-->

Neraca Perdagangan dan Neraca Pembayaran

2.1 Perdagangan Internasional
Setiap negara dihubungkan dengan negara lainnya di dunia ini melalui dua saluran penting yaitu : perdagangan (barang dan jasa) serta keuangan. Hubungan-hubungan perdagangan muncul dari fakta bahwa sejumlah produksi dari sebuah negara tertentu diekspor ke beberapa negara lainnya, sedangkan beberapa barang dan jasa yang dikonsumsikan oleh atau diinvestasikan di dalam negeri sebuah negara tertentu adalah hasil yang diimpor dari negara-negara lain. Perdagangan internasional biasa pula disebut perdagangan luar negeri.[1]
            2.1.1 Pengertian Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan antar negara atas dasar kesepakatan bersama.
            Kegiatan ekspor dan impor merupakan bagian yang penting dari kegiatan perekonomian suatu negara. Istilah perekonomian terbuka berarti suatu perekonomian itu mempunyai hubungan ekonomi dengan negara-negara lain, dan terutama ini dilakukan dengan menjalankan kegiatan ekspor dan impor. Di samping itu aliran modal untuk investasi juga berlaku di antara berbagai negara.[2]

2.1.2 Pandangan Mazhab Terhadap Perdagangan Internasional
            2.1.2.1 Mazhab Merkantilis
Ahli-ahli ekonomi yang tergolong dalam mazhab Merkantilis, yaitu ahli-ahli ekonomi yang hidup di sekitar abad ke-16 dan ke-17. Mereka berpendapat bahwa perdagangan luar negeri merupakan sumber kekayaan untuk sesuatu negara. Menurut mereka, suatu negara dapat mempertinggi kekayaannya dengan cara menjual barang-barangnya ke luar negeri.[3]
2.1.2.1 Mazhab Klasik
Sesudah itu, ahli-ahli ekonomi Klasik menganalisis dengan lebih mendalam lagi peranan perdagangan luar negeri dalam perekonomian. Misalnya, David Ricardo. Teori Ricardo, yang menerangkan mengenai keuntungan yang dapat diperoleh dari spesialisasi perdagangan, merupakan teori yang hingga sekarang menjadi dasar kepada teori perdagangan luar negeri. Berdasarkan kepada teori Ricardo tersebut, negara-negara digalakkan menjalankan sistem perdagangan bebas. Yang dimaksudkan dengan perdagangan bebas adalah sistem perdagangan luar negeri di mana setiap negara melakukan perdagangan tanpa ada halangan perdagangan. Tidak terdapat sebarang pajak dan peraturan-peraturan yang melarang ekspor dan impor.

2.1.3 Syarat Perdagangan Internasional
Untuk melihat apakah suatu negara menikmati lebih banyak keuntungan dari perdagangan luar negeri atau ia menimbulkan efek buruk kepada perekonomian negara, perlulah diperhatikan perubahan-perubahan dalam syarat perdagangan negara tersebut. Yang diartikan dengan syarat perdagangan adalah perbandingan di antara indeks harga-harga barang yang diekspor oleh sesuatu negara dengan indeks harga barang-barang yang diimpor negara itu.[4]
                        Apabila dinyatakan secara formula, yaitu :
                        Ket :    Px        : Indeks harga barang-barang yang diekspor
                                    Pm       : Indeks harga barang-barang yang diimpor
Untuk melihat perubahan syarat perdagangan dari tahun ke tahun, negara tersebut akan menentukan satu tahun tertentu sebagai tahun yang menjadi dasar perbandingan. Syarat perdagangan pada “tahun dasar” diberi angka indeks 100, dan ini tentunya adalah disebabkan karena Px = 100 dan Pm = 100.
Contoh : di negara A, pada suatu tahun tertentu, indeks ekspornya telah mencapai 150 dan indeks impornya mencapai 200. Maka syarat perdagangannya yang dinyatakan dalam persamaan adalah
Indeks syarat perdagangan yang lebih besar dari 100 berarti bahwa Px > Pm, yaitu harga barang-barang ekspor bertambah lebih cepat dari harga barang-barang impor. Ini adalah keadaan yang menguntungkan negara itu, karena dibutuhkan ekpor yang semakin sedikit untuk mengimpor barang yang sama dari negara lain. Sebaliknya pula, indeks kurs syarat perdagangan yang lebih kecil dari 100 akan menimbulkan masalah dalam perekonomian negara. Untuk memperoleh barang impor yang sama banyaknya, negara itu perlu mengekspor lebih banyak.

2.1.4 Keuntungan Melakukan Perdagangan Internasional[5]
            Perdagangan internasional memiliki beberapa keuntungan, yaitu :
2.1.4.1 Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksikan di dalam negeri
            Setiap negara tidak dapat menghasilkan semua barang-barang yang dibutuhkannya. Misalnya, negara maju memerlukan karet alam tetapi barang tersebut tidak dapat dihasilkan di negara-negara mereka. Maka mereka terpaksa mengimpor barang-barang tersebut dari negara-negara di Asia Tenggara, terutama Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Sebaliknya pula negara-negara di Asia Tenggara belum dapat memproduksikan sendiri beberapa hasil industri modern seperti kapal terbang, kapal pengangkut minyak dan mesin-mesin industri. Maka negara-negara itu harus mengimpor barang-barang tersebut dari negara maju.
2.1.4.2 Memperoleh keuntungan dari spesialisasi
            Sebab yang utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah untuk memperoleh keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun sesuatu negara dapat memproduksikan sesuatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksikan oleh negara lain, tetapi ada kalanya adalah lebih baik apabila negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri.
            Sebagai contoh, Amerika Serikat dan Jepang mempunyai kemampuan untuk memproduksi kain. Tetapi Jepang dapat memproduksikannya dengan lebih efisien dari Amerika Serikat. Dalam keadaan seperti ini, untuk mempertinggi keefisienan penggunaan faktor-faktor produksi, Amerika Serikat perlu mengurangi produksi kainnya dan mengimpor barang tersebut dari Jepang.
            Sebaliknya pula terdapat barang-barang di mana Amerika Serikat adalah lebih efisien dari Jepang di dalam memproduksinya. Kedua negara ini dapat memproduksi kapal terbang dan gandum, dan misalkan Amerika Serikat adalah lebih efisien dalam memproduksi barang-barang tersebut. Dalam kasus ini adalah lebih baik untuk Jepang untuk mengimpor kapal terbang dan gandum dari Amerika Serikat.
            Dalam menerangkan mengenai keuntungan yang diperoleh dari spesialisasi dan perdagangan luar negeri, perlulah dibedakan di antara pengertian keuntungan mutlak dan keuntungan berbanding.
            2.1.4.2.1 Keuntungan mutlak
Keuntungan mutlak adalah keuntungan yang diperoleh oleh suatu negara dari mengkhususkan kegiatannya kepada memproduksikan barang-barang dengan efisiensi yang lebih tinggi dari negara-negara lain[6].Contoh :

Kain (meter)
Beras (kg)
Negara A
500
2000
Negara B
750
1800

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa di negara B seorang pekerja dapat memproduksikan kain lebih banyak dari seorang pekerja di negara A. Ini berarti pekerja di negara B lebih efisien dri negara A dalam menghasilkan kain. Dalam keadaan ini dikatakan bahwa negara B mempunyai keuntungan mutlak dalam memproduksi kain. Gambaran data di atas juga menunjukkan bahwa seorang pekerja di negara A dapat mengeluarkan lebih banyak beras dari seorang pekerja di negara B. Dengan demikian negara A mempunyai keuntungan mutlak dalam memproduksi beras.
                                    2.1.4.2.2 Keuntungan berbanding
Perdagangan luar negeri juga dapat dilakukan walaupun salah satu negara tersebut lebih efisien dari negara yang lain di dalam memproduksikan kedua barang tersebut. Perdagangan yang saling menguntungkan itu dimungkinkan oleh wujudnya suatu bentuk keuntungan yang dinamakan keuntungan berbanding.[7] Contoh :

Kain (meter)
Beras (kg)
Negara M
800
2400
Negara N
600
1200

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa seorang pekerja di negara M lebih efisien dari seorang pekerja di negara N dalam memproduksikan beras dan kain, karena seorang pekerja di negara itu dapat memproduksikan lebih banyak kain maupun beras kalau dibandingkan dengan yang dapat dihasilkan seorang pekerja di negara N. Namun demikian kedua-dua negara tersebut tetap dapat melakukan perdagangan yang saling menguntungkan.
Keuntungan tersebut timbul sebagai akibat dari perbedaan dalam harga relatif dari kain dan beras di masing-masing negara itu. Di negara M, 800 meter kain sama nilainya dengan 2400 kg beras, dan ini berarti harga relatif di antara kain dengan beras adalah 1 meter kain = 3 kg beras. Dengan demikian di negara M untuk memperoleh semeter kain dibutuhkan 3 kg beras.
Di negara N seorang pekerja dapat menghasilkan 600 meter kain atau 1200 kg beras. Dengan demikian di negara N, harga relatif di antara kain dan beras adalah 1 meter kain = 2 kg  beras, dan ini berati untuk memperoleh semeter kain dibutuhkan 2 kg beras. Dari keadaan ini dapatlah dikatakan harga kain adalah relatif lebih murah di negara N, dan beras adalah lebih murah di negara M.
Dalam keadaan seperti ini, negara N dikatakan mempunyai keuntungan berbanding dalam memproduksikan kain. Sedangkan di negara M dikatakan mempunyai keuntungan berbanding dalam memproduksikan beras.
Dengan demikian, keuntungan berbanding dapat diartikan sebagai keuntungan yang diperoleh oleh suatu negara dari mengkhususkan (melakukan spesialisasi) dalam memproduksikan barang-barang yang mempunyai harga relatif yang lebih rendah dari negara lain.
            Dengan mengadakan spesialisasi perdagangan, setiap negara dapat memperoleh keuntungan seperti[8] :
2.1.4.2.1 Faktor-faktor produksi yang dimiliki setiap negara dapat digunakan dengan lebih efisien.
2.1.4.2.2 Setiap negara dapat menikmati lebih banyak barang dari yang dapat diproduksikan di dalam negeri.
2.1.4.3 Memperluas pasar industri-industri dalam negeri
Beberapa jenis industri telah dapat memenuhi permintaan dalam negeri sebelum mesin-mesin (alat-alat produksi) sepenuhnya digunakan. Ini berarti bahwa industri itu masih dapat menaikkan produksi dan meningkatkan keuntungannya apabila masih terdapat pasar untuk barang-barang yang dihasilkan oleh industri itu. Karena seluruh permintaan dari dalam negeri telah dipenuhi, satu-satunya cara untuk memperoleh pasaran adalah dengan mengekspornya ke luar negeri.
Apabila kapasitas dari mesin-mesin masih rendah, sehingga produksi mesin-mesin itu belum mencapai tingkat yang optimum, ekspor ke luar negeri akan mempertinggi keefisienan dari mesin-mesin yang digunakan dan mengurangi biaya produksi. Dengan demikian, untuk industri-industri yang mempunyai sifat seperti itu, perdagangan luar negeri bukan saja akan menambah produksi dan meningkatkan keuntungan, tetapi juga dapat menurunkan biaya produksi. Faktor yang belakangan ini selanjutnya akan menimbulkan keuntungan yang lebih banyak lagi kepada industri-industri tersebut.
2.1.4.4 Menggunakan teknologi modern dan meningkatkan produktivitas
            Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara mempelajari teknik produksi yang lebih efisien dan cara-cara manajemen yang lebih modern. Perdagangan luar negeri memungkinkan negara tersebut mengimpor mesin-mesin atau alat-alat yang lebih modern untuk melaksanakan teknik produksi dan cara produksi yang lebih baik. Alat-alat kantor yang lebih baik seperti computer juga dapat menaikkan taraf keefisienan manajemen. Keuntungan-keuntungan ini terutama dinikmati oleh negara-negara berkembang. Di negara-negara tersebut kegiatan ekonomi masih banyak yang menggunakan teknik produksi dan cara manajemen yang tradisional. Oleh karena itu daya produktivitasnya masih rendah dan produktivitasnya terbatas. Dengan mengimpor teknologi yang lebih modern negara tersebut dapat menikkan produktivitasnya, dan ini akan mempercepat pertambahan produksi.

2.1.5 Faktor Yang Mendorong Proteksi Perdagangan
            Berdasarkan kepada teori yang menerangkan keuntungan dari spesialisasi, ahli-ahli ekonomi telah banyak mengemukakan padangan yang menerangkan pentingnya menjalankan perdagangan bebas atau free trade dalam perdagangan luar negeri. Berlakunya “globalisasi” dalam hubungan ekonomi luar negeri, dan perkembangan praktek perdagangan bebas yang diatur oelh WTO (World Trade Organization) memberi gambaran tentang sejauh mana berbagai negara mengakui kebaikan persaingan bebas dan spesialisasi dalam perdagangan luar negeri. Walau bagaimanapun perlulah disadari bahwa adakalanya sesuatu negara perlu melakukan proteksi dan menciptkan halangan perdagangan.[9]
Adapun faktor-faktor yang mendorong proteksi perdagangan tersebut, yaitu :
2.1.5.1 Mengatasi masalah deflasi dan pengangguran
            Perkembangan ekonomi yang efisien di negara-negara lain ada kalanya menimbulkan efek buruk kepada perekonomian. Perkembangan itu mungkin mengurangi perkembangan ekspor dari negara yang bersangkutan, atau impornya semakin bertambah besar. Kewujudan keadaan seperti itu dapat menimbulkan efek buruk kepada kegiatan ekonomi dalam negeri, yaitu perusahaan-perusahaan domestik menghadapi masalah kekurangan permintaan dan terpaksa mengurangi jumlah pekerja. Maka pengangguran akan berlaku.
            Masalah-masalah ekonomi dalam negeri seperti inflasi, tuntutan upah serikat buruh, dan kenaikan biaya yang tinggi juga dapat menyebabkan ketidakmampuan perusahaan-perusahaan dalam negeri bersaing dengan barang-barang luar negeri. Ini akan menimbulkan efek kenaikan kecenderungan mengimpor dan meninmbulkan efek buruk perkembangan ekonomi dalam negeri, dan menambah pengangguran.
            Kecenderungan mengimpor yang semakin tinggi sebagai akibat perkembangan ekonomi yang lebih efisien di negara-negara lain, dan perkembangan ekonomi yang tidak mendorong di dalam negeri, kerapkali mendorong pemerintah untuk melaksanakan kebijakan proteksi. Tujuannya adalah agar perkembangan perusahaan-perusahaan dalam negeri tidak dipengaruhi oleh efek buruk sebagai akibat saingan barang impor.


2.1.5.2 Mendorong perkembangan industri baru
            Tujuan ini terutama banyak dilakukan negara-negara berkembang yang ingin mendorong perkembangan jenis-jenis industri tertentu. Industri baru biasanya belum mendapat kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, penjual yang dapat diharapkan pada permulaannya adalah sedikit dan ini menyebabkan kapasitas produksi mereka belum mencapai tingkat yang paling optimum (tingkat di mana biaya rata-rata adalah yang paling rendah). Apabila baiaya produksi tinggi, dan mutu produksinya belumlah sebanding dengan jenis barang yang sama yang diproduksikan di luar negeri, maka industri baru akan mengalami kesukaran untuk menjual produksinya pada harga yang sama dengan barang-barang buatan luar negeri. Dalam keadaan seperti ini proteksi bertujuan agar industri yang baru didirikan dapat berkembang dan akhirnya dapat bersaing dengan produksi yang sama dari luar negeri.
2.1.5.3 Untuk mendiversifikasikan perekonomian
            Ini juga merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh negara-negara berkembang. Ketika negara-negara berkembang memulakan usaha pembangunannya, pada umumnya kegiatan ekonomi dijalankan di sektor pertanian tradisional yang rendah produktivitasnya. Ini menyebabkan pendapatan masyarakat sangat rendah. Untuk menaikkan pendapatan dan mengukuhkan struktur ekonomi adalah penting untuk mendiversifikasikan kegiatan ekonomi, dan terutama mengembangkan sektor industri. Untuk memastikan agar pabrik-pabrik yang baru akan memperoleh pasaran yang cukup untuk produksinya, dan harga barang adalah melebihi biaya produksi, pemerintah negara-negara berkembang pada umumnya melaksanakan kebijakan proteksi dalam usahanya mendorong perkembangan industri-industri.
2.1.5.4 Untuk menghindari kemerosotan industri-industri tertentu
            Tujuan ini terutama ingin dicapai oleh negara-negara maju. Negara-negara yang sudah lama berkembang, seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, memiliki beberapa jenis industri yang menghadapi saingan yang hebat dari industri-industri yang sejenis di negara-negara lain. Industri-industri seperti itu adalah industri galangan kapal, industri baja, industri mobil dan industri lain. Persaingan tersebut terutamanya adalah dari Jepang, dan negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara. Negara-negara ini dapat memproduksikan barang yang sama dan mutu yang lebih baik pada harga yang lebih rendah. Apabila Amerika Serikat dan negara-negara Eropa memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk mengimpor barang-barang tersebut, maka industri-industri yang ada di negara mereka harus ditutup dan keadaan pengaangguran akan menjadi semakin buruk. Untuk menghindarinya, kebijakan proteksi perlu dijalankan.
2.1.5.5 Untuk memperbaiki neraca pembayaran
            Salah satu sumber penting dari defisit dalam neraca pembayaran adalah impor yang melebihi ekspor. Mendorong ekspor adalah salah satu cara untuk mengatasi masalah defisit neraca pembayaran tersebut. Apabila usaha ini gagal, dan keadaan di mana impor melebihi ekspor menjadi semakin buruk, usaha untuk mengatasi masalah neraca pembayaran dapat dilakukan dengan membatasi impor, dengan cara membatasi jumlah yang dapat diimpor atau dengan memungut pajak impor agar harga di dalam negeri menjadi lebih mahal dan akan mengurangi permintaannya. Cara lain yang dapat dilakukan untuk memperbaiki neraca pembayaran adalah dengan mencatu valuta asing yang akan digunakan untuk mengimpor beberapa jenis barang tertentu.
2.1.5.6 Untuk menghindari dumping
            Dumping adalah politik dagang yang menetapkan harga jual di luar negeri lebih rendah dari harga normal. Sebagian industri yang masih mempunyai kelebihan kemampuan (kapasitas) memproduksi, tetapi tidak dapat lagi menaikkan penjualannya di dalam negerinya, mencoba memperoleh pembeli luar negeri dengan cara menjual barang-barangnya pada harga yang sangat rendah. Apabila produsen-produsen di negara-negara pengimpor tidak dapat menjual pada harga tersebut, masyarakat dan konsumen di negara itu akan lebih cenderung untuk membeli barang impor yang lebih murah. Industri-industri di negara tersebut akan kehilangan pasaran, dan ini selanjutnya dapat menimbulkan pengangguran. Oleh karena dumping dapat menimbulkan efek buruk kepada negara yang membeli barang dilempar dengan harga murah, kebijakan proteksi dijalankan untuk menghindarinya.
2.1.5.7 Untuk menambah pendapatan negara
            Adakalanya pemerintah meninggikan pajak ke atas barang-barang impor bukan saja untuk menghambat kemasukan barang-barang tersebut tetapi juha untuk meninggikan pendapatan pemerintah. Apabila pemerintah ingin menambah perbelanjaan tetapi tidak dapat memperoleh tambahan pendapatan dari sumber-sumber pajak yang lain, maka menaikkan pajak impor kerapkali dilakukan. Cara ini dipilih karena bukan saja pendapatan pemerintah bertambah tetapi pajak juga dapat mencapai beberapa tujuan lain seperti mengurangi impor, memperbaiki neraca pembayaran dan mendorong perkembangan industri-industri dalam negeri.

2.1.6 Alat Pembatasan Perdagangan
            Proteksi dan pembatasan perdagangan adalah kebijakan-kebijakan pemerintah dalam membatasi atau mengurangi barang-barang yang diimpor. Adapun halangan perdagangan, yaitu[10] :
2.1.6.1 Tarif dan pajak impor
            Hambatan perdagangan yang terbentuk menggunakan pajak ke atas barang-barang yang diimpor dinamakan tarif. Proteksi perdagangan ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu tarif advolarem dan tarif spesifik (khusus).
2.1.6.1.1 Tarif advolarem adalah pajak impor impor yang dikira berdasarkan harga dari barang yang diimpor. Contoh, apabila pajak impor mobil adalah 50%, ini berarti pajak yang harus dibayar adalh 50% dari harga impor suatu mobil,
2.1.6.1.2 Tarif spesifik atau pajak spesifik (khusus) adalah pajak yang tetap nilainya walaupun harga barang impor berubah. Contoh, misalkan 1 ton beras dikenakan pajak impor sebanyak Rp. 200.000, maka apakah harga beras naik atau turun, pajak impor setiap ton beras akan tetap sebanyak Rp. 200.000.
                        2.1.6.2 Kuota pembatasan impor
Kuota pembatasan impor adalah bentuk hambatan perdagangan yang menentukan jumlah maksimum sesuatu jenis barang yang dapat diimpor dalam suatu periode tertentu, misalnya setahun. Berbeda dengan tarif, kuota tidak dapat menambah pendapatan pemerintah. Akan tetapi untuk produksi domestik, kuota merupakan langkah pemerintah yang lebih menguntungkan karena setelah kuota impor dipenuhi, mereka tidak lagi menghadapi persaingan dari luar.
                        2.1.6.3 Hambatan perdagangan bukan tarif
Langkah-langkah pemerintah dan peraturan-peraturan yang akan mendorong dan memberi keutamaan ke atas konsumsi barang-barang dalam negara tidak mendorong konsumsi barang-barang impor dinamakan hambatan perdagangan bukan tarif. Salah satu hambatan perdagangan bukan tarif yang seringkali digunakan diberbagai negara ialah peraturan yang mewajibkan departemen-departemen pemerintah atau perusahaan-perusahaan pemerintah untuk lebih mengutamakan pembelian barang-barang produksi dalam negeri. Hambatan perdagangan bukan tarif juga wujud dalam bentuk peraturan-peraturan yang menentukan syarat-syarat yang harus dipenuhi agar sesuatu barang impor dibenarkan masuk ke suatu negara. Sebagai contoh, peraturan yang menyatakan jenis-jenis mobil tertentu tidak boleh diimpor, dapatlah digolongkan sebagai hambatan perdagangan bukan tarif. Juga peraturan bahwa pokok-pokok tanaman harus terlebih dahulu bersih dari penyakit sebelum dapat diimpor ke suatu negara adalah tergolong dalam hambatan perdagangan bukan tarif.[11]
2.1.6.4 Pembatasan penggunaan valuta asing
Ketiga cara membatasi perdagangan di atas merupakan pembatasan yang tergolong dalam kebijakan fiskal. Di samping itu, pemerintah dapat menjalankan kebijakan moneter untuk membatasi impor, seperti tidak memberi kemudahan pinjaman bank untuk mengimpor atau melakukan pembatasan penjualan valuta asing yang digunakan untuk mengimpor. Ada beberapa cara untuk membatasi penggunaan valuta asing untuk tujuan mengimpor. Salah satu caranya ialah mencatu jumlah uang asing yang digunakan untuk mengimpor barang-barang mewah. Yang kedua ialah dengan menjual valuta asing dengan harga yang lebih tinggi dari kurs resmi yang ditetapkan oleh pemerintah. Penjualan valuta asing yang dibatasi tersebut dapat mengurangi keinginan untuk mengimpor.

2.1.7 Kebaikan Dan Keburukan Perekonomian Terbuka Atau Perdagangan Internasional[12]
Sejak lama ahli-ahli ekonomi Klasik telah menunjukkan bahwa kegiatan perdagangan luar negeri mempunyai beberapa sumbangan penting kepada pertumbuhan ekonomi. Ekspor, misalnya akan memperluas pasar barang buatan dalam negeri dan ini akan memungkinkan perusahaan-perusahaan dalam negeri mengembangkan kegiatannya. Penanaman karet di Indonesia tidak akan seluas seperti yang ada sekarang ini apabila tidak terdapat pasaran di luar negeri. Kegiatan impor juga dapat memberi sumbangan kepada pertumbuhan ekonomi. Industri-industri dapat mengimpor mesin-mesin dan bahan mentah yang diperlukannya. Sebaliknya perlu pula disadari bahwa keterbukaan sesuatu perekonomian tidak selalu menguntungkan impor yang berlebih-lebihan dapat mengurangi kegiatan ekonomi di dalam negeri karena hal tersebut berarti konsumen menggunakan barang luar negeri dan tidak menggunakan barang buatan dalam negeri. Lebih banyak lagi pengangguran akan berlaku. Implikasi berikutnya dari keadaan ini ialah modal dalam negeri akan mengalir ke luar negeri. Maka ketidakseimbangan di antara pengaliran uang dari dalam ke luar negeri akan berlaku. Ini cenderung menurunkan nilai matau uang domestik.


2.2 Neraca Perdagangan
            2.2.1 Pengertian Neraca Perdagangan
Neraca perdagangan adalah suatu neraca yang menggambarkan perbedaan di antara nilai ekspor dengan nilai impor dalam suatu tahun tertentu.[13]
            Ekspor dan impor adalah kegiatan yang selalu dilakukan setiap negara dan sampai di mana peranan kegiatan tersebutdalam perekonomian dapat diamati dari perkembangan neraca perdagangan. Defisit dalam neraca perdagangan, yang disebabkan oleh impor yang melebihi ekspor, mengurangi tingkat kegiatan ekonomi di dalam negeri dan masalah pengangguran yang lebih serius akan dihadapi.
            Masalah lain yang mungkin timbul adalah kehilangan kepercayaan orang terhadap prospek ekonomi negara tersebut dalam jangka panjang. Sebagai akibatnya modal dalam negeri akan mengalir ke luar dan modal luar negeri tidak akan ditanam di negara tersebut. Keadaan seperti ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi di masa depan. Akibat-akibat buruk seperti ini menyebabkan berbagai negara berusaha untuk menghindari masalah defisit dalam neraca perdagangan dan aliran modal.


2.3 Neraca Pembayaran
          2.3.1 Pengertian Neraca Pembayaran
Neraca pembayaran adalah suatu catatan aliran keuangan yang menunjukkan nilai transaksi perdagangan dan aliran dana yang dilakukan di antara suatu negara dengan negara lain dalam suatu tahun tertentu.[14]
Menurut Tambunan (2000:184), neraca pembayaran adalah catatan sistematis atas semua transaksi ekonomi internasional (perdagangan, investasi, pinjaman, dan sebagainya) yang terjadi antara penduduk dalam negeri suatu negara serta penduduk luar negeri selama jangka waktu tertentu, lazimnya satu tahun, yang dinyatakan dalam dolar AS.
Neraca pembayaran mencakup pembelian dan penjualan barang serta jasa, hibah dari individu dan pemerintah asing, serta transaksi keuangan.
Salah satu komponen yang tidak kalah pentingnya dalam proses pembagunan di negara-negara yang sedang berkembang adalah neraca pembayaran. Neraca pembayaran tersebut penting, karena menyangkut dua aliran sumber daya keuangan, yaitu :[15]
2.3.1.1 Arus dana investasi asing dan sumber daya alam lainnya. Arus ini masuk melalui sarana modern perusahaan multinasional (multi national corporation = MNC).
2.3.1.2 Arus sumber daya pemerintah berupa bantuan luar negeri, baik secara bilateral maupun multilateral.
Neraca pembayaran dapat dibedakan kepada dua bagian utama, yaitu transaksi berjalan, dan neraca modal.

            2.3.2 Fungsi Neraca Pembayaran
Neraca pembayaran memiliki fungsi sebagai berikut :
2.3.2.1 Sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam mengambil langkah-langkah di bidang ekonomi.
2.3.2.2 Sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam mengambil kebijakan di bidang moneter dan fiskal.
2.3.2.3 Sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam mengetahui pengaruh hubungan ekonomi internasional terhadap pendapatan nasional.
2.3.2.4 Sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam mengambil kebijakan di bidang politik internasional.[16]


2.3.3 Jenis-jenis Neraca Pembayaran
2.3.3.1 Transaksi berjalan (current account)
Transaksi berjalan mencatat transaksi-transaksi berikut :
            2.3.3.1.1 Neraca ekspor dan impor barang tampak
Transaksi ini meliputi hasil-hasil sektor pertanian, barang-barang produksi industri, dan barang-barang yang diproduksikan oleh sektor pertambangan dan berbagai jenis ekspor dan impor barang tampak lainnya.[17]
Selisih di antara nilai ekspor dan nilai impor dinamakan neraca perdagangan. Surplus dalam neraca perdagangan berarti ekpor melebihi impor, dan apabila keadaan yang sebaliknya berlaku maka perekonomian itu menghadapi defisit neraca perdagangan.[18]
Perimbangan yang terjadi di antara seluruh transaksi yang tergolong dalam transaksi berjalan dinamakan neraca transaksi berjalan (neraca berjalan).[19]
Apabila nilai neraca itu positif (surplus), ia berarti bahwa ekspor barang-barang tampak adalah melebihi impornya. Sebaliknya, apabila ia negatif (defisit), maka ia berarti bahwa impor melebihi ekspor.
2.3.3.1.2 Neraca ekspor dan impor barang tak tampak
Transaksi ini meliputi pembayaran biaya pengangkutan dan asuransi dari barang-barang tampak yang diekspor atau diimpor, perbelanjaan para pelancong, dan pendapatan investasi (yang meliputi keuntungan, bunga ke atas modal yang diinvestasikan, dan deviden).
Neraca perdagangan tak tampak, yaitu nilai bersih ekspor dan impor jasa-jasa, dinamakan neraca jasa.
Nilai neraca jasa sesuatu negara, apabila  postif berarti negara tersebut lebih banyak menjual jasa-jasanya ke luar negeri daripada membeli jasa-jasa dari luar negeri. Dan apabila nilainya negative (masalah ini juga dihadapi oleh neraca pembayaran Indonesia), ia berarti bahwa negara itu lebih banyak membeli jasa pihak-pihak luar daripada menjual jasanya ke luar negeri.
2.3.3.1.3 Pembayaran pindahan
Ini meliputi pembayaran pindahan yang dilakukan oleh pemerintah maupun pihak swasta. Transaksi ini meliputi pembayaran di mana penerimanya tidak perlu “membayar” dalam bentuk uang atau jasa.
Contoh-contoh dari pembayaran pindahan adalah bantuan uang suatu negara Arab ke Afganistan, atau bantuan bahan makanan Amerika Serikat ke penderita kelaparan di Afrika. Mengirimkan uang untuk membiayai perbelanjaan anak-anak bersekolah di luar negara, dan lain sebagainya.[20]
2.3.3.2 Neraca modal (capital account)
Neraca modal meliputi dua golongan transaksi, yaitu aliran modal jangka panjang dan aliran modal keuangan swasta.
2.3.3.2.1 Aliran modal jangka panjang (aliran modal pemerintah)
Aliran modal jangka panjang meliputi aliran modal resmi dan investasi langsung oleh pihak swasta ke negara-negara lain.
Aliran modal resmi adalah pinjaman dan pembayaran di antara badan-badan pemerintah di suatu negara dengan negara-negara lain. Ini biasanya berupa pinjaman dan bantuan dari negara-negara asing yang diberikan kepada pemerintah atau badan-badan pemerintah. Misalnya, pinjaman untuk membangun irigasi termasuk dalam golongan transaksi ini.[21]
Sedangkan investasi langsung swasta adalah penanaman modal langsung, yaitu investasi berupa mendirikan perusahaan-perusahaan, terutama perindustrian.
Modal yang dibelanjakan diperoleh dari negara asal perusahaan tersebut. Perbedaan di antara modal jangka panjang yang diterima dari luar negeri dengan modal jangka panjang yang dibayarakan ke luar negeri dinamakan neraca modal jangka panjang.[22]
Apabila nilainya positif, keadaan ini berarti lebih banyak modal jangka panjang yang diterima dari luar negeri dari yang dibayarkan ke luar negeri. Aliran seperti itu membantu memperkukuh neraca pembayaran. Di samping itu aliran modal jangka panjang dapat meningkatkan perbelanjaan pembangunan pemerintah dan investasi sektor swasta.
2.3.3.2.2 Modal swasta dan kesilapan-ketinggalan
Dua akaun penting lain dalam neraca pembayaran meliputi “modal swasta” dan “kesilapan dan ketinggalan”.
Modal swasta adalah aliran-aliran modal dalam bentuk tabungan atau investasi keuangan yang dapat dengan cepat ditukarkan kembali kepada valuta yang asal atau valuta lainnya. Aliran keuangan ini selalu dinamakan juga sebagai “hot money” Dinamakan demikian, karena dana dana tersebut dapat mengalir dari satu negara ke negara lain dnegan mudah dan dalam waktu yang cepat. Uang tersebut biasanya meliputi uang ke negara lain dengan mudah dan dalam waktu yang cepat. Uang terebut biasanya meliputi uang yang diinvestasikan di pasaran uang dan pasaran modal untuk memperoleh keuntungan dari investasi tersebut. Salah satu contoh dari aliran masuk modal swasta, misalnya pembelian saham-saham domestic oleh suatu perusahaan “mutual funds” di New York.[23]
Aliran modal swasta ini dibedakan ke dalam tiga jenis, yaitu : investasi langsung, investasi portofolio, dan amortisasi.[24]
2.3.3.2.2.1 Investasi langsung adalah investasi untuk mengembangkan perusahaan-perusahaan.
2.3.3.2.2.2 Investasi portofolio adalah investasi dalam bentuk membeli saham-saham di negara lain.
2.3.3.2.2.3 Amortisasi adalah pembelian kembali saham-saham atau kekayaan lain yang pada masa lalu telah dijual kepada penduduk negara-negara lain.
Surplus dalam neraca modal, yang dinamakan juga dengan istilah aliran neto modal masuk (net capital inflow) berarti lebih banyak modal yang mengalir masuk ke suatu negara. Keadaan sebaliknya dinamakan defisit neraca modal atau aliran neto modal ke luar (net capital outflow), yang berarti lebih banyak modal yang mengalir ke luar suatu negara.
Akaun kesilapan dan ketinggalan merupakan akaun yang menkasir besarnya aliran uang yang tidak dapat dicatat. Dalam setiap neraca pemabayaran perlu ada akaun kesilapan dan ketinggalan untuk memastikan agar perhitungan aliran ke luar dan aliran masuk adalah seimbang. Misalnya, anda membawa uang Rp.100.000. Ketika anda hitung sisa uang setelah dibelanjakan, sisanya adalah Rp. 40.000. Akan tetapi, dalam ingatan anda yang dibelanjakan hanyalah Rp. 50.000. Berarti anda tidak mengetahui bagaimana uang sebanyak Rp. 10.000 lagi digunakan. Dalam neraca pemabayaran kesalahan yang seperti ini dicatat dalam akaun “kesilapan dan ketinggalan”.

2.3.4 Tahap – tahap Neraca Pembayaran
Perjalanan sejarah ekonomi beberapa negara industry maju memperlihatkan bahwa pertumbuhan neraca pembeyaran mereka, mjlai dari negara debitur muda sampai ke negara kreditur madya, terjadi melalui empat tahap. Rangkaian tahapan ini ditemukan pada beberapa negara maju Amerika Utara, Eropa dan Asia Tenggara, dengan beragai variasi sejarah ekonominya. Kita dapat mengilustrasikan tahapan-tahapan ini dengan membahas secara singkat sejarah neraca pembayaran Amerika Serikat.[25]
Berikut adalah beberapa tahapan neraca pembayaran, yaitu :
                        2.3.4.1 Negara debitur muda yang sedang tumbuh
Sejak masa Perang kemerdekaan sampai satelah Perang Saudara, Amerika lebih banyak mengimpor daripada mengekspor. Selisih diantara keduanya ditutup dengan pinjaman dari Eropa, sehingga memungkinkan negara tersebut memupuk modalnya. Keadaan Amerika Serikat pada waktu itu persis sama dengang negara debitur muda yang sedang berkembang.
2.3.4.2 Negara debitur madya
            Sejak 1873 sampai 1914, neraca perdagangan Amerika bergerak menjadi surplus. Akan tetapi, pertumbuhan deviden dan bunga yang harus dibayarakan ke luar negeri dari pinjaman masa lalu, menjadikan neraca modalnya kurang lebih seimbang. Pergerakan modal juga kurang lebih seimbang karena pemberian pinjamannya kurang lebih sama dengan peminjaman.
            2.3.4.3 Negara kreditur baru
            Dalam masa Perang Dunia I, Amerika mengembangkan ekspornya dalam jumlah yang luar biasa. Warga dan pemerintah negara Amerika meminjamkan uang kepada sekutu-sekutunya, Inggris dan Perancis untuk membiayai peralatan perang dan rehabilitasi pasca perang. Sejak perang dunia itu, Amerika muncul sebagai negara kreditur.[26]
            2.3.4.4 Negara kreditur madya
Pada tahap keempat, pendapatan modal dan investasi luar negeri memberikan surplus cukup besar terhadap pos tak tampak (invisible), yang kemudian diseimbangankan dengan defisit neraca perdagangan. Pola ini terjadi di Amerika Serikat sampai awal tahun 1980-an. Beberapa negara seperti Jepang dan Jerman Barat pada saat ini memainkan peran sebagai negara kreditur madya, karena mereka menikmati surplus transaksi berjalan yang cukup besar, yang selanjutnya mereka investasikan kembali ke luar negeri.
            Anehnya, Amerika Serikat sekarang ini telah keluar dari tahap negara kreditur madya Sekali lagi Amerika Serikat menjadi negara debitur, karena meminjam sejumlah besar dana dari negara yang besar pada tahap 4. Berbeda dari tahap 1, pinjaman ini sekarang diperuntukkan bagi keperluan konsumsi daripada keperluan investasi.[27]
Beberapa ekonomon khawatir apakah Amerika Serikat telah memasuki tahap kelima, yaitu sebagai debitur lemah. Mereka melihat bahwa di bawah kebijakan uang yang ketat dan defisit pemerintah yang tinggi pada 1980-an telah menurunkan tabungan nasional. Pada saat ini Amerika Serikat tidak dapat memperoleh jumlah tabungan yang cukup untuk keperluan modal, dan harus menarik penduduk negara lain agar mau menabung di Amerika. Penyeimbangan tabungan negatif Amerika adalah orang asing, terutama para investor Jepang, yang membeli asset-aset Amerika Serikat dalam jumlah sangat besar untuk portofolio mereka.

2.3.5 Debet Dan Kredit Dalam Neraca Pembayaran
Sama seperti neraca lainnya dan sesuai dengan prinsip akuntasi pada umumnya, neraca pembayaran juga mencatat transaksi plus dan minus. Transaksi plus disebut kredit, sedangkan transaksi minus disebut debet.
            Secara umum, ekspor tecatat sebagai kredit (transaksi plus), sedangkan impor, sebaliknya, tercatat sebagai debet. Apakah suatu transaksi itu plus atau minus tergantung pada sifatnya sebagai sumber valuta asing (foreign currencies) atau mata uang negara lain.
Ingatlah bahwa suatu transaksi tergolong transaksi plus atau kredit apabila transaksi itu menghasilkan tambahan valuta asing bagi suatu negara, misalnya : ekspor jelas menghasilkan mata uang dari negara pembeli sehingga ekspor tergolong kredit. Sebaliknya, suatu transaksi disebut debet atau transaksi minus, apabila transaksi itu mengakibatkan berkurangnya cadangan valuta asing suatu negara, contohnya impor.[28]


2.3.6 Surplus Dan Defisit Dalam Neraca Pembayaran
Apabila jumlah penerimaan lebih besar dari jumlah pembayaran atau utang (transaksi kredit > transaksi debet), berarti terjadi surplus dalam neraca pembayaran (surplus in the balance of payments). Hal ini berarti bahwa setiap penerimaan yang diterima oleh Indonesia adalah merupakan pos surplus. Misalnya penjualan minyak dan garmen Indonesia ke luar negeri, pembayaran orang luar negeri bagi lisensi music Indonesia, pensiun dari luar negeri yang diterima oleh penduduk Indonesia, dan pembelian luar negeri akan saham PT. Semen Cibinong[29]
Neraca pembayaran yang surplus secara ekonomi akan berpengaruh terhadap tingkat harga dalam negeri, yaitu pengaruh inflator atau mendorong ke arah inflasi atau kenaikan harga. Hal ini disebabkan oleh penambahan permintaan efektif. Untuk mengatasi permintaan tersebut, produksi harus ditingkatkan sehingga dapat menciptkan lapangan pekerjaan baru atau tambahan Jika penambahan permintaan efektif itu tidak dapat diimbangi dengan penambahan produksi, maka barang-barang diambil dari pasar dalam negeri untuk dijual ke luar negeri sehingga yang naik hanya harganya saja, bukan produksi dan kesempatan kerja.
Sedangkan apabila jumlah pembayaran atau utang lebih besar dari jumlah penerimaan (transaksi kredit < transaksi debet), berarti terjadi  defisit dalam neraca pembayaran (deficit in the balance of payments). Aturan sederhana untuk perhitungan neraca pembayaran adalah bahwa setiap transaksi yang menimbulkan pembayaran oleh penduduk Indonesia misalnya merupakan pos defisit. Misalnya impor mobil, penggunaan pelayaran asing, hadiah kepada orang asing, pembelian tanah di Hongkong, atau deposito pada bank Swiss semuanya merupakan contoh dari pos defisit. Defisit ini harus ditutup dengan pemabayaran devisa sehingga cadangan devisa atau stock nasional akan menipis, atau ditutup dengan kredit bank atau diselesaikan melalui IMF (International Monetary Fund).
Apabila neraca pembayaran mengalami defisit, produsen dalam negeri tidak dapat bersaing dengan barang-barang impor yang sangat melimpah, utang negara bertambah besar, pendapatan semakin sedikit, pengusaha banyak yang gulung tikar, pekerja banyak yang di PHK, dan pengangguran meningkat. Hal ini disebut sebagai pengaruh deflator atau mendorong kea rah deflasi penurunan harga.[30]
Keseluruhan surplus neraca pembayaran adalah total jumlah dari surplus transaksi berjalan ditambah surplus transaksi modal. Jika kedua pos tersebut, mengalami defisit, maka total keseluruhan neraca pembayaran akan mengalami defisit pula. Jika salah satunya mengalami surplus sedangkan yang lain mengalami defisit dalam jumlah yang berimbang, keseluruhan neraca pembayaran adalah sama dengan nol atau tidak mengalami surplus dan tidak pula mengalami defisit.[31]

2.3.7 Cadangan Valuta Asing
Aliran pembayaran dan investasi yang masuk ke dalam suatu negara pada suatu waktu tertentu biasanya berbeda dengan aliran ke luar untuk pemabayaran dan investasi ke luar negeri. Perbedaan di antara keduanya dinamakan neraca keseluruhan.[32]
Apabila neraca keseluruhan bernilai positif, artinya adalah aliran pembayaran dan investasi ke suatu negara melebihi aliran yang masuk ke negara-negara lain. Dengan demikian, sebaliknya, nilai negatif menggambarkan bahwa aliran ke luar melebihi aliran yang masuk.
Dalam keadaan di mana sesuatu negara lebih banyak membuat pembayaran ke luar negeri kalau dibandingkan dengan penerimaannya, maka bank sentral harus mengurangi cadangan valuta asingnya untuk melakukan pembayaran tersebut. Sebaliknya, apabila yang diterima dari negara-negara lain adalah lebih banyak dari yang harus dibayar, maka cadangan valuta asing akan bertambah.
Dalam informasi mengenai “perubahan cadangan bank sentral”, yang ditunjukkan adalah :
2.3.7.1 Jumlah perubahan cadangan tersebut dalam satu tahun tertentu
2.3.7.2 Banyaknya jumlah perubahan dari tiap-tiap jenis harta bank sentral.

2.3.8 Neraca Pembayaran Selalu Seimbang
Suatu neraca pembayaran akan selalu seimbang, apabila aliran uang dan modal ke luar negeri adalah sama dengan aliran uang dan modal yang masuk ke negara tersebut.[33]
Ini tidak berari bahwa neraca berjalan selalu dalam keadaan seimbang, dan begitu pula neraca modal selalu dalam keadaan seimbang. Yang menyebabkan neraca pembayaran yang selalu seimbang adalah ketidakseimbangan dalam neraca berjalan dan neraca modal, akan diseimbangkan oleh perubahan cadangan valuta asing yang dimiliki oleh bank sentral.
Ketidakseimbangan dalam neraca pembayaran yang terjadi biasa disebabkan oleh ekspor yang hanya terdiri dari satu atau dua jenis barang saja, sedangkan impor terlalu banyak. Atu dapat pula disebabkan karena biaya produksi terlalu jauh berbeda dengan negara-negara lain. Dalam situasi seperti ini, pemerintah perlu mengambil tindakan tertentu, seperti devaluasi, pembatasan impor, dan usaha menggalakkan ekspor.[34]
Untuk menjelaskan maksud rumusan di atas, perhatikan contoh berikut (nilai-nilai dalam triliun rupiah) :
Neraca berjalan                                                                       +  40
Neraca modal jangka panjang                                                 +  20
Modal keuangan swasta                                                          -  30
Neraca keseluruhan                                                              +  30
Perubahan cadangan mata uang asing bank sentral                -  30
Contoh di atas menggambarkan bahwa dalam neraca berjalan terdapat surplus sebanyak Rp 40 triliun dan aliran modal jangka panjang memperoleh surplus sebanyak Rp 20 triliun. Dalam aliran modal keuangan swasta terdapat defisit sebanyak Rp 30 triliun, dan ini menyebabkan neraca keseluruhan hanya memperoleh surplus sebanyak Rp 30 triliun. Surplus dalam neraca keseluruhan ini berarti : negara itu menerima Rp 30 triliun dari negara-negara lain. Ini menyebabkan cadangan valuta asing bank sentral bertambah dengan jumlah yang sama. Akibat dari pertambahan cadangan ini maka neraca pembayaran telah menjadi seimbang, yaitu aliran uang dan modal yang masuk dan yang keluar adalah telah sama banyak.
Catatan : dalam neraca pembayaran tanda negative (-) dalam perubahan cadangan valuta asing menggambarkan pertambahan cadangan, dan tanda positif (+) berarti pengurangan cadangan valuta asing bank sentral.[35]

2.3.9 Mekanisme Neraca Pembayaran[36]
Ada tiga jenis mekanisme yang berpengaruh terhadap neraca pembayaran suatu negara, yaitu :
                        2.3.9.1 Mekanisme harga
Mekanisme harga bekerja melalui pengaruh perubahan harga-harga terhadap ekspor dan impor. Mekanisme harga dalam sistem standar emas penuh adalah contoh terbaik untuk menggambarkan bekerjanya mekanisme harga. Bila terjadi surplus neraca pembayaran, stok uang dalam negeri akan meningkat, harga dalam negeri akan naik, dan penduduk negara tersebut akan meningkatkan impornya serta menurunkan ekspornya. Selama surplus belum hilang, impor akan terus meningkat dan ekspor akan menurun, dan akhirnya neraca pembayaran akan kembali seimbang. Dalam sistem moneter lain, mekanisme harga juga masih bekerja, meskipun tidak sesempurna dalam sistem standar emas penuh. Elatisitas harga dari penawaran ekspor dan permintaa impor sangat menentukan efektivitas mekanisme harga dalam membawa kembali neraca pembayaran kea rah keseimbangan. Karena adaknya berbagai faktor penghambat, sekarang para ekonom beranggapan bahwa mekanisme harga saja tidak bisa diandalkan untuk mengatasi ketimpangan neraca pembayaran yang besar.
2.3.9.2 Mekanisme pendapatan
Mekanisme pendapatan bekerja melalui proses pengganda (multiplier). Kenaikan ekspor, melalui pengganda, akan menimbulkan kenaikan pendapatan nasional. Selanjutnya, kenaikan pendapatan nasional akan meningkatkan impor melalui kecenderungan mengimpor (prospensity to import). Namun, kenaikan impor ini tidak akan sebesar kenaikan ekspor yang mengakibatkannya, ini berarti bahwa mekanisme pendapatan saja tidak bisa membawa neraca pembayaran ke posisi keseimbangan kembali secara penuh.
2.3.9.3 Mekanisme moneter
Mekanisme moneter bekerja melalui stok uang di dalam negeri sebagai akibat dari perubahan keadaan atau kebijakan. Bila ekspor naik dan terjadi surplus neraca pembayaran, stok uang dalam negeri akan meningkat, pendapatan nasional akan meningkat, dan akhirnya impor meningkat. Ini adalah mekanisme moneter menurut Keynes. Mekanisme moneter menurut golongan monetarist member tekanan pada apa yang terjadi denga stok uang riil atau real balance. Bila real balance meningkat, pengeluaran akan meningkat, dan impor juga meningkat. Bila kenaikan stok uang diimbangi dengan kenaikan harga, real balance bisa naik atau turun, sehingga impor pun akan tetap atau turun. Mekanisme moneter tidka bisa membawa neraca pembayaran ke posisi seimbang penuh.

2.3.10 Neraca Perdagangan Dan Pembayaran Indonesia
Setiap negara, dalam menyusun data neraca pemabayarannya, membuat klasifikasi yang agak berbeda dalam mengemukakannya.
Misalnya, di Indonesia neraca pembayaran disusun dalam tabel berikut :
Neraca pembayaran Indonesia pada tahun 1996/1997 dan 2000/2001 (juta dolar US)[37]
Jenis mutasi keuangan
1996/1997
2000/2001
A.    Transaksi Berjalan


1.      Ekspor/Impor barang


             a. Ekspor

52.038

65.408
i. Non-Migas

(39.267)

(50.341)
                ii. Migas

(12.771)

(15.067)
-          Minyak
(7.513)

(7.954)

-          Gas
(5.258)

(7.113)

            b. Impor

45.819

40.367
i. Non-Migas

(41.126)

(34.376)
                ii. Migas

(4.693)

(5.989)
-          Minyak
(4.423)

(5.653)

-          LNG
(270)

(336)

Neraca Perdagangan
                            6.219
                      25.041
2.      Ekspor/Impor jasa-jasa (neto)

-14.288

-17.050
a.       Non-Migas

(-10.747)

(-12.500)
b.      Migas

(-3.541)

(-4.550)
Neraca Transaksi Berjalan
                  -8.069
                       -7.991
B.     Transaksi Modal




1.      Modal pemerintah (neto)

-820

3.218
a.       Penerimaan

5.298

7.490
                i. CGI

(4.857)

(2.420)
ii. Di luar CGI

(441)

(5.070)
b.      Pelunasan

-6.118

-4.272
2.      Modal swasta (neto)

13.488

-9.990
a.       Penanaman modal langsung

(6.546)

(-4.551)
b.      Lainnya

(6.592)

(-5.439)
3.      Jumlah (1) + (2)

12.668

-6.772
C.    Selisih Perhitungan

701

3.824
Neraca Keseluruhan
                   3.898
                   5.043

Data yang dikemukakan adalah tahun 1996/1997, yaitu tahun sebelum krisis moneter melanda Indonesia, dan tahun 2000/2001. Data tersebut dapat memberi gambaran kasar tentang bagaimana bentuk hubungan ekonomi Indonesia dengan negara-negara lain sebelum dan sesudah krisis moneter. Susunan neraca pembayaran ini dapat dibedakan kepada tiga golongan mutasi keuangan, yaitu :
2.3.10.1 Transaksi berjalan[38]
Data ini dibedakan kepada dua golongan : ekspor dan impor barang, dan ekspor-impor neto jasa-jasa. Seterusnya setiap golongan data ini dibedakan pula kepada ekspor dan impor non-migas dan migas.
Pada tahun 1996/1997 ekspor Indonesia berjumlah US$ 52,04 milyar dan meningkat menjadi US$ 65,4 milyar pada tahun 2000/2001. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh perkembangan ekspor non-migas, yaitu dari US$ 39,3 milyar pada tahun 1996/1997 menjadi US$ 50,3 milyar pada tahun 2000/2001. Ekspor migas hanya mengalami kenaikan sebanyak kurang lebih US$ 2,3 milyar dan pertambahan tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan ekspor gas alam.
Dalam periode yang sama impor merosot dari US$ 45,8 milyar menjadi US$ 40,4 milyar dan penurunan ini terutama disebabkan oleh pengurangan impor non-migas, yaitu dari US$ 41,1 milyar kepada US$ 34,4 milyar. Sedangkan impor migas mengalami kenaikan dari US$ 4,7 milyar menjadi hampir US$ 6 milyar.
Perkembangan ekspor dan impor seperti yang diterangkan di atas menyebabkan dalam periode di atas neraca perdagangan mengalami perbaikan yang sangat signifikan, yaitu surplusnya meningkat dari US$ 6,2 milyar menjadi US$ 25,0 milyar. Perbaikan dalam neraca perdagangan ini menimbulkan efek yang positif terhadap neraca transaksi berjalan, yang mengalami defisit dalam tahun 1996/1997 (sebanyak lebih dari US$ 8 milyar) tetapi mengalami surplus pada tahun 2000/2001 (sebanyak hampir US$ 8 milyar). Defisit ekspor dan impor jasa neto meningkat dari US$ 14,3 milyar menjadi US$ 17,1 milyar.

2.3.10.2 Transaksi modal[39]
Transaksi berjalan memberikan gambaran tentang nilai transaksi yang diakibatkan oleh kegiatan perdagangan barang dan jasa. Dengan demikian data yang ditunjukkan menggambarkan nilai barang (seperti karet, minyak, dan hasil industri manufaktur) dan jasa (seperti pelancongan, keuntungan dari investasi di luar negeri dan biaya pengangkutan) yang diperdagangkan. Sedangkan transaksi modal menggambarkan aliran ke laur masuk modal di antara Indonesia dengan negara-negara lain.
Data transaksi modal dibedakan kepada dua kelompok yaitu : nilai neto aliran modal kepada pemerintah, dan nilai neto aliran swasta.
Berbeda dengan perkembangan dalam neraca perdagangan yang menunjukkan perbaikan yang cukup menggalakkan, transaksi modal menunjukkan arah aliran (trend) yang cukup memprihatinkan. Data yang ditunjukkan memberikan gambaran seperti berikut :
2.3.10.2.1 Pinjaman pemerintah semakin meningkat dan pembayaran utang semakin merosot. Pada tahun 1996/1997 penerimaan pinjaman pemerintah berjumlah hampir US$ 5,3 milyar dan meningkat menjadi US$ 7,5 milyar pada tahun 2000/2001. Sedangkan pelunasan hutang merosot dari US$ 6,1 milyar menjadi US$ 4,3 milyar.
2.3.10.2.2 Aliran modal swasta menunjukkan gambaran yang lebih suram. Pada tahun 1996/1997 aliran masuk neto modal swasta mencapai US$ 13,5 milyar dan terdiri dari lebih US$ 6,5 milyar aliran penanaman modal langsung dan hampir US$ 6,6 milyar aliran modal lainnya. Arah alirannya (trend-nya) menjadi terbalik pada tahun 2000/2001, yaitu aliran modal neto mengalami desifist hampir sebesar US$ 10 milyar, yang terbagi kepada defisit hampir sebesar US$ 4,6 milyar dalam aliran penanaman modal langsung dan sebesar US$ 5,4 milyar dalam defisit aliran modal lainnya.
2.3.10.2.3 Perkembangan aliran modal yang diterangkan pada 2.3.10.2.1 dan 2.3.10.2.2 menggambarkan pembalikan total terhadap trend aliran modal ke Indonesia. Pada tahun 1996/1997, aliran masuk neto (yang merupakan gabungan aliran neto modal pemerintah dan modal swasta) berjumlah US$ 12,7 milyar. Pada tahun 2000/2001 aliran neto modal telah mengalami defisit sebesar hampir US$ 6,8 milyar.
2.3.10.3 Selisih perhitungan[40]
Nilai selisih perhitungan meningkat dari US$ 701 menjadi lebih dari US$ 3,8 milyar. Pertambahan ini menggambarkan aliran modal yang aliran modal yang tidak dicatat semakin meningkat. Nilainya yang positif berarti pada tahun 2000/2001 aliran modal masuk ke Indonesia yang tidak dicatat semakin meningkat dan jumlahnya cukup besar.
2.3.10.4 Neraca keseluruhan[41]
Neraca keseluruhan menggambarkan jumlah aliran neto yang di catat di ketiga kelompok transaksi berjalan, transaksi modal, dan selisih perhitungan. Walaupun aliran modal dan ekspor dan impor jasa menggambarkan keadaan yang kurang menggalakkan dan memprihatinkan, neraca keseluruhan masih menunjukkan gambaran yang semakin membaik. Surplus neraca keseluruhan meningkat dari hampir US$ 4 milyar menjadi lebih dari US$ 5 milyar.
Faktor utama yang menyebabkan arah aliran yang menggalakkan tersebut adalah perbaikan dalam neraca perdagangan, yang telah mengalami peningkatan yang sangat besar. Surplus neraca perdagangan yang besar tersebut mampu menutupi defisit dalam neraca perdagangan jasa dan defisit dalam aliran modal. Surplus yang besar dalam neraca perdagangan menyebabkan pula perubahan neraca transaksi berjalan dari defisit menjadi surplus.
Dalam neraca pembayaran tahun 2000/2001 menunjukkan : walaupun neraca keseluruhan dalam keadaan surplus, akan tetapi kedudukannya kurang kukuh. Apabila perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat kembali, impor akan mengalami kenaikan yang pesat. Begitu juga ekspor-impor jasa neto defisitnya akan semakin meningkat. Seterusnya pengaliran modal pemerintah (yaitu kecondongan pemerintah untuk menjamin dari negara lain) belum tentu dapat dikurangi. Apabila hal-hal yang dinyatakan ini berlaku, kedudukan neraca pemabayaran yang kukuh hanya mungkin berlaku apabila neraca perdagangan dan aliran modal swasta semakin bertambah kukuh. Menciptakan hal tersebut merupakan tanggung jawab kita bersama (pemerintah, administrasi pemerintahan, pengusaha dan juga masyarakat pada umumnya).
Sebagai contoh, aliran modal bukan saja memerlukan kestabilan ekonomi dan prospek keteguhan sektor moneter, tetapi juga bergantung kepada kestabilan politik dan social masyarakat. Seterusnya neraca perdagangan yang yang bertambah baik, memerlukan perkembangan ekspor yang pesat. Di samping para pengusaha perlu ke arah itu, dorongan sangat diperlukan.


2.4 Kurs Pertukaran Dan Neraca Pembayaran
Sistem penentuan valuta asing menimbulkan efek yang sangat berbeda ke atas neraca pembayaran. Sistem kurs pertukaran yang ditentukan oleh mekanisme pasar berkecenderungan akan menyebabkan ketidakseimbangan yang terus-menerus dalam neraca pembayaran, sedangkan kurs pertukaran yang diterapkan oleh pemerintah berkecenderungan menimbulkan neraca pembayaran yang tidak seimbang. Berikut adalah hal-hal yang penyebab kecenderungan tersebut, yaitu :
2.4.1 Neraca Pembayaran Dalam Sistem Kurs Tukaran Berubah Bebas[42]
                       
Bagaimana sistem kurs berubah bebas berkecenderungan untuk menyeimbangkan neraca pembayaran, dapat diterangkan dengan bantuan gambar 12.4.
Kurva DD menggambarkan permintaan penduduk Indonesia ke atas mata uang baht Thailand, dan kurva SS menggambarkan keinginan penduduk Thailand menawarkan baht mereka kepada penduduk Indoensia.
Berdasarkan kepada persilangan di antara kurva DD dan SS maka dapat disimpulkan bahwa kurs pertukaran adalah 1 baht = 200 rupiah. Pada kurs pertukaran ini (yang digunakan mengimpor barang dari Thailand) adalah sama dengan penawaran baht (yang akan digunakan oleh penduduk Thailand untuk mengimpor barang dari Indonesia), yaitu sebanyak Q1 baht. Maka neraca pembayaran adalah seimbang.
Perubahan dalam citarasa penduduk Thailand menyebabkan mereka ingin mengimpor lebih banyak barang dari Indonesia. Perubahan ini menyebabkan penawaran baht bertambah dari SS menjadi S1S1. Akan  tetapi permintaan Indonesia terhadap baht tetap seperti yang ditunjukkan oelh kurva DD. Maka harga baht merosot. Kurs pertukaran yang sekarang adalah menjadi satu baht sama dengan 100 rupiah.
Gambar 12.4 menunjukkan bahwa perubahan citarasa penduduk Thailand dan perubahan kurs pertukaran menyebabkan impor Thailand dari Indonesia bertambah dari Q1 menjadi Q2. Pada waktu yang sama, nilai baht merosot menyebabkan barang Thailand menjadi relatif lebih murah. Maka penduduk Indonesia menaikkan impornya. Sebagai akibatnya impor Thailand dari Indonesia yang semakin bertambah akan diimbangi oleh pertambahan impor Indonesia dari Thailand. Pada akhirnya, neraca pembayaran masih tetap seimbang.
2.4.2 Neraca Pembayaran Dalam Sistem Kurs Pertukaran Tetap[43]
                       
Gambar 12.5 menunjukkan permintaan dan penawaran ke atas dolar US di antara Amerika Serikat dan Indonesia.
Kurva SS menggambarkan jumlah valuta dolar yang ditawarkan oleh penduduk Amerika Serikat kepada penduduk Indonesia. Sedangkan kurva DD menggambarkan permintaan penduduk Indonesia ke atas dolar US. Maka apabila kurs pertukaran ditentukan oleh pasar bebas, setiap unit dolar US adalah sama dengan Rp. 10.000. Pada kurs pertukaran ini sebanyak Q0 dolar akan diperjualkan di antara penduduk Indonesia dan Amerika Serikat. Seperti yang telah diterangkan neraca pembayaran akan seimbang karena permintaan ke atas dolar US adalah sama dengan penawarannya.
Andaikan di Indonesia kurs pertukaran tidak ditetapkan oleh pasar bebas, tetapi ditetapkan oleh pemerintah. Berdasarkan kepada beberapa pertimbangan, selanjutnya misalkan pemerintah Indonesia menentukan bahwa kurs pertukaran di antara dolar US dan rupiah adalah satu dolar US sama dengan Rp. 12.500. Ditinjau dari segi pandangan Indonesia nilai tukaran yang ditetapkan oleh pemerintah ini adalah lebih rendah dari yang ditentukan oleh pasar bebas, karena dalam pasar bebas setiap dolar US dapat dibeli dengan harga Rp. 10.000. Dalam keadaan seperti ini rupiah Indonesia dinamakan mata uang yang dinilai terlalu rendah (undervalued). Sebaliknya apabila kurs pertukaran di antara dolar US dan rupiah adalah lebih baik (dari sudut pandangan penduduk Indonesia) dari yang ditetapkan oleh pasar bebas, misalnya kurs pertukaran yang ditetapkan adalah satu dolar US sama dengan Rp. 7.500, maka kurs pertukaran ini menyebabkan nilai rupiah dinamakan sebagai mata uang yang dinilai terlalu tinggi (overvalued).
Gambar 12.5 menunjukkan bahwa apabila kurs pertukaran yang ditetapkan adalah US$ 1,00 = Rp. 12.500, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam permintaan dan penawaran mata uang dolar. Pada kurs pertukaran tersebut QB dolar US ditawarkan oleh penduduk Amerika, sedangkan sebanyak QA dolar US diminta oleh penduduk Indonesia. Keadaan seperti ini berarti bahwa Indonesia mengalami surplus dalam neraca pembayara, karena penduduk Amerika menawarkan lebih banyak dolar US jika dibandingkan dengan jumlah doalr US yang diminta Indonesia. Secara umum dapat dibuat rumusan seperti ini, yaitu : oleh karena kurs pertukaran yang ditetapkan oleh pemerintah selalunya berbeda dengan kurs yang ditetapkan oleh pasar bebas, maka dalam sistem kurs pertukaran tetap, neraca pembayarn akan cenderung dalam keadaan tidak seimbang.


2.5 Kebijakan Pemerintah Dalam Ekonomi Terbuka
Dalam perkonomian terbuka, masalah yang dihadapi suatu negara menjadi lebih rumit, dan kebijakan yang perlu dirumuskan dan dilaksanakan pemerintah perlu dipikirkan dengan lebih baik.
Dalam perkonomian tertutup hanya dua masalah yang perlu dipikirkan pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi, yaitu masalah pengangguran dan masalah inflasi. Dalam perekonomian terbuka, di saping memperhatikan masalah tersebut harus pula diperhatikan efek dari kebijakan pemerintah yang dirumuskan terhadap neraca pembayaran dan kestabilan kurs pertukaran. Defisist dalam neraca pembayaran akan menimbulkan efek buruk terhadap kestabilan kurs pertukaran. Pada akhirnya kedua masalah itu akan menimbulkan efek buruk kepada masalah pengangguran dan kestabilan harga-harga.
Pada dasarnya masalah yang dihadapi oleh suatu perekonomian terbuka akan berbentuk salah satu dari empat masalah berikut, yaitu :
2.5.1 Perkonomian menghadapi masalah pengangguran, tetapi terdapat surplus dalam neraca pembayaran.
2.5.2 Perekonomian menghadapi masalah inflasi, tetapi terdapat surplus dalam neraca pembayaran.
2.5.3 Perekonomian menghadapi masalah pengangguran, dan di samping itu menghadapi masalah defisit dalam neraca pembayaran.
2.5.4 Perekonomian menghadapu masalah inflasi, dan di samping itu menghadapi masalah defisit dalam neraca perdagangan.
Dalam kasus pertama dan kedua neraca pembayaran adalah dalam keadaan menguntungkan (mempunyai surplus), maka yang perlu dipikirkan hanyalah mengatasi masalah pengangguran (untuk kasus pertama) atau inflasi (untuk kasus kedua).
Masalah yang harus dihadapi menjadi lebih rumit apabila bentuk masalah yang dihadapi adalah sama seperti dalam masalah ketiga dan keempat. Pengangguran atau  inflasi yang diikuti pula oleh masalah defisit dalam neraca pembayaran memerlukan langkah-langkah yang secara serentak akan :
2.5.1 Mengatasi masalah pengangguran dan defisit dalam neraca pembayaran, apabila perekonomian itu menghadapi masalah seperti yang dinyatakan dalam kasus ketiga. Kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah seperti itu biasanya berbentuk kebijakan memindahkan perbelanjaan.
2.5.2    Mengatasi masalah dan defisit dalam neraca pembayaran, apabila ekonomi itu menghadapi masalah seperti yang dinyatakan dalam kasus keempat. Kebijakan pemerintah yang dijalankan akan meliputi langkah-langkah yang digolongkan kepada kebijakan mengurangkan perbelanjaan.

2.5.1 Kebijakan Memindahkan Perbelanjaan[44]
Kebijakan memindahkan perbelanjaan adalah langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi masalah defisit dalam neraca pembayaran yang akan mengakibatkan pertambahan ekspor dan pengurangan impor. Kebijakan memindahkan perbelanjaan dijalankan apabila defisit neraca pembayaran wujud ketika perekonomian juga menghadapi masalah pengangguran. Kebijakan memindahkan perbelanjaan dapat dijalankan untuk mengatasi kedua masalah dia atas.
Langkah-langkah yang mengurangi impor dan mendorong konsumsi barang dalam negeri adalah seperti yang dinyatakan di bawah ini, yaitu :
2.5.1.1 Melakukan pembatasan impor
Ini dapat dilakukan dengan menaikkan pajak impor (tarif). Di samping itu dapat pula dijalankan dengan menggunakan kuota dan  melakukan kampanye untuk membeli barang dalam negeri.
2.5.1.2 Menekan (mengurangi penggunaan valuta asing)
Pemerintah (melalui bank sentral) mencatu penggunaan mata uang asing. Masyarakat dan para pengusaha haruslah menerangkan tujuan mereka membeli valuta asing. Pemerintah lebih mengutamakan pengguna valuta asing untuk mengimpor barang keperluan pokok dan bahan mentah sektor industri dan tidak mendorong usaha mengimpor barang-barang mewah.
2.5.1.3 Menurunkan nilai mata uang (devaluasi)
Langkah ini menyebakan barang impor menjadi lebih mahal, dan akan mengurangi impor. Sebaliknya barang ekspor menjadi murah di pasaran luar negeri dan akan menambah ekspor.
Langkah-langkah yang akan menambah ekspor sehingga menambah penerimaan valuta asing adalah :
2.5.1.1 Memberikan insentif fiskal dan moneter untuk menambahkan kegiatan dalam produksi barang ekspor.
Insentif-insentif ini antara lain adalah membina kawasan perusahaan dan kawasan bebas pajak (free trade zone), memberikan kemudahan pinjaman, atau memberi subsidi ekspor.


2.5.1.2 Mewujudkan kestabilan upah dan harga
Pertambahan ekspor sangat tergantung kepada kemampuan ekspor negara untuk bersaing di luar negeri. Salah satu faktor yang menentukan kapasitas bersaing adalah biaya produksi yang rendah. Untuk memasukkan agar biaya produksi tetap rendh, upah dan harga-harga barang dalam negeri perlu distabilkan.
2.5.1.3 Menurunkan nilai valuta
Seperti telah diterangkan di atas menurunkan nilai valuta bukan saja akan dapat mengurangkan impor tetapu juga akan menambahkan ekspor.

2.5.2 Kebijakan Pengurangan Perbelanjaan[45]
Kebijakan pengurangan perbelanjaan adalah langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi masalah kurangan dalam neraca permabayaran dengan mengurangi perbelanjaan agregat dan tingkat kegiatan ekonomi negara. Kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah dalam neraca pembayaran dengan cara “mengurangkan perbelanjaan” akan dilakukan apabila :
2.5.2.1 Perekonomian telah mencapai kesempatan kerja penuh dan di samping itu juga inflasi telah wujud.
2.5.2.2  Dalam perekonomian terdapat defisit yang berkepanjangan dalam neraca pembayaran.
Kebijakan “mengurangkan perbelanjaan” akan menurunkan impor, akan tetapi ekspor tidak akan dipengaruhi oleh kebijakan seperti itu. Keadaan ini akan mewujudkan neraca pembayaran yang menguntungkan atau seimbang. Kebijakan mengurangi perbelanjaan dapat dilaksanakan dengan mengambil langkah-langkah berikut :
                        2.5.2.1 Menaikkan pajak pendapatan
Pajak ini akan mengurangi pendapatan disposebel dan pengurangan ini akan mengurangi konsumsi rumah tangga.
2.5.2.2 Menaikkan suku bunga dan menurunkan penawaran uang
Tujuan ini dapat dicapai dengan menjalankan kebijakan moneter, misalnya dengan menaikkan tingkat cadangan minimum dan menaikkan suku bunga bank (suku diskonto). Pengurangan penawaran uang dan suku bunga yang tinggi akan mempengaruhi investasi. Keadaan ini selanjutnya mengurangi pengeluaran agregat.


DAFTAR PUSATAKA

Dornbusch, Rudiger dan Stanley Fischer. 1997. EKONOMI MAKRO Ed. 5 Cet. 2 Buku Pertama.  Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Dornbusch, Rudiger, Stanley Fischer, dan J. Mulyadi. 1987. MAKROEKONOMI Ed. 4. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Machmud, Amir. 2016. PEREKONOMIAN INDONESIA Pasca Reformasi. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Samuelson, Paul A., dan William D. Nordhaus. 1992. MAKROEKONOMI Ed. 14. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Sukirno, Sadono. 2015. Makroekonomi Teori Pengantar Ed. 3 Cet. 23. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Sukirno, Sadono. 2000. Makroekonomi Modern Perkembangan Pemikiran Dari Klasik Hingga Keynesian Baru Ed. 1 Cet. 2. Jakarta : PT. Raja Grafindo.
Sukirno, Sadono. 2000. Pengantar Teori Makroekonomi Ed. 2 Cet. 11. Jakarta : PT. Raja Grafindo.

0 Response to "Neraca Perdagangan dan Neraca Pembayaran"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel