
DUA PENDEKATAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Dalam analisis ekonomi dua pendekatan dapat digunakan untuk menentukan prospek sesuatu proyek kegiatan memproduksi. Yang pertama ialah dengan menentukan nilai sekarang dari pendapatan neto yang diperoleh sepanjang umur ekonomi proyek tersebut. Dengan pendekatan ini, sesuatu proyek dikatakan menguntungkan apabila nilai sekarang dari pendapatan neto proyek tersebut adalah melebihi biaya yang dibelanjakan untuk mewujudkan proyek tersebut.
Pendekatan yang kedua adalah dengan menentukan tingkat pengembalian modal (rate of returns) suatu proyek. Yang dimaksudkan dengan tingkat pengembalian modal adalah pendapatan bersih sesuatu proyekk dinyatakan dalam persentasi dari modal yang ditanamkan dalam mengembangkan sesuatu proyek.
Dalam menganalisis kemungkinan pemungutan suatu proyek (feasibility) pendekatan yang pertama adalah lebih praktis. Dengan pendekatan ini seorang pengusaha akan dapat menentukan dalam nilai uang sampai di mana pendapatan yang akan diperoleh berbeda (melebihi atau kurang) dari modal yang dibelanjakan. Walau bagaimanapun, Dalam teori ekonomi, yang lebih berguna adalah pendekatan kedua. Ia dapat memberikan gambaran yang l;ebih jelas mengenai perbedaan di antara suku bunga yang berlaku dalam perekonomiaan dengan tingkat pengembalian modal proyek-proyek yang akan dijalankan.
a.       Pendekatan nilai sekarang
Nilai sekarang dapat diartikan dengan nilai sejumlah uang tertentu di masa depan yang dinyatakan sebagai nilai masa kini. Pendekatan nilai sekarang ini perlu dihitung untuk membantu pengusaha(penanaman modal) menentukan apakah sesuatu proyek tertentu mempunyai prospek mengembalikan modal yang ditanamnya dan beroperasi secara menguntungkan.
b.      Pendekatan tingkat pengembalian modal
Dalam penentuan pendekatan ini hampir sama dengan pendekatan nilai sekarang.
Kedua pendekatan yang diterangkan adalh bersifat komplementer yaitu yang satu melengkapi yang lainnya. Dalam pendekatan nilai sekarang seorang pengusaha (investor) dapat dengan cepat mengetahui perbedaan nilai di antara investasi yang dilakukan dengan nilai sekarang dari aliran pendapatan neto yang akan diterima di masa datang. Sedangkan pendekatan tingkat pengembalian modal dapat menunjukkan besarnya perbedaan di antara suku bunga yang berlaku dengan tingkat pengembalian modal dari proyek yang direncanakan. Dalam teori ekonomi pendekatan yang kedua mempunyai kedudukan yang lebih penting karena ia dapat membantu menerangkan hubungan di antara suku bunga dan tingkat investasi yang akan dilakukan pada suatu periode tertentu.

F.    JENIS-JENIS INVESTASI
Pembagian Investasi menurut jenisnya, dimana cara pembagian ini dibagi menjadi delapan jenis yang terkelompokkan menjadi empat kelompok, sehingga masing-masing kelompok berisi dua. Yang perlu diperhatikan sebelum membicarakan hal ini lebih dalam adalah bahwa sesuatu produk barang investasi mungkin sekali memiliki atau menempati lebih dari satu jenis di antara jenis-jenis investasi dibawah ini. Namun demikian, perangkapa seperti ini tidak mungkin terjadi di dalam sesuatu kelompok pembagian tertentu. Perangkapan seperti ini hanya dapat terjadi lebih dari satu pengelompokkan. Misalnya, pembangunan sebuah jalan raya bias jadi termasuk domestic investment mauapun public investment dan sekaligus juga foreign investment (sebab domestic dan foreign investment itu terdapat dalam satu pengelompokkan). Untuk dapat memahami hal-hal lebih lanjut, dibawah ini diuraikan pembagian jenis-jenis investasi itu.
a.       Autonomous investment dan induced investment.
Autonomous investment (investasi autonom ) adalah investasi yng besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh pendapatan, tetapi dapat berubah oleh karena adanya perubahan-perubahan faktor-faktor diluar pendapatan. Faktor-faktor selain pendapatan yang mempengaruhi tingkat investasi seperti itu adalah, misalnya, tingkat teknologi, kebijaksanaan pemerintah, harapan para pengusaha dan sebagainya.
Tingkat teknologi dapat mengubah investasi, sekalipun tidak ada perubahan di dalam tingkat pendapatan. Kemajuan teknologi perang menyebabkan banyak Negara yang menanamkan modal di bidang militer mereka, sekalipun sebenarnya pemerintah. Kalau misalnya pemerintah menghendaki agar di daerah-daerah terpencil segera diberi aliran listrik, maka investasi di bidang listrik ini pun akan meningkat sekalipun misalnnya GNP tidak mengalami perubahan. Adapun harapan para pengusaha, maka inilah salah satu pegangan yang sering dipergunakan oleh para pengusaha untuk menetapkan volume investasinya.
Jikalau mereka meramalkan bahwa hari depan usahanya adalah hari depan yang cerah, maka mereka akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapai kecerahan itu dengan cara melakukan investasi sejak sekarang sekalipun barangkali pendapatannya tidaklah berubah; vice versa.
Induced investment (investasi terimbas) adalah bersebelahan dengan aoutonomous investment. Induced investment ini sangat  dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Fungsi investasi adalah I(Y), dimana fungsi itu menyatakan tingginya tingkat investasi terimbas pada berbagaia tingkat pendapatan. Fungsi investasi itu condong ke kanan atas, untuk menyatakan bahwa antara tingkat investasi dengan tinngkat pendapatan terdapat hubungan positif, sebagaimana hubungan yang ada antara konsumsi dan tabungan di satu pihak, dengan pendapatan di lain pihak. Juga fungsi I(Y) itu dilukiskan sedemikian rupa, sehingga memotong sumbu Y dari bawah, dimaksudkan untuk menyatakan bahwa terdapat investasi negative pada suatu tingkat pendapatan yang rendah (yaitu tingkat pendapatan nol hingga OY2). Dengan perkataan lain, para pengusaha berpendapat bahwa rendahnya tingkat pendapatan nasional (kurang atau sama dengan OY2) justru akan membawa bencana bagi kehidupan usaha mereka dimasa mendatang. Itulah sebabnya, sehingga mereka pun lalu menjual barang-barang investasi yang telah mereka punyai. Berkurangnya jumlah barang-barang investasi yang disebut disinvestment (investasi negative).
Dalam pada itu, disinipun dijumpai pula ada yang disebut Average Propensity to Invest (API-hasrat merata untuk melakukan investasi) dan Marginal Propensity to Invest (MPI-hasrat marginal untuk melakukan investasi). Apa yang sedang kita bicarakan ini adalah serupa saja dengan APC, APS, MPC, dan MPS. API adalah ratio yang menunjukkan berapa bagiankan daripada seluruh pendapatan rasional yang dilakukan untuk keperluan investasi. API ini diperdebat dengan rumus I/Y, atau investasi dibagi dengan pendapatan. Sedangkan MPI, adalah ratio yang menyatakan berapa bagiankah dari pertambahan pendapatan yang dikeluarkan untuk investasi: rumus untuk mendapatkannya adalah ∆I/∆Y.
Dalam hal ini yang harus senantiasa diingiat adalah  bahwa baik API maupun MPI ini  tidak dikenal dalam hubungannya dengan tingkat pendapatan. Pembicaraan masalah API dan MPI ini hanyalah akan dijumpai pada waktu dibicarakan masalah investasi terimbas saja ebab jenis investasi ini dipengaruhi oleh tingginya tingkat pendapatan, atau menurut istilah teknisnya: investasi terimbas merupakan fungsi daripada pendapatan.
b.      Public investment dan private investment.
Public investment adalah investasi atau penanaman modal yang dilakukan oleh pemerintah. Yang dimaksud dengan perkataan pemerintah di sini adalah baik pemerintah pusat, maupun pemerintah daerha tingkat satu, tingkat dua, kecamatan, maupun desa. Pendek kata, public investment tidak dilaksanakan oleh pihak-pihak yang bersifat personal : investasi ini bersifat impersonal, dalam arti kata resmi. Sedangkan private investment addalah kebalikannya. Private investment adalah investasi yang dilaksanakan oleh swasta.
Sudah barang tentu, pertimbangan-pertimbangan yang dipakai disini lain sekali dengan pertimbangan-pertimbangan yang dipakai waktu menetapkan penanaman modal pemerintah (public investment) tadi.
Di dalam private investment, unsure-unsur seperti keuntungan yang akan diperoleh, masa depan penjualan, dan sebagainya memainkan peranan yang snagat penting dalam menentukan volume investasi, sementara dalam menentukan volume public investment pertimbangan itu lebih diharapkan kepada melayani atau menciptakan kesejahteraan bagi rakyat banyak.
c.       Domestic investment dan foreign investment.
Domestic artinya adalah dalam negeri, sedangkan foreign artinya adalah luar negeri. Dengan itu jelaslah bahwa domestic investment adalah penanam modal dalam negeri di dalam suatu Negara.
Sedangkan foreign investment adalah penanaman modal asing. Sebuah Negara yang memiliki banyak sekali faktor produksi alam (natural resource) dan/atau faktor produksi tenaga manusia (human resources) namun tidak emiliki faktor produksi modal (capital) yang cukup untuk mengolah sumber-sumber yang dimilikinya itu, akan mengundang modal asing ini, agar sumber-sumber yang ada di dalam negeri tetapi belum termanfaatkan sepenuhnya itu bias digali sehingga tidak mubazir.
d.      Gross investment dan net investment.
Gross investment (investasi bruto) adalah total seluruh investasi yang diadakan atau yang dilaksanakan pada suatu ketika.
Dengan demikian, investasi bruto ini dapat bernilai positif ataupun  nol(yakni ada atau tidak ada invetasi sama sekali), tetapi tidak akan bernilai negative. Dimaksudkan dengan investasi bruto, dengan tidak peduli jenis investasi apa sajakah yang dilaksanakan itu.
Jadi, mungkin sekali investasi bruto itu mencakup segala jenis investasi. Baik yang autonomous maupun yang linducced, baik yang private maupun yang public, baik yang domestic maupun yang foreign, ataupun bahkan baik sebagian maupun seluruh jenis itu. Pendek kata, seluruh investasi yang dilakukan di sesuatu Negara(atau daerah, tentunya)  pada atau selama suatu periode waktu tertentu dinamakan investasi bruto (gross investment).
Dalam pada itu, selama satu periode pemakaiannya, investasi itu tentu saja mengalami kesusutan. Kesusutan inilah yang disebut pula dengan depresiasi (depreciation) atau capital consumption allowances atau replacement cost, atau pengahapusan, atau penyusutan ataupun keausan. Yang manapun diantara sebutan yang banyak itu boleh dipakai sebab seluruhnya itu menyatakan suatu hal yang sama, yaitu tentang hilangnya nilai sebagian (atau seluruhnya) benda-benda modal atau barang-barang investasi, sebagai akibat digunakannya barang-barang tersebut dalam proses produksi.
Yang masih perlu ditambahkan di sini adalah bahwa depresiasi itu ada dua macamnya. Yang pertama adalah tehnical depreciation (penghapusan teknis) dan yang kedua adalah economical depreciation (pengahapusan ekonomis). Yang dimaksudkan dengan technical depreciation adalag penghapusan yang terjadi karena faktor umur dan/atau daya tahan bahan modal yang bersangkutan. Sedangkan economical depreciation adalah penghapusan yang terjadi karena adanya faktor ekonomis, mislanya bahwa suatu barang modal tertentu secra ekonomis sudah tidak lagi menguntungkan untuk dipakai terus dalam rposes produksi.
Setiap barang modal atau barang investasi masing-masing dapat susut nilainya baik karena kondisi teknisnya maupun karena alasan-alasan ekonomis seperti digunakannya alat lain yang lebih modern dan lebih prduktif, maupun karena bergesernya selera masyarakat, ataupun karena sebab-sebab lain yang bersifat ekonomis. Dengan perkataan lain setiap barang modal yang digunakan akan dibatasi pemakaiannya oleh usianya : sedangkan usia barang modal atau baranng investasi itu sendiri ada dua macam, yaitu usia teknis, dan usia ekonomis. Usia teknis akan ditentukan oleh alasan-alasan teknis, sedangkan panjangnya usia ekonomis ditentukan oleh sebab-sebab ekonomis seperti yang sudah diuraikan di depan. Biasanya (jadi; ttidak selalu), usia teknis akan lebih panjang daripada usia ekonomis.
Net investment (investasi neto) adala selisih antara investasi bruto dengan penyusutan.
Dari ketiga unsur diatas, akan semakin nyatalah bahwa investasi memegang peranan yang teramat penting di dalam menentukan maju/mundurnya perekonomian. Sebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena investasi merupakan cermin daripada produksi, sehingga tanpa adanya investasi yang memadai, maka tidaklah berlebih-lebihan bila dikatakan bahewa produksi pun akan surut, sekalipun juga tidak seluruhnya benar jika dikatakan bahwa produksi akan macet jika investasi tidak ada sama sekali. Namun yang jelas adalah bahwa investasi memang menepati tempat yang terhormat lagi penting dalam menentukan maju/mundurnya perekonomian.
Dalam hal ini didapat tiga criteria sebagai berikut :
                                                  i.            Jika investasi bruto lebih besar daripada penyusutan, maka perekonomian yang bersangkutan akan mengalami kemajua (progressing economy/investing economy).
                                                ii.            Jika investasi bruto sama dengan penyusutan, atau dengan perkataan yang lain jika investasi bruto hanya cukup untuk menutup penyusutan yang terjadi, maka perekonomian yang bersangkutan akan tetap berada pada keadaannya semula tidak maju dan tidak pula mundur (stationary economy).
                                              iii.            Jika investasi bruto lebih kecil daripada penyusustan maka perekonomian yang bersangkutan niscaya akan mengalami kemunduran (digressing economy/disinvesting economy/retrogressing economy).

G.  FUNGSI INVESTASI
Kurva yang menunjukkan perkaitan di antara tingkat investasi dan tingkat pendapatannasional dinamakan fungsi investasi. Bentuk fungsi investasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu  ia sejajar dengan sumbu datar, atau  bentuknya naik ke atas ke sebelah kanan (yang berarti makin tinggi pendapatan nasional, makin tinggi investasi). Fungsi atau kurva investasi yang sejajar dengan sumbu datar dinamakan investasi otonomi dan fungsi investasi yang semakin tinggi apabila pendapatan nasional meningkat dinamakan investasi terpengaruh. Dalam analisis makroekonomi biasanya dimisalkan bahwa investasi perusahaan bersifat investasi otonomi.
Bentuk ndan kedudukan fungsi investasi. Investasi otonomi berarti pembentukan modal yang tidak dipengaruhi pendapatan nasional. Dengan perkataan lain, tinggi rendahnya pendapatan nasional tidak menentukan jumlah investasi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan. Analisis makroekonomi tidaklah mengabaikan pengaruh tingkat pendapatan nasional kepada investasi. Tetapi ahli-ahli ekonomi menganggap bahwa faktor itu bukanlah faktor yang menentukan tingkat investasi. Uraian sebelum ini telah diterangkan bahwa investasi terutama ditentukan oleh suku bunga. Apabila suku bunga tinggi, jumlah investasi akan berkurang, sebaliknya suku bunga yang rendah akan mendorong lebih banyak investasi.

H.  PERANAN INVESTASI DALAM PEREKONOMIAN
Dari segi nilainya dan proporsinya kepada pendapatan nasioanl, investasi perusahaan-perusahaan tidaklah sepenting seperti pengeluaran konsumsi rumah tangga. Namun demikian kenyataan tersebut tidaklah berarti bahwa investasi perusahaan adalah kurang penting peranannya kalau dibandingkan dengan konsumsi rumah tangga. Yang berlaku adalah yang sebaliknya, yaitu kerap kali fluktuasi kegiatan ekonomi sangat erat hubungannya dengan perubahan-perubahan dalam kegiatan investasi. Diberbagai Negara, terutama di Negara-negara industry yang perekonomiannya sudah sangat berkembang, investasi perusahaan adalah sanagt “volatile” yaitu selalu mengalami kenaikan dan penurunan yang sangat besar, dan merupakan sumber penting dari berlakunya fluktuasi dalam kegiatan perekonomian.
Disamping itu perlu diingat bahwa  kegiatan investasi memungkinkan suatu masyarakat terus menerus mengingkatkan kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan nasional, dan meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat. Peranannya ini bersumber dari tiga fungsi penting dari kegiatan investasi dalam perekonomian. Yang pertama, investasi merupakan salah satu komponen dari pengeluaran agregar. Maka kenaikkan investasi akan meningkatkan permintaan agregat dan pendapatan nasional. Peningkatan seperti ini akan selalu diikuti oleh pertambahhan dalam  kesempatan kerja. Yang kedua, perttambahan barang modal sebagai akibat investasi akan menambahkan kapasitas memproduksi di masa depan dan perkembangan ini akan menstimulir perttambahan produksii nasional dan kesempatan kerja. Ketiga, investasi selalu diikuti oleh perkembangan teknologi. Perkembangan ini akan memberi sumbangan penting ke atas kenaikan produktivitas dan pendapatan per kapita masyarakat.

Daftar Pustaka
Sukirno Sadono, 2004, Teori Pengantar Makroekonomi Edisi Ketiga, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sukirno Sadono, 2000, Makroekonomi Modern, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Rosyidi Suherman, 2003, Pengantar Teori Ekonomi Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Mikro & Makro, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Kelana Said, 1997, Teori Ekonomi Makro, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Nanga Muana, 2005, Makro Ekonomi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada


0 Response to "Apa yang dimaksud dengan Investasi"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel