-->

Pengertian Qardh dan Qardhul Hasan


 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Qardh dan Qardhul Hasan
            Secara etimologi, qardh berarti potongan, sedangkan pengertian secara terminologi berarti pemberian harta kepada orang lain yang dapat diminta kembali dengan jumlah yang sama atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan atau tambahan.
            Sedangkan Qardhul Hasan adalah suatu interest free financing. Kata “hasan” berasal dari bahasa Arab yaitu “Ihsan” yang berarti kebaikan kepada orang lain. Qardhul Hasan yaitu jenis pinjaman yang diberikan kepada pihak yang sangat memerlukan untuk jangka waktu tertentu tanpa harus membayar bunga atau keuntungan. Penerima Qardhul Hasan hanya berkewajiban melunasi jumlah pinjaman pokok tanpa diharuskan memberikan tambahan apapun. Namun penerima pinjaman boleh saja atas kebijakannya sendiri membayar lebih dari uang yang dipinjamnya sebagai tanda terimakasih kepada pemberi pinjaman. Tetapi hal tersebut tidak boleh diperjanjikan sebelumnya di muka.
            Qardhul Hasan atau benevolent loan adalah suatu pinjaman lunak yang diberikan atas dasar kewajiban sosial semata, dimana si peminjam tidak dituntut untuk mengembalikan apapun kecuali modal pinjaman. Pada dasarnya Qardhul Hasan merupakan pinjaman sosial yang diberikan secara benevolent tanpa ada pengenaan biaya-biaya apapun, kecuali pengembalian modal asalnya.
Dalam perjanjian qard,  pemberian pinjaman memberikan pinjaman kepada pihak penerima pinjaman dengan ketentuan bahwa penerima pinjaman tersebut akan mengembalikan pinjamannya sesuai dengan jangka waktu yang telah diperjanjikan dengan jumlah yang sama dengan pinjaman yang diterima. Dengan demikian pihak penerima pinjaman tidak diperlukan untuk memberi tambahan atas pinjamannya. Qardhul Hasan tergolong dalam akad tabarru’. Akad tabarru’ dilakukan dengan tujuan tolong-menolong dalam rangka berbuat kebaikan ( tabarru’ berasal dari kata birr dalam bahasa Arab, yang artinya kebaikan). Dalam akad tabarru’, pihak yang berbuat kebaikan tersebut tidak berhak mensyaratkan imbalan apapun kepada pihak lainnya. Pada dasarnya  pinjaman Qardhul Hasan diberikan kepada:  (1) Mereka yang memerlukan pinjaman konsumtif jangka pendek untuk tujuan-tujuan yang urgen. (2) Para pengusaha kecil yang kekurangan dana tetapi mempunyai prospek bisnis yang sangat baik. Qard yang diperlukan untuk membantu usaha sangat kecil dan keperluan sosial, dapat bersumber dari dana zakat, infaq, dan sadaqah.
Qardhul Hasan juga dikhususkan untuk membantu memberikan pinjaman kepada usaha-usaha pada sektor kecil yang umumnya mengalami kesulitan dalam mengembangkan usahanya. Pemberian pinjaman tunai untuk Qardhul Hasan tanpa dikenakan biaya apapun kecuali biaya administrasi berupa segala biaya yang diperlukan untuk sahnya perjanjian utang. Seperti bea materai, bea akta notaris, bea studi kelayakan, dan sebagainya. Pada hakikatnya qard adalah pertolongan dan kasih sayang bagi yang meminjam. Qard bukan suatu sarana untuk mencari keuntungan bagi yang meminjamkan, di dalamnya tidak ada imbalan dan kelebihan pengembalian. Namun yang terdapat pada qardh ini adalah mengandung nilai kemanusiaan  dan sosial yang penuh dengan kasih sayang untuk memenuhi hajat si peminjam modal tersebut. Apabila terjadi pengambilan keuntungan oleh pihak yang meminjamkan modal atau harta, maka dapat membatalkan kontrak qardh.
2.2 Perbedaan Qardh dan Qardhul Hasan
Qard adalah pemberian pinjaman kepada orang lain yang dapat ditagih kembali, sedangkan Qardhul Hasan pemberian pinjaman kepada orang lain, dimana peminjam tidak diharuskan mengembalikan pokoknya apabila dirasakan benar-benar peminjam tidak mampu untuk mengembalikannya. Sehingga Qardhul Hasan ini dianggap sadaqah. Walaupun pada prinsipnya bukanlah produk yang Profitable namun tetap harus diperhatikan sistem dari produk ini agar lebih optimal dan meminimalisir resiko yang mungkin terjadi.
Dilihat dari segi sumber dana, sumber dana qardh berasal dari dana komersial atau modal. sedangkan sumber dana Qardhul Hasan berasal dari dana sosial yakni dana zakat, infaq, dan sadaqah.
2.3 Dasar Hukum Qardh dalam fatwa MUI
            Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 19/DSN-MUI/IV/2001 tentang Qardh
Pertama            : Ketentuan Umum :
a) Al Qard adalah pinjaman yang diberikan kepada nasabah (muqtarid ) yang memerlukan.
b) Nasabah Al Qard wajib mengembalikan jumlah pokok yang diterima pada waktu yang telah disepakati bersama.
c) Biaya admninistrasi dibebankan kepada nasabah.
 d) LKS dapat meminta jaminan kepada nasabah bilamana dipandang perlu.
e) Nasabah Al Qard dapat memberikan tambahan (sumbangan) dengan sukarela kepada LKS selama tidak diperjanjikan dalam akad.
 f) Jika nasabah tidak dapat mengembalikan sebagian atau seluruh kewajibannya pada saat yang telah disepakati dan LKS telah memastikan ketidak mampuannya, LKS dapat :
 1) memperpanjang jangka waktu pengembalian, atau
 2) menghapus (write off) sebagian atau seluruh kewajibannya.

Kedua, Sanksi :
a) Dalam hal nasabah tidak menunjukkan keinginan mengembalikan sebagian atau seluruh kewajibannya dan bukan karena ketidak mampuannya, LKS dapat menjatuhkan sanksi kepada nasabah.
b) Sanksi yang dijatuhkan kepada nasabah sebagaimana dimaksud butir 1 Dan tidak terbatas pada penjualan barang jaminan.
c) Jika barang jaminan tidak mencukupi, nasabah tetap harus memenuhi kewajibannya secara penuh.
 Ketiga, Sumber Dana :
 a) Bagian modal LKS.
b) Keuntungan LKS yang disisihkan, dan
c) Lembaga lain atau individu yang mempercayakan penyaluran infaqnya kepada LKS.
2. 4 Rukun-Rukun Qardhul Hasan
Setiap kegiatan bermuamalah sebagai umat muslim hendaknya memerhatikan rukun-rukun yang sudah ditetapkan dalam hukum Islam, guna melengkapi suatu akad atau transaksi. Sehingga transaksi yang telah disepakati oleh kedua belah pihak dapat dinyatakan sah sesuai dengan hukum Islam. Rukun-rukun Qardhul Hasan diantaranya adalah:
2.4.1 Pihak yang meminjam ( Muqtarid).
2.4.2 Pihak yang memberikan pinjaman ( Muqrid ).
2.4.3 Barang yang dihutang/objek akad (Ma’qud alaih)
2.4.4 Ijab qabul (Sighat )

2.5 Syarat-Syarat Qardhul Hasan
2.5.1 Orang yang meminjamkan memenuhi syarat berikut :
2.5.1.1 Berhak berbuat kebaikan sekehendak orang tersebut
2.5.1.2Manfaat dari barang yang dipinjamkan menjadi milik peminjam dan barang yang dipinjamkan menjadi milik yang meminjamkan.
2.5.2 Orang yang meminjam :
2.5.2.1 Berhak mendapat kebaikan 
2.5.2.2 Dapat dipercaya untuk menjaga barang tersebut
2.5.3 Barang yang dipinjamkan :
2.5.3.1 Mempunyai manfaat yang dapat diambil oleh peminjam 
2.5.3.2 Barang yang diambil manfaatnya tidak rusak karena pemakaian yang disetujui dalam perjanjian. 
Ulama hanafiyah berpendapat bahwa qardh dipandang sah pada harta mitsil , yaitu sesuatu yang tidak terjadi perbedaan yang menyebabkan terjadinya perbedaan nilai. Diantara yang dibolehkan adalah benda-benda yang ditimbang, ditakar, atau dihitung
Qardh adalah bentuk akad tabarru’. Oleh karena itu , tidak boleh dilakukan oleh anak kecil, orang gila, orang bodoh, orang yang dibatasi tindakannya dalam membelanjakan harta, orang yang dipaksa, dan seorang wali yang tidak sangat terpaksa atau ada kebutuhan. Hal ini karena mereka semua bukanlah orang yang dibolehkan melakukan akad tabarru’. Harta yang dipinjamkan jelas ukurannya, baik dalam takaran, timbangan, bilangan, maupun ukuran panjang supaya mudah dikembalikan.
Para ulama empat madzab telah sepakat bahwa pengembalian barang pinjaman hendaknya ditempat pelaksanaan akad qard } dilaksanakan. Dan boleh ditempat mana  saja, apabila tidak membutuhkan biaya kendaraan. Apabila diperlukan, maka bukan sebuah keharusan bagi pemberi pinjaman untuk menerimanya.  Orang yang meminjam adalah orang yang memberi amanat yang tidak ada tanggungan atasnya, kecuali karena kelalaian, atau pihak pemberi.
2.6 Syarat yang Sah dan Tidak Sah (Fasid) pada Akad Qardhul Hasan
Dalam akad qardh dibolehkan adanya kesepakatan yang dibuat untuk mempertegas hak milik, seperti persyaratan adanya barang jaminan, penanggung pinjaman, saksi, bukti tertulis, atau pengakuan dihadapan hakim. Mengenai batas waktu, jumhur ulama menyatakan syarat itu tidak sah, dan malikiyah menyatakan sah. Tidak sahnya syarat yang tidak sesuai dengan akad qardh , seperti syarat tambahan dalam pengembalian. Pengembalian harta yang bagus sebagai ganti yang cacat atau syarat jual rumahnya.
Adapun syarat yang fasid (rusak) diantaranya adalah syarat tambahan atau hadiah bagi si pemberi pinjaman. Syarat ini dianggap batal namun tidak merusak akad apabila tidak terdapat kepentingan siapapun. Seperti syarat pengembalian barang cacat sebagai ganti yang sempurna atau yang jelek sebagai ganti yang bagus atau syarat memberikan pinjaman kepada orang lain.
2.6.1 Harta yang harus dikembalikan
Para ulama sepakat bahwa wajib hukumnya bagi peminjam untuk mengembalikan harga semisal apabila ia meminjam harta misli dan mengembalikan harta semisal dalam bentuknya (dalam pandangan ulama selain Hanafiyah) bila pinjamannya adalah harta qimiy , seperti mengembalikan kambing yang ciri-cirinya mirip dengan domba yang dipinjam.
2.6.2 Waktu pengembalian
Menurut ulama selain Malikiyah, waktu pengembalian harta pengganti adalah kapan saja sesuai kehendak si pemberi pinjaman, setelah peminjam menerima pinjamannya, karena qardh merupakan akad yang tidak mengenal batas waktu. Sedangkan menurut Malikiyah, waktu pengembalian itu adalah ketika sampai pada batas waktu pembayaran yang sudah ditentukan di awal. Karena mereka berpendapat bahwa qardh bisa dibatasi dengan waktu.
2.7 Manfaat Qardhul Hasan
Qardhul Hasan memiliki beberapa manfaat bagi pihak-pihak yang menggunakannya. Manfaat yang terdapat dalam akad qardh, diantaranya adalah:
2.7.1 Memungkinkan peminjam yang sedang dalam kesulitan mendesak untuk mendapattalangan jangka pendek
2.7.2 Pedagang kecil memperoleh bantuan dari pemberi pinjaman untuk mengembangkan usahanya, sehingga merupakan misi sosial bagi pihak yayasan dana sosial dalam membantu masyarakat miskin.
2.7.3 Adanya misi sosial-kemasyarakatan ini akan mengikat citra baik dan  mengikatkan loyalitas masyarakat kepada yayasan dana sosial, karena dapat memberikan manfaat kepada masyarakat golongan miskin


0 Response to "Pengertian Qardh dan Qardhul Hasan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel