-->

Materi Makalah Inflasi Lengkap

2.1  Pengertian Inflasi           
Pada awalnya inflasi diartikan sebagai kenaikan jumlah uang beredar atau kenaikan likuiditas dalam suatu perekonomian. Pengertian tersebut mengacu pada gejala umum yang ditimbulkan oleh adanya kenaikan jumlah uang beredar yang diduga telah menyebabkan adanya kenaikan hargaharga. Dalam perkembangan lebih lanjut, inflasi secara singkat dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan meningkatnya harga-harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus. Dalam pengertian tersebut, terdapat dua pengertian penting yang merupakan kunci dalam memahami inflasi. Yang pertama adalah kenaikan harga secara umum dan yang kedua adalah terus-menerus.
 Dalam inflasi harus terkandung unsur kenaikan harga, dan selanjutnya kenaikan harga tersebut adalah harga secara umum. Hanya kenaikan harga yang terjadi secara umum yang dapat disebut sebagai inflasi. Hal ini penting untuk membedakan kenaikan harga atas barang dan jasa tertentu. Misalnya, meningkatnya harga beras atau harga cabe merah saja belum dapat dikatakan sebagai inflasi. Inflasi adalah kenaikan harga-harga secara umum, artinya inflasi harus menggambarkan kenaikan harga sejumlah besar barang dan jasa yang dipergunakan (atau dikonsumsi) dalam suatu perekonomian. Kata kunci kedua adalah terus menerus, kenaikan harga yang terjadi karena faktor musiman, misalnya, menjelang hari-hari besar atau kenaikan harga sekali saja dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan juga tidak dapat disebut inflasi karena kenaikan harga tersebut bukan masalah kronis ekonomi.
Definisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus.[1] Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain. Syarat adanya kecenderungan menaik yang terus-menerus juga perlu diingat. Kenaikan harga-harga karena, misalnya, musiman, menjelang hari-hari besar, atau yang terjadi sekali saja (dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan) tidak disebut inflasi. Kenaikan harga semacam ini tidak dianggap sebagai masalah atau ”penyakit” ekonomi dan tidak memerlukan kebijaksanaan khusus untuk menanggulanginya.
Inflasi dapat didefinisikan sebagai satu proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam sesuatu perekonomian.[2] Tingkat inflasi (persentasi pertambahan kenaikan harga) berbeda dari satu periode ke periode lainnya, dan berbeda pula dari satu negara ke negara lain. Adakalanya tingkat inflasi adalah rendah-yaitu mencapai di bawah 2 atau 3 persen. Tingkat inflasi yang moderat mencapai di antara 4 -10 persen. Inflasi yang sangat serius dapat mencapai tingkat beberapa puluh atau beberapa ratus persen dalam setahun.
2.2  Teori-teori Inflasi
Teori tentang Inflasi Setelah memahami apa yang disebut sebagai inflasi, pada bagian ini akan dibahas tentang teori dan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya inflasi. Secara garis besar ada tiga kelompok teori mengenai inflasi, yaitu teori kuantitas, teori Keynes, dan teori Strukturalis.
2.2.1 Teori Kuantitas
Teori tentang inflasi pada awalnya berkembang dari teori yang dikenal dengan teori kuantitas (tentang uang). Teori kuantitas pada dasarnya merupakan suatu hipotesis tentang faktor yang menyebabkan perubahan tingkat harga ketika kenaikan jumlah uang beredar merupakan faktor penentu atau faktor yang mempengaruhi kenaikan  tingkat harga. Teori kuantitas tidak hanya menyatakan bahwa jumlah uang beredar sebagai faktor penyebab perubahan tingkat harga. Teori kuantitas uang juga terkait dengan teori tentang (1) proporsionalitas jumlah uang dengan tingkat harga, (2) mekanisme transmisi moneter, (3) netralitas uang, dan (4) teori moneter tentang tingkat harga. Ahli ekonomi moneter yang menganut teori kuantitas dalam perkembangannya lebih dikenal dengan ahli ekonomi yang beraliran Monetaris. Salah satu tokoh aliran monetaris ini adalah ekonom Milton Friedman yang mendapatkan hadiah Nobel di bidang ekonomi pada tahun 1976. Tokoh ini membuat pernyataan yang sangat terkenal, yaitu bahwa inflation is always and everywhere a monetary phenomenon.
Milton Friedman adalah ekonom yang menyempurnakan teori kuantitas dan memformulasikan lebih lanjut teori kuantitas uang serta menyusun teori tentang permintaan uang. Teori permintaan uang tersebut dalam perkembangannya menjadi teori yang sangat penting dalam teori makro ekonomi.
Teori permintaan uang dalam perkembangannya juga telah mengalami banyak variasi serta perkembangan yang sangat pesat. Teori permintaan uang pada dasarnya menyatakan bahwa permintaan uang masyarakat ditentukan oleh sejumlah variabel ekonomi yang antara lain pertumbuhan ekonomi, suku bunga, dan tingkat harga6. Sejalan dengan teori permintaan uang, tingkat harga atau laju inflasi hanya akan berubah apabila jumlah uang beredar tidak sesuai dengan jumlah yang diminta atau diperlukan oleh suatu perekonomian.
Apabila jumlah uang yang beredar lebih besar dibandingkan dengan jumlah uang yang diminta atau dibutuhkan oleh masyarakat, maka tingkat harga akan meningkat dan terjadilah inflasi. Sebaliknya, apabila jumlah uang yang beredar lebih kecil dengan jumlah uang yang dibutuhkan oleh masyarakat, maka tingkat harga akan turun dan terjadi apa yang disebut sebagai deflasi.
 Banyak kajian empiris yang membuktikan bahwa pertumbuhan uang beredar dan laju inflasi yang tinggi mempunyai korelasi yang tinggi, misalnya, kajian yang dilakukan oleh Fisher, Sahay dan Vegh. Mereka menyatakan bahwa dalam jangka panjang hubungan antara pertumbuhan uang beredar dan laju inflasi menjadi semakin kuat (erat). Apakah dalam jangka pendek hubungan tersebut juga terjadi?.
Dalam hal jangka pendek pertumbuhan uang beredar dan laju inflasi masih mempunyai korelasi yang cukup signifikan, apalagi untuk mengetes hubungan kedua variabel tersebut dengan mempergunakan data , misalnya, dengan data satu atau dua periode sebelumnya. Meskipun demikian, kajian tersebut juga menyatakan bahwa hubungan dua variabel tersebut tidaklah instan dan juga tidak persis berhubungan langsung satu lawan satu. Kajian ini juga menemukan bahwa laju inflasi yang tinggi cenderung tidak stabil. Sebaliknya, laju inflasi yang rendah cenderung lebih stabil.
2.2.2 Teori Keynes
 Dalam perkembangannya, tidak semua ekonom sependapat dengan teori kuantitas uang. Contoh :  para ekonom aliran Keynesian tidak sepenuhnya sependapat dengan teori tersebut. Ekonom Keynesian menyatakan bahwa teori kuantitas tidak valid karena teori tersebut mengasumsikan ekonomi dalam kondisi full employment (kapasitas ekonomi penuh). Dalam kondisi kapasitas ekonomi yang belum penuh, maka ekspansi (pertambahan) uang beredar justru akan menambah output (meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja) dan tidak akan meningkatkan harga. Lebih lanjut dikatakan bahwa uang tidak sepenuhnya netral, pertambahan uang beredar dapat mempunyai pengaruh tetap (permanen) terhadap variabelvariabel riil seperti output dan suku bunga.
Pendekatan Keynes juga menyatakan bahwa teori kuantitas yang mengasumsikan elastisitas dan perputaran uang ( velocity of circulation ) adalah tetap juga tidak benar. Elastisitas dan perputaran uang sangat sulit diprediksi dan banyak dipengaruhi oleh ekspektasi masyarakat serta perubahan barang-barang yang merupakan substitusi uang ( financial assets ). Hal tersebut terbukti bahwa dalam suatu perekonomian yang sektor keuangannya telah maju dan terdapat instrumen-instrumen keuangan yang berfungsi sebagai substitusi uang, maka perputaran uang akan menjadi semakin sulit diprediksi.
Dalam perkembangannya perbedaan pendapat antara ekonom aliran monetaris, aliran Keynesian, dan yang lain semakin kecil, atau terjadi konvergensi antara berbagai aliran tersebut. Mishkin (1984, 2001) menyatakan bahwa sepanjang inflasi dilihat sebagai sustained inflation atau inflasi yang terus menerus dan berjangka panjang, maka baik ekonom aliran monetaris maupun ekonom aliran Keynesian sependapat bahwa inflasi adalah suatu gejala monete. Untuk membuktikan bahwa inflasi adalah suatu gejala moneter, berbagai kajian yang dipelopori oleh Friedman (1963) dan dilanjutkan oleh berbagai kajian selanjutnya, telah dapat menguji bahwa dalam jangka panjang memang terdapat keterkaitan yang erat antara inflasi dan jumlah uang yang beredar.
Dalam pengertian umum dapat dikatakan bahwa inflasi terutama timbul karena jumlah uang yang beredar dalam suatu perekonomian melebihi jumlah uang beredar yang diminta atau diperlukan oleh perekonomian bersangkutan. Pengertian tersebut tidak mengatakan bahwa tidak terdapat faktor-faktor lain yang dapat menimbulkan laju inflasi. Banyak faktor lain yang dapat menjadi penyebab timbulnya inflasi, tetapi inflasi terutama disebabkan oleh jumlah uang beredar atau likuiditas yang berlebihan.
2.2.3 Teori Strukturalis
Teori ini lebih didasarkan pada pengalaman negara-negara di Amerika Latin. Pendekatan ini menyatakan bahwa inflasi, terutama di negara berkembang, terutama lebih disebabkan oleh faktor-faktor struktural dalam perekonomian. Menurut teori ini ada dua masalah struktural di dalam perekonomian negara berkembang yang dapat mengakibatkan inflasi. Pertama , penerimaan ekspor tidak elastis, yaitu pertumbuhan nilai ekspor yang lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan sektor lainnya. Hal tersebut disebabkan oleh terms of trade yang memburuk dan produksi barang ekspor yang kurang responsif terhadap kenaikan harga.
Dengan melambatnya pertumbuhan ekspor, maka akan terhambat kemampuan untuk mengimpor barang-barang yang dibutuhkan. Seringkali negara berkembang melakukan kebijakan substitusi impor meskipun dengan biaya yang tinggi dan mengakibatkan harga barang yang tinggi sehingga menimbulkan inflasi. Kedua , masalah struktural perekonomian negara berkembang lainnya adalah produksi bahan makanan dalam negeri yang tidak elastis, yaitu pertumbuhan produksi makanan dalam negeri tidak secepat pertambahan penduduk dan pendapatan per kapita sehingga harga makanan dalam negeri cenderung meningkat lebih tinggi daripada kenaikan harga barang-barang lainnya.
Hal ini mendorong timbulnya tuntutan kenaikan upah dari pekerja sektor industri yang selanjutnya akan meningkatkan biaya produksi dan pada gilirannya akan menimbulkan inflasi. Sementara itu, proses inflasi, dalam prakteknya, kemungkinan dapat mengandung aspek-aspek dari ketiga teori inflasi tersebut[3].
2.3  Jenis Inflasi
 Seperti halnya wabah penyakit, inflasi memiliki tingkat kejadian berbeda. Adalah bermanfaat untuk mengklarifikasikan inflasi kedalam tiga kategori : inflasi moderat (moderat inflation), inflasi ganas (gallopinginflation), dan hiperinflasi.
2.3.1        Inflasi Moderat (moderat inflation)
Moderat inflasi ditandai dengan harga-harga yang meningkat secara lambat. Mungkin kita dapat menyebutnya sebagai laju inflasi satu digit pertahun. apabila harga-harga relatif stabil, masyarakat percaya sama uang. Mereka bersedia memegang uang karena uang hampir sama nilainya pada bulan atau tahun mendatang sebagai mana nilainya hari ini. Mayarakat bersedia melakukan kontrak jangka panjang dalam nilai uang, karena meraka yakin bahwa tingkat harga barang-baranng yang mereka beli tidak akan bergerak terlalu jauh. Masyarakat tidak menghabiskan waktu atau sumber daya mereka untuk mencoba menyimpan kekayaan mereka dalam bentuk aktiva. “uang” atau “ kertas berharga”, karena mereka percaya aktiva mereka akan tetap sama nilainya.[4]
2.3.2        Inflasi ganas (Galloping Inflation)
Inflasi dalam dua digit atau tiga digit seperti 20,100, atau 200 persen pertahun disebut “inflasi ganas”. Pada ujung bawah spektrum ini kita kadang-kadang mendapatkan negara-negara industri maju, seperti Italia. Banyak negara-negara Amerika Latin seperti Argentina dan Brasil memiliki tingkat inflasi 50 sampai 700 persen pertahun di tahun 1970-an dan 1980-an.
Jika inflasi ganas timbul, maka timbullah gangguan-gangguan serius terhadap perekonomian. Umumnya, sebagian besar kontrak disusun dalam indeks harga atau mata uang asing, seperti dolar. Dalam kondisi ini, uang kehilangan nilainya dalam kondisi cepat ; tingkat bunga riil dapat menjadi minus 50 atau 100 persen pertahun. sebagai konsekuensinya, mayarakat hanya memegang jumlah uang yang minimum yang diperlukan hanya untuk transaksi harian. Pasar keuangan menjadi tidak bergairah, dan dana-dana umumnya dialokasikan berdasarkan rasio daripada berdasarkan tingkat bunga. Masyarakat menimbun barang, membeli rumah, dan tidak akan meminjamkan uangnya pada tingkat bunga ekonomi yang rendah.
Hal yang mengejutkan adalah bahwa perekonomian dengan inflasi tahunan sebesar 200 persen berusaha untuk bertahan sekalipun sistem harga sangat buruk. Akan tetapi perekonomian seperti ni cenderung menimbulkan distorsi-distorsi besar dalam perekonomian karena masyarakat melakukan investasi dana di luar negeri, sedangkan investasi domestik lesu.
2.3.3 Hiperinflasi
Meskipun perekonomian tampaknya dapat bertahan dari inflasi ganas, dan jenis ketiga dan sangat memaikan bisa saja terjadi yaitu apapbila wabah hiperinflasi menyerang. Tidak ada segi baik perekonomian pasar, apabila harga-harga meningkat jutaan atau bahkan triliunan persen pertahun.
Kasus yang paling diingat mengenai hiperinflasi adalah yang terjadi pada Republik Weimar Jerman di tahun 1920-an. Dari januari 1922 sampai Nopember 1923, indeks harga meningkat dari 1 sampai 10.000.000.000. apabila seseorang memiliki kekayaan sebanyak 300 juta dolar dalam bentuk obligasi di awal tahun 1922, maka dua tahun kemudian jumlah ini tidak dapat digunakan untuk membeli sebutir permen apapun.
Berbagai penelitian telah menemukan beberapa gambaran umum mengenai hiperinflasi. Pertama, permintaan uang riil (diukur dengan stok uang dibagi dengan tingkat harga) menurun secara drastis. Di akhir masa hiperinflasi Jerman, permintaan uang riil hanya sepertiga puluh dari dua tahun sebelumnya. Masyarakat terburu-buru membuang uang mereka seperti kentang panas, sebelum mereka terbakar karena kehilangan nilai uang. Kedua, harga-harga relatif menjadi sangat tidak stabil. Dalam kondisi normal, upah riil seseorang bergerak hanya satu persen atau kurang, dari bulan ke bulan. Selama bulan 1923, upah riil jerman berubah rata-rata sepertiga (naik atau turun) setiap bulan. Variasi yang sangat besar pada harga-harga relatif dan upah riil ketidaklayakan dan distorsi yang disebabkan oleh fluktuasi tersebut menggambarkan biaya utama dari inflasi. Barangkali pengaruh paling penting dari hiperinflasi adalah pada distribusi kekayaan. 
2.4  Akibat Buruk Inflasi
Seperti pengangguran, inflasi juga menimbulkan beberapa akibat buruk kepada individu, masyarakat dan kegiatan perekonomian secara keselumhan. Oleh sebab itu masalah tersebut perlu dihindari. Salah satu akibat penting dari inflasi ialah ia cenderung menurunkan taraf kemakmuran segolongan besar masyarakat. Sebagian besar pelaku-pelaku kegiatan ekonomi terdiri dari pekerja-pekerja yang bergaji tetap. Inflasi biasanya berlaku lebih cepat dan kenaikan upah para pekerja. Oleh sebab itu upah riil para pekerja akan merosot disebabkan oleh inflasi dan keadaan ini berarti tingkat kemakmuran segolongan besat masyarakat mengalami kemerosotan.
Prospek pembangunan ekonomi jangka panjang akan menjadi semakin memburuk sekitanya inflasi tidak dapat dikendalikan. Inflasi cenderung akan menjadi bertambah cepat apabila tidak diatasi. Inflasi yang bertambah setius tersebut cenderung untuk mengurangi investasi yang produktif, mengurangi ekspor dan menaikkan impot. Kecenderungan ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga-harga yang tinggi dan terus-menerus bukan sahaja menimbulkan beberapa efek buruk ke atas kegiatan ekonomi, tetapi juga kepada kemakmuran individu dan masyarakat.
2.4.1        Akibat Buruk Kepada Perekonomian
Sebagian ahli ekonomi berpendapat bahwa inflasi yang sangat lambat berlakunya dipandang sebagai stimulator bagi pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga tersebut secepatnya akan diikuti oleh kenaikan upah pekerja, maka keuntungan akan bertambah. Pertambahan keuntungan akan bertambah menggalakkan investasi masa yang akan datang dan ini akan mewujudkan percepatan dalam pertumbuhan ekonomi. Tetapi apabila inflasi menjadi lebih serius keadaannya, perekonomian tidak akan berkembang seperti yang diinginkan. Pengalaman beberapa negara yang telah mengalami inflasi hiferinflasi menunjukkan bahwa inflasi yang buruk akan menimbulkan ketidakstabilan sosial dan politik, dan tidak menunjukkan pertumbuhan ekonomi. Terlebih dahulu ekonomi harus distabilkan, dan ini termasuk menstabilkan harga-harga, sebelum pertumbuhan ekonomi yang dapat diwujudkan.
Ketiadaan pertumbuhan ekonomi sebagai akibat dari inflasi yang disebabkan oleh beberapa faktor penting seperti diuraikana di bawah ini.
2.4.1.1  Inflasi menggalakkan penanaman modal spekulatif
Pada masa inflasi terdapat diantara pemilik modal untuk menggunakan uangnya dalam investasi yang bersifat spekulatif. Membeli rumah dan tanah dan juga menyimpan barang yang berharga akan lebih menguntungkan daripada melakukan investasi yang produktif.
2.4.1.2  Tingkat bunga meningkat dan akan mengurangi investasi
Untuk menghindari kemerosotan nilai modal yang mereka pinjam, institusi keuangan akan menaikkan tingkat bunga keatas pinjaman-pinjaman mereka. Makin tinggi tingkat inflasi, makin tinggi pula tingkat bunga yang akan mereka tentukan. Tingkat bunga yang tinggi akan mengurngi kegairahan penanam modal untuk mengembangkan sektor-sektor produktif.
2.4.1.3  Inflasi menimbulkan ketidakpastian mengenai keadaan ekonomi dimasa depan
Inflasi akan bertambah cepat jalannya apabila dikendalikan. Pada akhirnya inflasi akan menimbulkan ketidakpastian dan arah perkembangan ekonomi tidak dapat lagi diramalkan dengan baik. Keadaan ini akann mengurangi kegairahan pengusaha untuk mengembangkan kegiatan usaha.
2.4.1.4  Menimbulkan masalah neraca pembayaran
Inflasi menyebabkan harga barang infor lebih murah daripada barang yang dihasilkan dalam negeri. Maka pada umumnya inflasi akan menyebabkan impor bertambah lebih cepat tetapi sebaliknya perkembangan ekspor akan bertambah lambat. Disamping itu aliran modal keluar akan lebih banyak daripada yang masuk negeri. Berbagai kecenderungan hal ini akan memperburuk keadaan neraca pembayaran, defisit neraca pembayaran yang serius mungkin berlaku. Hal ini akan seterusnya menimbulkan kemerosotan mata uang.[5]
2.4.2 Akibat buruk keatas individu dan masyarakat
Akibat buruk keatas individu dan masyarakat dapat dapat dibedakan kepada tiga aspek seperti yang diterangkan dibawah ini :
2.4.2.1 Memperburuk distribusi pendapatan
Dalam masa inflasi nilai harta-harta tetap seperti tanah, rumah, bangunan pabrik dan pertokohan akan mengalami kenaikan harga yang adakalanya lebih cepat dari kenaikan inflasi itu sendiri. Sebaliknya, penduduk yang tidak mempunyai harta, yang meliputi sebagian besar dari golongnan masyarakat yang berpendapatan rendah, pendapatan riilnya merosot sebagai akibat inflasi. Dengan demikian inflasi melebarkan ketidaksamaan distribusi pendapatan.
2.4.2.2 Pendapatan riil merosot
Sebagian tenaga kerja disetiap negara terdir dari pekerja-pekerja bergaji tetap.  Dalam masa inflasi biasanya kenaikan harga-harga selalu mendahului kenaikan pendapatan. Dengan demikian inflasi cenderung menimbulkan kemerosotan pendapatan mengenai sebagian besar tenaga kerja. Ini berarti kemakmuran masyarakat merosot.
2.4.2.3 Nilai riil tabungan merosot
Dalam perekonomian biasanya masyarakat menyimpan sebahagian kekayaan dalam bentuk deposit dan tabungan di institusi keuangan. Nilai riil tabungan tersebut akan merosot sebagai akibat inflasi. Juga pemegang-pemegang uang tunai akan dirugikan karena kemerosotan nilai riilnya.[6]
2.5 Analisis Biaya Inflasi
Kita telah menyaksikan jenis-jenis dampak yang ditimbulkan pleh inflasi pada masyarakat, yaitu baik yang menyangkut distribusi-distribusi kekayaan maupun terganggunya harga-harga relatif. Sekarang kita coba memasukkan konsep-konsep tersebbut pada bentuk-bentuk pada tindaka inflasioner yang terjadi baik di Amerika maupun di negara-negara lain. Dalam upaya menganalisis biaya-biaya yang terjadi selama masa inflasi tertentu, terdapat dua segi pada inflasi yang merupakan kunci pembahasan yaitu:
Pertama , inflasi yang terjadi berimbang (di mana harga-harga relatif tidak berubah banyak), ataukah tak berimbang (di mana harga-harga relatif melonjak ttidak karuan)? dan yang kedua, apakah inflasi dapat diduga atau tidak, yaitu apakah masyarakat dan semua pihak menyesuaikan diri pada inflasi yang sedang berlangsung, ataukah inflasi tersebut mrupakan kejutan?
2.5.1 Inflasi yang Bisa Diduga dan yang Berimbang
Pemahaman mengenai biaya-biaya inflasi akan lebih mudah apabila kita mulai membahas jenis inflasi yang berimbang maupun yang bisa diduga. Pada jenis inflasi ini, seluruh harga meningkat, misalnya, 10 persen per tahun. Tak seorang pun terkejut dengan perubahan harga-harga ini. Pangan dan sandangn, tingkat sewa dan upah, semua naik 10 persen per tahun; dan seluruh tingkat suku bunga riel (yaitu tingkat suku bungan dikurangi dengan tingkat inflasi) akan tepat sama dengan apabila semua harga stabil, tidak berubah. Memang, keadaan seperti ini sangat tidak realistik, sama halnya keadaan pasar dengan persaingan sempurna. Tetapi dengan contoh keadaan seperti ini, kita akan dapat melihat dengan jelas.
Apakah akan ada seseorang yang  menarojh perhatian pada inflasi semacam itu? Apakah tingkat efisiensi dari penggunaan sumber daya atau GNP riil akan menjadi sedikit lebih kecil atau lebihi besar? Jawaban dari kedua pertayaan ini adalah: tidak. Tidak akan ada akibat apa pun pada output riil, tingkat efisiensi, atau distribusi pendapatan yang disebabkan oleh inflasi yang berimbang dan bisa diduga. Penghasilan naik 10 persen lebih cepat daripada apabila harga-harga stabil; biaya-biaya hidup juga naik 10 persen lebih cepat. Tidak akan ada keuntungan atau kerugian karena memiliki jenis barang yang berbeda. Dalam hal ini, harga-harga sekedar merupakan ukuran yang berkembang, dan pada ukuran inilah masyarakat sepenuhnya menyesuaikan perilaku mereka.
Kasus seperti ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah biaya sosial inflasi hanya merupakan kekeliruan pengamatan saja? Apakah masyarakat membenci inflasi karena mereka menyadari biaya hidup mereka naik, tetapi melupakan bahwa pendapatan mereka juga meningkat seirama dengan biaya-biaya?
Tidak bisa diragukan lagi bahwa pada pikiran masyarakat terdapat pengertian yang kurang mendalam mengenai inflasi. Mereka sering keliru dengan inflasi tinngi dan harga-harga tinggi. Terkadang orang berpendapat bahwa[7] laju inflasi akan menurunkan standar hidup mereka atau gaji riil mereka. Namun dalam keadaan inflasi yang berimbang, baik standar hidup maupun gaji riil tidaklah merupakan hakiki inflasi.
2.5.2    Inflasi Tak Berimbang: Gangguan-gangguan yang Mendorong Inflasi
Marilah kita maju selangkah menuju kenyataan hidup dengan menyadari bahwa inflasi mempunyai dampak pada harga-harga relatif, biaya serta beban pajak. Untuk sementara, kita tetap mengambil contoh inflasi yang bisa dapat kita antisipasikan.
Masalah pertama muncul karena beberapa lembaga/pihak tidak (atau tidak dapat dengan mudah) menyesuaikan diri dengan inflasi. Dua dari contoh-contoh yang paling tepat adalah uanmh dan pajak. Uang kartal adalah salah satu bentuk alat tukar yang tidak menghasilkan bunga, sementara giro deposito berjangka menghasilkan bunga, walaupun kecil. (topik ini akan dibahas lebih mendalam pada bab-bab yang menyusul). Jadi, apabila inflasi naik dari 0 menjadi 10 persen, maka suku bunga riel uang kartal turun dari 0 menjadi onegatif 10 persen. Pola seperti ini akan terjadi jenis aktiva yang memiliki suku bunga tetap (nominal).
Manajemen Kas yang Berlebihan. Bagaimana proses perubahan tingkat suku bunga riil ini bisa mendorong inefisiensi? Banyak penilitian sampai pada kesimpulan bahwa apabila inflasi menanjak, maka masyarakat mengalihkan perhatiannya pada sumber daya yang riil agar jumlah simpanan uangnya berkurang. Mereka akan lebih sering keluar masuk bank mengambil uangnya. Perusahaan-perusahaan mulai menerapkan “manajemen kas” yang lebih cermat dan terperinci. Jadi sumberdaya riil dimanfaatkan untuk menanggulangi masalah tolok ukur moneter yang berubah. Namun beberapa studi empiris menunjukkan bahwa biaya yang berkaitan dengan ini besarnya sedang-sedang saja.
Pajak. Dampak riil yang lain dari inflasi tak berimbang yang dapat diduga sebelumnya ternyata lebih penting sifatnya. Salah satu dampaknya terjadi melalui sistem perpajakan. Apabila perpajakan menggunakan sistem progresif, maka laju inflasi yang lebiih tinggi akan membuat masyarakat masuk lebih cepat ke golongan wajib-wajib yang lebih tinggi. Hal ini memungkinkan undang-undang baru. “pengenaan pajak tanpa pembuatan undang-undang” ini membuat banyak negara untuk “mengindeks” undang-undang perpajakan mereka pada laju inflasi; langkah seperti ini di Amerika Serikat mulai berlaku pada taun 1985.
Walaupun demikian, inflasi ini tidak cukup untuk menghilangkan akibat inflasi pada sistem perpajakan. Inflasi merusak cara pengukuran pendapatan. Sebagai contoh, sebagian dari tingkat suku bunga 10 persen (diyahun 1984) adalahh untuk menutup inflasi, dan bukannya suku bunga riel. Namun, sistemm perpajakan Amerika tidaklah membedakan dengan tegas antara[8] pembayaran bunga real dan nominal. Komponen-komponen pendapatan serupa yang cara pengukurannya dirusak oleh inflasi memenuhi halaman-halaman buku peraturan pajak penghasilan. Sampai dengan saat ini tidak satu negara pun yang berhasil mengkoreksi akibat inflasi pada pendapatan secara sempurna.
Ada lagi akibar-akibat lain yang lebih tidak kentara. Dalam jenis industri khusus yang diatur oleh pemerintah atau asosiasi, perusahaan-perusahaan perlu meminta izin dahulu untuk mengubah harga jual barangnya. Mereka harus meminta izin lebiih sering selama mas ainflasi, dan perusahaan-perusahaan semacam ini lebih besar kemungkinannya untuk merugi. Jadi, harga-harga yang diatur oleh pemerintah atau asosiasi seringkali menderita selama masa inflasi.
Inflasi Merusak Informasi. Banyak pakar ekonomi menekankan fakta bahwa harga jual mengandung banyak informasi yang sangat bernilai bagi konsumen. Bila harga jual kipas angin listrik merk A adalah Rp. 40.000, maka dengan mudah kita bisa membandingkan dengan merk B,C dan seterusnya. Akan tetapi inflasi tidak merusak informasi. Dalam periode inflasi berat, papan harga diubah begitu seringnya. Maka konsumen menjadi tidak yakin tentang toko mana yang menjual lebih murah, sehingga bisa saja kebetulan membeli barang dari toko mahal.
Satu analogi lagi yang  bisa menunjukkan bagaimana perubahan harga yang pesat merusak informasi yang bermanfaat tersebut. Bayangkan saja misalnya nomor telepon kita berubah setiap tahun dengan tambahan 1 atau 2 angka; dan ini disebut; misalnya saja, “inflasi nomor telepon” Nah, bagaimana repotnya kita bila laju “inflasi nomor telpon” sangat tinggi, sehingga kita harus memncari berapa nomor telepon kita setiap hari? Apalagi kalau  nomor telpon operator umum dan kantor telpon juga ikut berubah!
2.5.3 Inflasi yang Tidak Diduga
Kita akhirnya melangkahkan kaki pada jenis inflasi yang tidak diduga. Memang biasanya perubahan laju inflasi dapat mengejutkan para peramal ekonomi yang profesional. Di muka kita telah membahas secara terinci mengenai bagaimana kejutan-kejutan inflasioner berpengaruh pada kegiatan ekonomi. Orang yang terlibat dengan perjanjian jangka panjang bersyarat tetap (long-trem money-fixed) akan menjumpai bahwa nilai riel atau biaya riel dari perjanjian tersebut berbeda dengan apa yang mereka jumpai pada awal perjanjian. Contoh perjanjian ini adalah kredit hipotik atau kontrak kerja. Bila tingkat harga-harga naik dua kali lipat, maka nilai real obligasi, misalnya, akan menjadi setengahnya saja.
Pada umumnya, dampak ekonomi dari inflasi moderat yang tidak diduga adalah terutama pada distribusi pendapatan dan kekayaan, dan kurang berakibat pada efisiensi sistem. Kenaikan harga-harga yang tak terduga akan memperkaya sebagian masyarakat dan mempermiskin sebagian lainnya, dan hanya berakibat kecil saja pada efektifitas pertanian atau industri. Jadi jenis inflasi ini akan sangat berpengaruh pada distribusi pendapatan dan kekayaan (yaitu masalah bagi siapa), sementara efisiensi kegiatan ekonomi (yaitu masalah bagaimana dan apa) sebenarnya tetap saja.[9]
Sekarang, berapa mahal atau berapa biayanya untuk melakukan program redistribusi? Mungkinistilah “biaya” tidak akan melukiskan persoalan sebenarnya. Pengaruhnya lebih bersifat sosial daripada ekonomis. Meluasnya kriminalitas mungkin tidak akan menurunkan angka GNP, tetapi jelas mnegakibatkan kegelisahan dimana-mana. Sama juga halnya, program distribusi kembali secara acak adalah seperti memaksa orang bermain judi yang mereka tidak sukai.
Selain itu pengaruh program redistribusi semacam ini tergantung pada berapa parah inflasi itu. Tak pelak lagi bahwa inflasi ganas atau hiperinflasi memperlemah semangat hidup dan daya tahan kegiatan ekonomi, dan ini sudah terbukti dengan apa yang pernah terjadi di jerman. Sebaliknya, laju inflasi 4atau 6 persen, seperti yang dialami Amerika Serikat pada pertengahan 1980-an, mungkin hanya akan berakibat kecil pada masalah distribusi pendapatan dan kekayaan.
2.5.4 Inflasi tak Berimbang dan Tidak Diduga
Sejarah membuktikan bahwa masa-masa inflasi yang besar mempunyai sifat tak berimbang dan tidak diduga.
Inflasi Tahun 1979-1980 . pada tahun 1979, kebayakan peramal ekonomi mengira bahwa harga-harga akan naik sekitar 7 persen dan harga riil dari minyak akan stabil. Nyatanya, sesudah revolusi Iran berlangsung, indeks harga konsumen nak 11 persen. Selain itu, inflasi ini benar-benar tak berimbang; harga-harga naik 12 persen sementara upah riil sementara merosot 3 persen,
Sesudah itu semua berlaku, maka terciptalah redistribusi secara acak, dan juga pemborosan. Para pemegang saham perusahaan-perusahaan minyak, bergelimang dalam keuntungan bagaikan mendapatkan durian runtuh, sementara para konsumen minyak atau gas, baik perusahaan maupun konsumen akhir, banyak menderita. Untuk lebih mengunkapan betapa tidak beraturnya akibat jenis-jenis inflasi tak berimbang ini,  coba kita lihat saja: saat itu di Amerika, syapa yang memiliki mobil-mobil besar dan bagus?
Akan tetapi, apabila kita lebih mengamati dengan lebih telitih lagi, ternyata banyak dari biaya-biaya inflasi yang menjadi tanggungan masyarakat dan para pemimpin politik tidaklah datang dari inflasi itu sendiri; kegelisahan sosial timbul karena berubahnya harga-harga relatif , bukannya karena kenaikan tingkat harga umum. Mereka yang membeli minyak dengan harga tinggi menderita berupa turunnya pendapatan riil, karena minyak telah menjadi mahal, dan bukan karena naiknya tingkat harga umum. Bahkan apabila inflasi nol, harga relatif dari minyak yang makin meningkat akan memberatkan rumah tangga yang mengkonsumsi minyak. [10]
2.6 Inflasi Menyerap Dan Hiperinflasi
Berdasarkan kepada tingkat kelajuan kenaikan harga-harga yang berlaku, inflasi dapar dibedakan kepada tiga golongan: inflasi merayap, inflasi sederhana (moderate) dan hiperinflasi.
2.6.1 Definisi Inflasi Merayap dan Hiperinflasi
Inflasi merayap adalah proses kenaikan harga-harga yang lambat jalannya. Yang digolongkan kepada inflasi ini adalah kenaikan harga-harga yang tingkatnya tidak melebihi dua atau tiga persen setahun. Malaysia dan Singapura adalah dua dari negara-negara yang tingkat inflasinya dapat dogolongkan sebagai inflasi merayap.
Hiperinflasi adalah proses kenaikan harga-harga yang sangat cepat, yang menyebabkan tingkat harga menjadi dua atau beberapa kali lipat dalam masa yang singkat. Di Indonsia, sebagai contoh, pada tahun 1965 tingkat inflasi adalah 500 persen dan pada tahun 1966 ia telah mencapai 650 persen. Ini berarti tingkat harga-harga naik 5 kali lipat pada tahun 1965 dan 6,5 kali lipat dalam tahun 1966.
Di negara-negara berkembang adakalanya tingkat inflasi tidak mudah dikendalikan. Negara-negara tersebut tidak mengahdapi masalah hiperinflasi, akan tetapi juga tidak mampu menurunkan inflasi pada tingkat yang sangat rendah. Secara rata-rata di sebagian negara tingkat inflasi mencapai di antara 5 hingga 10 persen. Inflasi dengan tingkat yang seperti itu digolongkan sebagai inflasi sederhana atau moderat inflation.[11]


2.6.2 Inflasi merayap dan Pertumbuhan Ekonomi
Segolongan ahli ekonomi berpendapat bahwa inflasi merayap adalah diperlukan untuk menggalakkan perkembangan ekonomi. Menurut mereka harga barang pada umumnya naik dengan tingkat yang lebih tinggi dari kenaikan upah. Maka dalam inflasi merayap upah tidak akan berubah atau naik dengan tingkat yang lebihi rendah dari inflasi. Sebagai akibatnya kenaikan harga-harga yang berlaku terutama mengakibatkan pertambahan dalam keuntungan perusahaan-perusahaan. Untung yang lebih besar akan menggalakkan pertambahan inflasi.
Segolongan ahli ekonomi lain tidak sependapat dengan pandangan di atas. Kebijakan untuk membiarkan berlakunya inflasi merayap untuk menggalakkan pertumbuhan ekonomi hanya sesuai apabila dalam jangka panjang inflasi merayap terus dapat dikendalikan. Golongan ahli ekonomi yang menetang kebijakan menggalakkan inflasi merayap berpendapatan bahwa inflasi merayap yang tidak terkendali pada akhirnya akan menjadi hiperinflasi. Di dalam inflasi seperti ini para pengusaha tidak tergalak lagi untuk berusaha dalam kegiatan yang produktif karena ia tidak akan memberikan keuntungan yang memuaskan. Yang akan berkembang adalah kegiatan yang bersifat spekulasi seperti menyimpan barang dan membeli harta tetap seperti tanah, rumah, dan bangunan perkantoran.
2.6.3 Sumber Wujudnya Hiperinflasi
Hiperinflasi seringkali berlaku dalam perekonomian yang sedang menghadapi perang atau kekacauan politik di dalam negeri. Dalam masa-masa seperti ini pemerintah terpaksa menambah pengeluaran yang jauh melebihi dari pajak yang dipungutnya. Salah satu caranya ialah dengan meminjam dari bank sentral atau mewajibkan bank sentral mencetak lebih banyak uang. Perbelanjaan pemerintah yang berlebihan tersebut akan mempercepat pertambahan pengeluaran agregat. Pada umumnya sektor perusahaan tidak akan mampu menghadapi kenaikan pengeluaran yang sangat berlebihan, dan sebagai akibatnya harga-harga akan naik dengan cepat.
Pemerintah selalu akan berusaha mengendalikan inflasi yang berlaku. Berbagai cara akan dijalankan pemerintah untuk mengurangi kesepatan jalannya inflasi. Antara lain langkah-langkah yang sering digunakan untuk mengahdapi hiperinflasi ialah dengan mengendalikan harga ( menetapkan harga maksimum), mencatu kebutuhan barang-barang kebutuhan pokok, membuat peraturan-peraturan yang melarang menyimpan barang, dan memberi subsidi kepada produsen-produsen inflasi yang dicoba dihindari dengan menjalankan langkah-langkah diatas dinamakan inflasi tertekam. Apabila usaha-usaha membatasi inflasi dengan cara seperti diatas tidak dialkukan maka inflasi tersebut dinamakan inflasi terbuka. Di dalam hiperinflasi yang buruk, pembatasan-pembatasan di atas tidak akan menimbulkan efek seperti yang diharapkan.
Apabila inflasi yang tinggi tingkatnya ini berjalan secara terus menerus, tingkat kegiatan ekonomi akan semakin menurun dan ini menyebabkan pendapatan nasional mengalami kemunduran dan pengangguran semakin meningkat. Ini berarti hiperinflasi cenderung untuk mewujudkan stagflasi.
2.7 Faktor-faktor yang Menyebabkan Inflasi di Indonesia
Menurut Montiel (1989), inflasi di negara berkembang dapat bersumber dari beberapa faktor yang antara lain defisit anggaran belanja pemerintah. Defisit anggaran belanja pemerintah meningkatkan jumlah uang beredar, sebagaimana juga dibahas oleh Sargent dan Wallace (1981). Defisit anggaran pemerintah juga  dapat mengakibatkan persoalan di neraca pembayaran dan selanjutnya mendorong dilakukannya depresiasi mata uang (Livitian and Piterman 1986).
Kajian mengenai keterkaitan antara defisit anggaran pemerintah dan laju inflasi tersebut juga dibahas dalam berbagai kajian, antara lain dalam Razin and Sadka (1987) dan  Brunno and Fischer (1990). Sumber penyebab inflasi di negara berkembang lainnya, dari sisi permintaan, adalah kesenjangan perekonomian karena dipacu melebihi kapasitas yang tersedia ( output gap ). Hal tersebut, misalnya, terjadi di 13 negara Asia sebagaimana dibahas oleh Coe and McDermot (1997).
Di lain pihak, inflasi juga dapat disebabkan oleh faktor penawaran sebagaimana dibahas oleh Ball and Mankiw (1995). Mereka menyatakan bahwa adanya perubahan harga barang-barang tertentu (misalnya, harga bahan bakar minyak-BBM) dapat mengakibatkan melonjaknya laju inflasi. Di samping faktor permintaan dan penawaran, inflasi juga dapat disebabkan oleh ekspektasi. Gordon (1997) menjelaskan determinan inflasi dari tiga sisi tersebut, yaitu permintaan, penawaran dan ekspektasi ( the triangle model ).
Pentingnya ekpektasi dalam mempengaruhi inflasi juga dinyatakan sebelumnya oleh Chopra (1985). Semua faktor yang menyebabkan inflasi tersebut di atas akan digunakan sebagai alat analisis untuk menjelaskan faktor-faktor utama yang menyebabkan nflasi di Indonesia. Inflasi di Indonesia, secara umum, dapat disebabkan oleh kombinasi dari berbagai faktor baik dari sisi permintaan, penawaran, maupun dari ekspektasi. Kontribusi dari masing-masing faktor yang mempengaruhi inflasi tersebut tidak selalu sama dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, faktor utama yang mempengaruhi inflasi bisa berbeda dari waktu ke waktu.
Pada awal tahun 1960 sampai dengan pertengahan 1960-an, kenaikan laju inflasi lebih disebabkan dari sisi permintaan terkait dengan kebijakan defisit anggaran pemerintah. Pada waktu tersebut, pemerintah melakukan kebijakan defisit anggaran sehingga meningkatkan jumlah uang beredar dan pada gilirannya mendorong tingkat laju inflasi yang tinggi. Laju inflasi yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah uang beredar juga terjadi pada awal 1970-an.
 Akan tetapi, peningkatan jumlah uang beredar pada periode ini tidak disebabkan oleh kebijakan defisit anggaran, tetapi terkait dengan meningkatnya harga minyak di pasar dunia. Pada awal tahun 1970-an harga minyak dunia meningkat sehingga penerimaan pemerintah dari minyak meningkat tinggi. Peningkatan pendapatan pemerintah dari minyak tersebut meningkatkan jumlah uang beredar sehingga mendorong inflasi meningkat tajam pada 1973 - 74.
Faktor yang mempengaruhi laju inflasi di Indonesia juga dapat disebabkan oleh depresiasi mata uang domestik18. Misalnya pada waktu pemerintah masih menganut sistem nilai tukar tetap, setiap pemerintah melakukan devaluasi (misalnya, pada tahun 1978, 1983, dan 1986), maka selalu diikuti dengan lonjak laju inflasi yang lebih tinggi. Dampak nilai tukar terhadap inflasi di Indonesia lebih besar melalui tekanan biaya ( direct passthrough ) daripada melalui output gap ( indirect passthrough )20. Depresiasi rupiah lebih meningkatkan tekanan inflasi di Indonesia.
Faktor lain yang mempengaruhi inflasi di Indonesia dari sisi permintaan adalah permintaan musiman, misalnya, menjelang hari besar keagamaan seperti Idul Fitri. Perilaku musiman menjelang Idul Fitri akan menambah ekstrainflasi tahunan. Berdasarkan survei mekanisme pembentukan harga pada tahun 2001, tambahan inflasi pada periode Idul Fitri terutama disebabkan oleh tingginya permintaan dan kecenderungan perilaku permintaan yang kurang elastis terhadap harga pada periode tersebut. Penyebab lainnya adalah faktor dorongan pesaing yang menaikan harga. Sementara itu, keterbatasan pasokan bukan penyebab utama kenaikan harga pada periode tersebut21.
Inflasi di Indonesia juga dapat disebabkan dari sisi penawaran. Inflasi penawaran adalah kenaikan inflasi karena meningkatnya biaya input ( cost push inflation ). Selain karena kenaikan biaya, inflasi penawaran juga dapat disebabkan oleh adanya kebijakan pemerintah terhadap harga (administered prices ) dan supply schok . Inflasi penawaran, selain disebabikan oleh meningkatnya biaya input dapat juga disebabkan oleh meningkatnya biaya upah. Kenaikan harga dari sisi biaya merupakan faktor penting yang menyebabkan inflasi di Indonesia.
Faktor lain yang mempengaruhi sisi penawaran adalah  kebijakan yang diambil oleh instansi lain di luar Bank Indonesia, misalnya, kebijakan penghapusan subsidi pemerintah atau kebijakan kenaikan pajak yang mengakibatkan meningkatnya harga barang tersebut ( administered prices ). Misalnya kenaikan inflasi yang sangat tinggi pada tahun 2005 (dan juga pada 2008) terutama terkait dengan kebijakan kenaikan harga BBM.
Inflasi juga dapat disebabkan oleh adanya gangguan dari sisi penawaran ( supply schok ) misalnya apabila terjadi musim kering yang mengakibatkan gagal panen, terjadinya bencana alam, gangguan distribusi sehingga distribusi tidak lancar serta adanya kerusuhan sosial yang berakibat terputusnya pasokan dari luar daerah. Gangguan tersebut akan mempengaruhi jumlah barang yang ditawarkan akan mengakibatnya kenaikan tingkat harga barangbarang tersebut secara umum dan pada akhirnya akan meningkatkan laju inflasi.
Inflasi di Indonesia selain disebabkan oleh faktor permintaan dan penawaran, inflasi juga dapat disebabkan oleh ekspektasi (inflasi ekspektasi). Ekspektasi tersebut terkait dengan ekspektasi masyarakat dalam pembentukan harga dan upah. Seperti telah dijelaskan, ekspektasi dapat bersifat adaptif ( backward expectation ) maupun ekspektasi berdasarkan informasi dan kebijakan ke depan ( forward expectation) .
Berdasarkan survei, yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada pertengahan 2008, ekspektasi masyarakat mengindikasikan kecenderungan ekspektasi yang bersifat forward looking . Pelaku usaha sektor finansial maupun masyarakat umum akan melakukan keputusan ekonominya berdasarkan perkiraan kondisi ekonomi dan perkiraan inflasi ke depan. Oleh karena itu,  kebijakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia akan mempunyai pengaruh yang signifikan dalam mempengaruhi ekspektasi masyarakat terhadap perkiraan inflasi ke depan.
2.8 Pengendalian Inflasi di  Indonesia
Sebagaimana halnya yang umum terjadi pada negara – negara berkembang, inflasi di Indonesia relatif lebih banyak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat struktural ekonomi bila dibandingkan dengan hal-hal yang bersifat monetary policies. Sehingga bisa dikatakan, bahwa pengaruh dari cosh push inflation lebih besar dari pada demand pull inflation. Memang dalam periode tahun-tahun tertentu, misalnya pada saat terjadinya oil booming, tekanan inflasi di Indonesia disebabkan meningkatnya jumlah uang beredar. Tetapi hal tersebut tidak dapat mengabaikan adanya pengaruh yang bersifat struktural ekonomi, sebab pada periode tersebut, masih terjadi kesenjangan antara penawaran agregat dengan permintaan agregat, contohnya di sub sektor pertanian, yang dapat meningkatkan derajat inflasi.
Pada umumnya pemerintah Indonesia lebih banyak menggunakan pendekatan moneter dalam upaya mengendalikan tingkat harga umum. Pemerintah Indonesia lebih senang menggunakan instrumen moneter sebagai alat untuk meredam inflasi, misalnya dengan open market mechanism atau reserve requirement. Tetapi perlu diingat, bahwa pendekatan moneter lebih banyak dipakai untuk mengatasi inflasi dalam jangka pendek, dan sangat baik diterapkan peda negara-negara yang telah maju perekonomiannya, bukan pada negara berkembang yang masih memiliki structural bottleneck. Jadi, apabila pendekatan moneter ini dipakai sebagai alat utama dalam mengendalikan inflasi di negara berkembang, maka tidak akan dapat menyelesaikan problem inflasi di negara berkembang yang umumnya berkarakteristik jangka panjang.
Seperti halnya yang terjadi di Indonesia pada saat krisis moneter yang selanjutnya menjadi krisis ekonomi, inflasi di Indonesia dipicu oleh kenaikan harga komoditi impor (imported inflation) dan membengkaknya hutang luar negeri akibat dari terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika dan mata uang asing lainnya. Akibatnya, untuk mengendalikan tekanan inflasi, maka terlebih dahulu harus dilakukan penstabilan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, khususnya dolar Amerika.
Dengan berpedoman pada berbagai hambatan dalam pembangunan perekonomian Indonesia yang telah disebutkan di atas, maka perlu berbagai upaya pembenahan, yaitu :
2.8.1 Meningkatkan Supply  Bahan Pangan
Meningkatkan supply bahan pangan dapat dilakukan dengan lebih memberikan perhatian pada pembangunan di sektor pertanian, khususnya sub sektor pertanian pangan. Modernisasi teknologi dan metode pengolahan lahan, serta penambahan luas lahan pertanian perlu dilakukan untuk meningkatkan laju produksi bahan pangan agar tercipta swasembada pangan.
2.8.2 Mengurangi Defisit APBN
Mungkin dalam masa krisis ekonomi mengurangi defisit APBN tidak dapat dilaksanakan, tetapi dalam jangka panjang (setelah krisis berlalu) perlu dilakukan. Untuk mengurangi defisit anggaran belanja, pemerintah harus dapat meningkatkan penerimaan rutinnya, terutama dari sektor pajak dengan benar dan tepat karena hal ini juga dapat menekan excess demand. Dengan semakin naiknya penerimaan dalam negeri, diharapkan pemerintah dapat mengurangi ketergantungannya terhadap pinjaman dana dari luar negeri. Dengan demikian anggaran belanja pemerintah nantinya akan lebih mencerminkan sifat yang relative independent.
2.8.3 Meningkatkan Cadangan Devisa
Pertama, perlu memperbaiki posisi neraca perdagangan luar negeri (current account), terutama pada perdagangan jasa, agar tidak terus menerus defisit. Dengan demikian diharapkan cadangan devisa nasional akan dapat ditingkatkan. Juga, diusahakan untuk meningkatkan kinerja ekspor, sehingga net export harus semakin meningkat.
Kedua, diusahakan agar dapat mengurangi ketergantungan industri domestik terhadap barang-barang luar negeri, misalnya dengan lebih banyak memfokuskan pembangunan pada industri hulu yang mengolah sumberdaya alam yang tersedia di dalam negeri untuk dipakai sebagai bahan baku bagi industri hilir. Selain itu juga perlu dikembangkan industri yang mampu memproduksi barang-barang modal untuk industri di dalam negeri.
Ketiga, mengubah sifat industri dari yang bersifat substitusi impor kepada yang lebih bersifat promosi ekspor, agar terjadi efisiensi di sektor harga dan meningkatkan net export. Keempat, membangun industri yang mampu menghasilkan nilai tambah yang tinggi dan memiliki kandungan komponen lokal yang relatif tinggi pula.


DAFTAR PUSTAKA
Boediono.1999.Ekonomi Makro.Yogyakarta:Cet;XIX.BPFE-YOGYAKARTA.
Sukirno.sadono.2002. Pengantar Teori Makro Ekonomi Edisi Kedua.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sukirno. Sadono.2004. Makro Ekonomi Teori Pengantar EdisiKetiga. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Samuel. Paul, William Nordhaus, 1997. Ekonomi Edisi Keduabelas Jilid 1.Jakarta: Erlangga.
Samuelson. Paul, William Nordhaus, 1992. Makro Ekonomi Edisi Keempatbelas. Jakarta: Erlangga.
Suseno & Siti Aisyah. 2009. Inflasi. Jakarta : Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) BI.

0 Response to "Materi Makalah Inflasi Lengkap"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel