-->

Ana' Dara Kallolona Wajo Perlu Berbenah




Status sebagai juara tentu menjadi dambaan bagi peserta yang berpartisipasi. Ada harapan dan usaha terbaik mengiringi setiap langkah. Masing-masing kompetisi tentunya memiliki keunikan tantangan tersendiri. Beda orang beda pula pengalaman dalam memori kenangannya.

Kurang lebih satu tahun yang lalu saya mendapatkan kesempatan mengikuti ajang pemilihan Ana’ Dara Kallolona Wajo 2019. Pada kegiatan ini putra putri terbaik ditingkat kabupaten akan dipertemukan, kemudian dipilih siapa diantara mereka yang pantas dianugerahi sebagai Ana’ Dara (Putri) Kallolo (Putra) Kabupaten Wajo.

Sambil mendengar suara hujan yang amat deras selama seharian, terbesit dari dalam diri saya malam ini untuk menuliskan beberapa tanggapan dan catatan, barangkali bisa menjadi bahan pertimbangan agar kegiatan tersebut selangkah lebih baik.
Sebelumnya saya memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada teman-teman yang merasa tersinggung atau kurang sependapat dengan apa yang saya tulis diparagraf berikut. Ini murni hanya secuil ungkapan pribadi saja, namun didalamnya ada harapan yang jauh lebih besar.

Kita harus memperhatikan esensi dan hakekat di ajang pemilihan Ana’ Dara Kallolona Wajo sebagaimana mestinya. Hal-hal yang sifatnya eksistensi seyogianya dikurangi. Kompetisi ini sangat berbeda teman-teman, ada jati diri daerah asal yang menjadi tanggung jawab moral bersama.

Apakah tampan, cantik, tinggi, pakaian mahal serta followers terbanyak disosial media kita jadikan sebagai tolak ukur sebagai kandidat juara? Tentu tidak. Apakah punya kedekatan dengan panitia, punya status sosial yang baik atau punya hubungan keluarga dengan pihak yang berkuasa (pemerintah kabupaten) kita jadikan standar pemenang? Tentu juga tidak.

Kemajuan suatu daerah ditentukan oleh generasi muda saat ini. jika hal-hal seperti diatas masih bertahan, berarti kita sangat tertinggal ditengah pesatnya perkembangan zaman dan gagal beradaptasi. Kita lebih mengedepankan eksistensi daripada esensi. Kita harus berhenti menjadi pemburu salempang agar mendapat pengakuan.

Fuetta’ Andi Ninnong Datu Tempe Petta Ranreng Tuona Wajo menyebutkan bahwasanya “Sipa’emi Paompo Assaleng” artinya hanya tabiatlah yang menunjukkan asal-muasal. Barangkali dengan kata-kata tersebut kita dapat memahami bahwa sejatinya para peserta dituntut agar mengkaji lebih dalam lagi tentang hakekat “To Wajo” itu sendiri, mulai dari pengetahuan sejarah, karakter, pola pikir serta bagaimana menyelesaikan masalah.

Dengan adanya bekal pengetahuan dasar tentang filosopi masyarakat Wajo tersebut, kemudian dikolaborasikan dengan kajian-kajian strategis yang menunjang aspek indikator kemajuan daerah, maka kita bisa menatap masa depan cemerlang Kabupaten Wajo dengan penuh keyakinan. Kita mampu bersaing melalui semangat kebersamaan “Yassiwajori” agar tidak menjadi penonton dirumah sendiri. Sinergitas antara pemuda dan pemerintah memberi angin segar bagi percepatan pembangunan daerah di berbagai bidang, khususnya mengharumkan nama daerah dimata dunia.

Diakhir tulisan ini, kita perlu menekankan bahwasanya kita semua sama dimata Tuhan. Jangan terlena dengan urusan duniawi. Status kita sebagai Hamba jauh lebih mulia dari segalanya. Celakalah jika hanya karena tidak ingin disaingi lantas kita saling menjatuhkan satu sama lain. Toh semua akan kita pertanggung jawabkan kelak InsyaAllah. Mari perbanyak Istigfar dan renungkan apa sesungguhnya tugas kita sebagai manusia.

Salama’ki





4 Responses to "Ana' Dara Kallolona Wajo Perlu Berbenah"

Anonymous said...

thnks kak ardi udh speak up, good luck!

Kak Ardi said...

Sama2, Salama'Ki πŸ˜‡

Andi mattalatta said...

mantap kak.. Ana'dara Kallolona Wajo bangga punya kak ardi.. Good Luck!

Kak Ardi said...

Lebih bangga lagi bisa kenal Ki DekπŸ˜‡πŸ˜‡ Salama'Ki NdiπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel