-->

Pendapatan Nasional dalam perspektif Islam

Pendapatan nasional dalam perspektif Islam
Pendapatan nasional menggambarkan tingkat produksi Negara yang dicapai dalam suatu tahun tertentu dan perubahannya dari tahun ke tahun. Pendekatan ekonomi konvensional menyatakan GDP (gros domestic product/produk domestik bruto) atau GNP rill (gross national product/produk nasional bruto)  dapat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur dalam menilai kesejahteraan ekonomi atau kesejahteraan masyarakat suatu Negara. Pada waktu GNP naik, maka dapat disimpulkan bahwa rakyat mengalami pertambahan materi tentunya setelah dibagi dengan jumlah penduduk (GNP perkapita). Dalam teori ekonomi konvensional, pendapatan nasional biasanya bersumber dari penerimaan pajak dan penerimaan bukan pajak yang digunakan untuk membiayai pembangunan dan pengeluaran-pengeluaran rutin pemerintah.
Dalam perspektif Islam, ekonom muslim menolak konsep yang menjadikan pendapata nasional (GNP) sebagai tolak ukur kesejahteraan suatu Negara dengan alasan tidak selamanya pendapatan nasional yang turun mencerminkan bahwa kesejahteraan masyarakat ikut turun. Bisa saja pendapatan nasional dalam hal ini GNP turun dikarenakan orang-orang mengurangi jam kerja atau menambah leisure time (waktu istirahat). Tentu saja hal ini tidak menggambarkan kesejahteraan mereka turun, justru sebaliknya. Seharusnya ukuran kesejahteraan ekonomi dalam konsep Pendapatan Nasional riil harus mampu menggambarkan kesejahteraan pada suatu negara secara riil. Riil yang dimaksud ini menurut penulis harus dapat menggambarkan keadaan masyarakat secara nyata sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya dan tidak hanya berpedoman pada satu tolak ukur saja.
Boleh jadi pendapatan nasional yang tinggi hanya menggambarkan golongan atas saja atau dengan kata lain tingkat ketimpangan distribusi tinggi sehingga tidak menunjukkan tingkat kesejahteraan suatu Negara. Bisa jadi pendapatan nasional tinggi, akan tetapi pendapatan perkapita rendah.
Bagaimana Islam mengkritis perhitungan GDP rill/kapita yang dijadikan sebagai indikator bagi kesejahteraan suatu Negara? Pendapatan Nasional dalam Perspektif Ekonomi Islam terdapat beberapa perbedaan dalam Aktifitas ekonomi dengan ekonomi konvensional. Salah satunya adalah dalam sistem ekonomi Islam menggunakan parameter falah, yaitu kesejateraan yang hakiki atau kesejahteraan dunia dan akhirat, Sejahtera dunia diartikan sebaga segala yang memberikan kenikmatan hidup inderawi, baik fisik, intelektual, biologis maupun material.
Sedangkan kesejahteraan akhirat diartikan sebagai kenikmatan yang yang diperoleh setelah kematian manusia. Perilaku manusia di dunia diyakini akan berpengaruh terhadap kesejahteraan di akhirat yang abadi. Ekonomi Islam dalam arti sebuah sistem ekonomi merupakan sebuah sistem yang dapat mengantar umat manusia kepada real walfare falah (kesejahteraan yang sebenarnya). Al-falah dalam pengertian Islam mengacu kepada konsep Islam tentang manusia itu sendiri. Karena itu seluruh kegiatan duniawi termasuk dalam aspek ekonomi diarahkan tidak saja untuk memenuhi tuntutan fisik (jasadiyah) melainkan juga memenuhi kebutuhan ruhani dimana roh yang merupakan esensi manusia. Maka dari itu, selain harus memasukkan unsur falah dalam menganalisis kesejahteraan, penghitungan pendapatan nasional berdasarkan Islam juga harus mampu mengenali bagaimana interaksi instrument-instrumen wakaf, zakat, sedekah untuk meningkatkan kesejahteraan

2.2 Sumber-sumber pendapatan nasional dalam perspektif Islam
Adapun sumber-sumber pendapatan nasional dalam ekonomi Islam antara lain:
1. Ghanimah
Secara etimologi berasal dari kata ghanama-ghanimatuh yang berarti memperoleh jarahan ‘rampasan perang’. Harta ini adalah harta yang didapatkan dari hasil peperangan dengan kaum musyrikin. Yang menjadi sasarannya adalah orang kafir yang bukan dalam wilayah yang sama (kafir dzimmi), dan harta yang diambil bisa dari harta yang bergerak atau harta yang tidak bergerak, seperti: perhiasan, senjata, unta, tanah, dll. Untuk porsinya 1/5 untuk Allah dan Rasulnya, kerabat Rasul, anak yatim, dan fakir miskin, dan ibn sabil, dan 4/5 untuk para balatentara yang ikut perang. Kemudian sisanya disimpan di Baitul Mal untuk didistribusikan kemudian.
2. Shadaqah
Secara etimologi adalah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar, pembuktian, dan syahadat (keimanan) yang diwujudkan dengan bentuk pengorbanan materi. Menurut Ibn Thaimiyah shadaqah adalah zakat yang dikenakan atas harta kekayaan muslim tertentu.


3. Infaq
Infaq diambil dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu. Menurut sumber yang lain infaq berarti mengeluarkan sebagian harta atau pendapatan untuk satu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam. Dalam infaq tidak mengenal yang  namanya nisab, asnaf, dan subjeknya, artinya orang kafirpun bisa mengeluarkan infaq yang dialokasikan untuk kepentingan agamanya. Infaq ini boleh diberikan kepada siapa saja dan berapa saja. Untuk ruang lingkupnya infaq lebih luas daripada zakat yang mana hanya untuk orang muslim saja.
4. Zakat
Kata zakat berasal dari kata zaka (menumbuhkan), ziadah (menambah), barakah (memberkatkan), thathir (menyucikan), dan an-nama (berkembang). Adapun menurut syara’, zakat adalah hak yang telah ditentukan besarnya yang wajib dikeluarkan pada harta-harta tertentu dan pada orang-orang yang tertentu pula dengan catatan harta tersebut adalah milik penuh seseorang, mencapai hawl, dan nisabnya,  dalam hal ini zakat dikenakan kepada harta bukan kepada jiwa (jizyah). Di antara objek zakat itu adalah: binatang ternak (unta, sapi, kerbau, dan kambing), emas dan perak, biji-bijian (beras, jagung, dan gandum), buah-buahan (kurma dan anggur saja), harta perniagaan sama seperti syarat-syarat yang telah disebutkan dalam zakat emas dan perak, dll).  Zakat merupakan jaminan pemerintah terhadap rakyatnya yang miskin, agar hartanya (fakir-miskin) yang menempel kepada orang kaya bisa mereka gunakan untuk memenuhi kehidupannya.
6. ‘Ushr
‘Ushr oleh kalangan ahli fiqh disebut sepersepuluh yang dalam hal ini memiliki dua arti. Pertama, sepersepuluh dari lahan pertanian yang disirami dengan air hujan. Kedua, sepersepuluh diambil dari pedagang-pedagang kafir yang memasuki wilayah Islam dengan membawa barang dagangan. ‘Ushr diwajibkan hanya ketika ada hasil yang nyata dari tanahnya. Tanah yang sudah diwakafkan tetap diperlakukan sebagai tanah ‘ushr jika pemilik sudah menanami tanah tersebut. Yang termasuk kedalam harta ‘ushr adalah hasil pertanian dan perkebunan (buah, madu, dll.). Untuk hasil pertanian yang diairi dengan sumber alami (hujan, sumber air, dan arus) maka ‘ushr porsinya 10%, apabila pengairan tersebut masih menggunakan ala-alat produksi lain (alat irigasi, sumur, dll) maka ‘ushrnya adalah 5%, dan untuk pengambilan ‘ushr ini adalah apabila sudah panen.

7. Jizyah
Asal kata dari jizyah adalah jaza’ yang berarti kompensasi, sedangkan menurut istilah adalah beban yang diambil dari penduduk non-muslim yang berada di negara Islam sebagai biaya perlindungan atas kehidupan atau jiwa, kekayaan, dan kebebasan menjalankan agama mereka, dll. Jizyah dikenakan kepada orang kafir karena kekafirannya bukan kepada hartanya. Dalam hal ini para laki-laki yang mampu, orang kaya, dll. yang hidup dan tinggal dalam lingkungan negara Islam. Jizyah merupakan bentuk daripada ketundukan seseorang kepada kekuasaan Islam, membayar jizyah itu karena orang non-muslim itu bisa menikmati fasilitas umum bersama orang muslim (kepolisian, pengadilan, dll), dan ketidak wajiban ikut perang bagi para non-muslim. Akan tetapi ketidak wajiban ini bukan semata-mata karena mereka sudah membayar jizyah, ini merupakan keadilan Islam yang mutlak karena perang dalam Islam sangat erat hubungannya dengan aqidah (jihad fii sabilillah). Untuk tarif atau jumlah jizyah yang akan diambil berbeda-beda, akan tetapi yang pasti adalah dengan menggunakan perinsip keadilan.
8. Kharaj
Secara harfiah kharaj berarti kontrak, sewa-menyewa atau menyerahkan. Dalam terminologi keuangan Islam kharaj adalah pajak atas tanah atau hasil tanah. Yang mana diambil dari tanahnya orang non-muslim yang sudah ditaklukan dan tanah tersebut sudah diambil alih orang muslim. Dengan keringanan dari orang Islam maka non-muslim tersebut masih bisa menguasai tanahnya untuk bercocok tanam yang hasilnya akan dibagi 50%-50%  antara non-muslim dan orang Islam.
Dalam hal ini kharaj dibagi kedalam dua bagian, yaitu: Kharaj yang dikenakan pada tanah (pajak tetap) artinya pajak tersebut tetap atas tanahnya selama setahun, dan hasil tanah (pajak proporsional) akan dikenakan sebagai bagian dari total hasil produksi pertanian. Sama seperti halnya pendapatan lain maka kharaj juga akan didistribusikan kepada kepentingan seluruh kaum muslimin.
9. Pajak tambang dan harta karun
Pajak tambang ini yang hasilnya keras seperti emas, perak, besi, dll. atau harta karun yang ditemukan di wilayah orang Islam, maka seperlima (1/5) harus diserahkan kepada negara untuk memenuhi keadilan sosial. Namun para ulama berbeda pendapat tentang pajak dan harta karun ini. Menurut Mazhab Syafi’i dan Hanbali ini dianggap sebagai zakat, sedangkan menurut Hanafi adalah sebagai barang rampasan.

10. Waqaf
Wakaf secara harfiyah berarti berhenti, menahan, atau diam. Dalam hukum Islam wakaf berarti menyerahkan suatu hak milik yang tahan lama (zatnya) kepada seseorang atau nadzir (penjaga wakaf) baik berupa perorangan maupun lembaga, dengan ketentuan bahwa hasilnya akan dipergunakan sesuai dengan syariat Islam. Dalam literatur yang lain wakaf  mempunyai pengertian ‘suatu tindakan penahanan dari penggunaan dan penyerahan asset di mana seseorang dapat memanfaatkan hasilnya untuk tujuan amal sepanjang barang tersebut masih ada.
Harta yang sudah diwakafkan keluar dari hak miliknya (wakif), bukan pula harta tersebut adalah milik lembaga pengelola wakaf, akan tetapi milik Allah yang harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.
Dalam sejarah umat Islam, masa keemasan perkembangan wakaf itu terjadi pada abad ke-8 dan ke-9 H. Pada waktu itu aset wakaf meliputi berbagai aset semacam masjid, mushala, sekolah, tanah pertanian, rumah, toko, kebun, pabrik, bangunan kantor, gedung pertemuan (ruang sidang), tempat perniagaan, pasar, tempat pemandian, gudang beras, dll. Dengan demikian para guru dapat bekerja dengan baik karena nafkahnya sudah terpenuhi, dan siswa pun dapat belajar dengan tenang karena tampa memikirkan masalah uang sekolah.

0 Response to "Pendapatan Nasional dalam perspektif Islam"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel